VITAMEDICA : JURNAL RUMPUN KESEHATAN UMUM Vol.2 No. 2 April 2024 e-ISSN: 3030-8992; p-ISSN: 3030-900X, Hal 01-07 DOI: https://doi.org/10.62027/vitamedica.v2i2.42 Gambaran Dispepsia pada Rawat Inap di Rumah Sakit Harapan Sehat pada tahun 2022 Adico Notareza Aulia Puskesmas Pante Ceureumen, Aceh Barat, Indonesia. Laila Apriani Hasanah Harahap Universitas Teuku Umar, Aceh Barat, Indonesia. Ilum Anam Konsultan Gastro Entero Hepatologi, Aceh Barat, Indonesia. Alamat: Puskesmas Pante Ceureumen, Aceh Barat, Indonesia . Korespondensi penulis: adico_notareza@yahoo.com Abstract. Dyspepsia is still the most common problem at every age. It causes discomfort in the stomach, nausea, vomiting and other complaints. Dyspepsia can also interfere with a person's life, causing the sufferer to have to rest or be hospitalized.This research was conducted at the Harapan Sehat private hospital in Meulaboh, West Aceh.This study uses a descriptive method, where data is taken based on the medical records of patients hospitalized at Harapan Sehat hospital throughout 2022. The data taken were patients diagnosed with dyspepsia and treated by an internal medicine specialist.In this study, 256 patients were admitted with a diagnosis of dyspepsia by an internal medicine doctor.The study found that dyspepsia cases were mostly experienced by women, with ages above 40 to 60 years old being the most common age. Meanwhile, patients underwent the most treatment period of 3 days. Keywords: Dyspepsia, Hospitalized, Harapan Sehat Hospital Abstrak. Dispepsia masih menjadi masalah yang paling umum terjadi pada setiap usia. Hal ini menyebabkan rasa tidak nyaman pada perut, mual, muntah dan keluhan lainnya. Dispepsia juga dapat mengganggu kehidupan seseorang, sehingga menyebabkan penderitanya harus beristirahat atau dirawat inap di rumah sakit. Penelitian ini dilakukan di rumah sakit swasta Harapan Sehat Meulaboh, Aceh Barat. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif, dimana data diambil berdasarkan rekam medik pasien yang dirawat inap di rumah sakit Harapan Sehat sepanjang tahun 2022. Data yang diambil adalah pasien yang didiagnosis menderita dispepsia dan ditangani oleh dokter spesialis penyakit dalam. Pada penelitian ini, terdapat 256 pasien yang dirawat dengan diagnosis dispepsia oleh dokter spesialis penyakit dalam. Penelitian ini menemukan bahwa kasus dispepsia paling banyak dialami oleh perempuan, dengan usia di atas 40 hingga 60 tahun sebagai usia yang paling banyak ditemukan. Sementara itu, pasien paling banyak menjalani masa perawatan selama 3 hari. Kata kunci : Dispepsia, Pasien Rawat Inap, Rumah Sakit Harapan Sehat Received Desember 08, 2023; Accepted Januari 08, 2024; Published Januari 31, 2024 * Adico Notareza Aulia adico_notareza@yahoo.com e-ISSN: 3030-8992; p-ISSN: 3030-900X, Hal 01-07 LATAR BELAKANG Penyakit tidak menular telah muncul sebagai pembunuh utama selama satu abad terakhir. Penyakit degeneratif yang disebabkan oleh gaya hidup, kualitas lingkungan yang tidak sehat, kondisi psikologis, stres, atau depresi yang berkepanjangan, telah menjadi penyebab utama kematian di seluruh dunia. Penyakit tidak menular mempengaruhi orang-orang dari segala usia, yang sebagian besar di antaranya berada di usia produktif [Herman, Murniati, 2019]. Kata "dyspepsia" (dari bahasa Yunani "dys" [buruk], "pepsis" [pencernaan]) merujuk pada berbagai gejala yang mungkin dirasakan pasien di bagian perut bagian atas dan daerah epigastrium (antara pusar dan xifoideus). Tanda dan gejalanya yakni ketidaknyamanan dan rasa terbakar pada epigastrium (60-70%), kembung setelah makan (80-85%), lebih cepat merasa kenyang (60-70%), rasa tegang dibagian epigastrium (80-85%), mual (60%), dan muntah (40%). Gejala dispepsia dapat bersifat menetap atau akut, seperti pada kasus gastroenteritis. Pada kasus yang berat, masalah biologis atau fisiologis yang mendasari (seperti maag, refluks esopageal, penyakit pankreas, penyakit jantung, atau penyakit otot) mungkin menjadi penyebabnya. Dua puluh hingga tiga puluh persen pasien dispepsia menjalani tes diagnostik dan memiliki riwayat penyakit lain [Stanghellini et al., 2019]. Data prevalensi mengenai dispepsia sangat bervariasi di antara berbagai populasi. Pasien dengan dispepsia dapat berasal dari berbagai usia, jenis kelamin, ras atau suku, maupun status sosial ekonomi. Prevalensi usia yang tepat untuk dispepsia belum dapat ditentukan oleh hasil beberapa survei. Menurut penelitian tertentu, dispepsia lebih banyak terjadi pada kelompok usia yang lebih muda di Asia. Di Jepang, prevalensinya adalah 13% dan 8% untuk kelompok usia di bawah dan di atas 50 tahun. Di Cina, prevalensi tertinggi adalah pada kelompok usia antara 41 dan 50 tahun. Di Mumbai, India, insiden tertinggi terjadi pada orang yang berusia di atas 40 tahun [Kumar, Jignesh, Prabha, 2012]. Dispepsia fungsional dicirikan sebagai gangguan yang menyebabkan gejala perut tertentu, seperti rasa cepat kenyang setelah makan, ketidaknyamanan epigastrium, dan rasa terbakar, tetapi tidak memiliki penyakit yang lainnya. Dispepsia fungsional mempengaruhi sebagian besar populasi. Menurut laporan, angka prevalensi berkisar antara 7% hingga 45% secara global dan 8% hingga 46% di Korea Selatan [Lee, Jung, Huh, 2014]. Menurut angka dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), 13% hingga 40% dari populasi dunia mengalami dispepsia setiap tahunnya. Dengan proporsi sebesar 1,5%, dispepsia merupakan penyakit rawat jalan yang paling banyak diderita oleh pasien rawat jalan Gambaran Dispepsia pada Pasien Rawat Inap di Rumah Sakit Harapan Sehat pada tahun 2022 di seluruh rumah sakit di Indonesia [Sorongan et al., 2013]. Di Provinsi Lampung sendiri, dispepsia menduduki urutan kelima dari 10 penyakit terbanyak berdasarkan kunjungan lama dan kunjungan baru dengan prevalensi 5,49% atau sebanyak 35.422 kasus [Dinkes Lampung, 2013]. Angka kejadian sindrom dispepsia di Indonesia diperkirakan hampir 30% pada praktik umum dan 60% pada praktik gastroenterohepatologi. Para ahli memperkirakan 1530% orang dewasa pernah mengalami sindrom dispepsia. Stres akut dapat mempengaruhi fungsi saluran cerna dan memicu keluhan pada orang yang sehat. Sindrom dispepsia dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, termasuk sekresi asam lambung, faktor psikologi (stres), serta faktor diet dan lingkungan [Djojoningrat, 2014]. Tingginya angka kejadian dispepsia di dunia dan di Indonesia merupakan hal yang sangat memprihatinkan. Penyakit ini dapat mengganggu aktivitas sehari-hari pasien, bahkan yang terburuk adalah terjadinya perdarahan pada pencernaan pasien. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui karakteristik pasien rawat inap yang mengalami masalah dispepsia di Rumah Sakit Harapan Sehat pada tahun 2022. Kedepannya, diharapkan hasil penelitian ini dapat menjadi data pendukung untuk kebijakan kesehatan Indonesia yang lebih baik di masa yang akan datang. METODE PENELITIAN Penelitian ini bersifat deskriptif, dimana data penelitian diambil berdasarkan rekam medis pasien rawat inap di rumah sakit sepanjang tahun 2022. Kriteria penelitian ini dibagi menjadi 2, yaitu inklusi dan eksklusi. Pasien yang dirawat inap dengan diagnosis dispepsia, dan berusia 18 tahun ke atas merupakan kriteria inklusi. Sedangkan pasien yang berusia di bawah 18 tahun dan dirawat dengan diagnosis lain merupakan kriteria eksklusi. HASIL DAN PEMBAHASAN Table 1. Karakteristik Pasien Berdasarkan Jenis Kelamin 3 Jenis Kelamin N (%) Laki – laki 103 (40%) Perempuan 155 (60%) Total 258 (100%) VITAMEDICA : JURNAL RUMPUN KESEHATAN UMUM, VOLUME 2 NO. 2 APRIL 2024 e-ISSN: 3030-8992; p-ISSN: 3030-900X, Hal 01-07 Table 2. Karakteristik Pasien Berdasarkan Usia Usia N (%) 18 – 40 68 (26,3%) >40 – 60 114 (44,1%) >60 76 (29,6%) Total 258 (100%) Table 3. Karakteristik Pasien Berdasarkan Lama Perawatan Lama Hari Rawatan N (%) 1 - 2 98 (38%) 3 139 (53,9%) 4 11 (4,2%) 5 4 (1,5%) 6 6 (2,4%) Total 258 (100%) Hubungan antara jenis kelamin dan dispepsia pada populasi umum belum banyak diteliti. Dalam sebuah meta-analisis baru-baru ini, Ford et al. menunjukkan bahwa perempuan memiliki prevalensi dispepsia yang sedikit lebih tinggi dibandingkan laki-laki (25,3 vs 21,9%) ketika mereka melihat prevalensi dispepsia berdasarkan jenis kelamin pada 55 penelitian yang telah mereka lakukan [Ford et al., 2015]. Tabel 1 menyatakan bahwa sebagian besar kasus dispepsia dialami oleh perempuan dibandingkan laki-laki. Begitu juga dengan penelitian yang dilakukan pada tahun 2020 di Makassar yang menyatakan bahwa kasus dispepsia lebih banyak dialami oleh perempuan dibandingkan dengan laki-laki [Herman, Sulfiyana, 2020]. Gambaran Dispepsia pada Pasien Rawat Inap di Rumah Sakit Harapan Sehat pada tahun 2022 Penelitian yang dilakukan pada tahun 2020 di Rumah Sakit Kodja menyatakan bahwa usia ≥40 tahun lebih banyak ditemukan pada pasien yang menderita dispepsia yaitu sebanyak 173 orang (80,8%) dibandingkan dengan pasien yang tidak menderita dispepsia yaitu sebanyak 115 orang (70,1%) [Wibawani, Faturahman, Purwanto, 2021]. Jika dilihat pada Tabel 2, pasien dengan usia lebih dari 40 tahun merupakan kasus dispepsia yang paling banyak. Hal ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang mengatakan bahwa beberapa faktor yang mempengaruhi dispepsia yaitu kecenderungan semakin bertambahnya usia, prevalensi dispepsia fungsional dan organik akan semakin meningkat. Karena pengaruh faktor daya tahan tubuh sendiri, sehingga semakin bertambahnya usia maka semakin rentan untuk terserang penyakit [Ratnadewi, Lesmana, 2018]. Pasien dispepsia sebagian besar menjalani perawatan selama 1-3 hari. Hal ini dapat dilihat dari Tabel 3, dimana sebagian besar pasien menjalani perawatan selama 3 hari. Penelitian Nur Aini pada tahun 2019 di RSUD Aek Kanopan juga menyatakan bahwa terdapat 122 pasien yang menjalani rawat inap dengan diagnosis dispepsia dan rata-rata pasien dirawat selama 1 - 3 hari [Aini, 2019]. KESIMPULAN DAN SARAN Dari hasil penelitian ini, ditemukan bahwa kasus dispepsia paling banyak terjadi pada wanita dibandingkan dengan pria, sebanyak 155 pasien (60%) adalah perempuan. Sedangkan jika dilihat jumlah kasus dispepsia menurut usia, didapatkan bahwa kasus terbanyak terjadi pada usia di atas 40 tahun hingga 60 tahun, sebanyak 114 pasien (44,1%) dirawat inap dengan diagnosis dispepsia. Lama perawatan pada pasien dispepsia ditentukan oleh banyak faktor. Pada penelitian ini, didapatkan bahwa sebagian besar pasien dispepsia dirawat selama 3 hari UCAPAN TERIMA KASIH Alhamdulillah, yang telah memberikan kemudahan kepada kami untuk melakukan penelitian ini. Hormat kami kepada orang tua kami yang telah memberikan pendidikan yang baik selama ini. Terima kasih kepada Ibu Putri Gusmalia Sari selaku Direktur RSU Harapan Sehat yang telah memberikan izin terhadap penelitian ini. Dan juga tidak lupa kami ucapkan terima kasih kepada pihak – pihak yang telah membantu dalam hal masukan dan lainnya untuk kelancaran penelitian ini. 5 VITAMEDICA : JURNAL RUMPUN KESEHATAN UMUM, VOLUME 2 NO. 2 APRIL 2024 e-ISSN: 3030-8992; p-ISSN: 3030-900X, Hal 01-07 DAFTAR REFERENSI Aini N. Pola Penggunaan Obat Pada Pasien Dispepsia Rawat Inap di RSUD Aek Kanopan Kab. Labuhan Batu Utara. Skripsi Fakultas Farmasi USU. 2019. Dinas Kesehatan Provinsi Lampung. Profil Kesehatan Provinsi Lampung Tahun 2012. Bandar Lampung: Dinkes Lampung; 2013. Djojoningrat D. Dispepsia Fungsional. Dalam: Sudoyo AW, Setiati S, Alwi I, Simadirata M, Setiyohadi B, Syam AF, Editor. Buku Ajar: Ilmu Penyakit Dalam. Edisi Ke-4. Jakarta: Balai Penerbit FKUI; 2014. Ford AC, Marwaha A, Sood R, Moayyedi P. Global prevalence of, and risk factors for, uninvestigated dyspepsia: a meta-analysis. Gut 64(7), 1049–1057 (2015). Herman; Murniati; S, N. A. S. (2019). Inventarisasi Tanaman Obat Tradisional Untuk Penderita Diabetes Melitus Dan Hipertensi Di Desa Minangakecamatan Bambang Kabupaten Mamasa. Jurnal Farmasi Sandi Karsa (JFS), 5(1), 26–32. Herman H, Sulfiyana H. Faktor Risiko Kejadian Dispepsia. Jurnal Ilmiah Kesehatan Sandi Husada. Volume 9 Nomor 2 Desember 2020. Kumar A, Jignesh P, Prabha (2012). Epidemiology of Functional Dyspepsia, J Assoc Physicians India. Lee H, Jung H-K, Huh KC. Current status of functional dyspepsia in Korea.Korean J Intern Med. 2014;29:156–65. Ratnadewi, N. K., & Lesmana, C. B. J. (2018). Hubungan strategi coping dengan dispepsia fungsional pada pasien di poliklinik penyakit dalam rumah sakit umum daerah wangaya denpasar. APNIC, 1–10. Sorongan, Inri, dkk (2013). Hubungan Antara Pola Makan Dengan Kejadian sindroma Dispepsia Pada Siswa-Siswi Kelas XI Di SMA Negeri 1 Manado. Ejournal keperawatan (ekp) Vol.1 nomor 1. Agustus 2013. Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran. Universitas Sam Ratulangi Manado. Stanghellini V, Talley NJ, Chan F, et al. Rome IV - Gastroduodenal Disorders. Gastroenterology. 2016 pii: S0016-5085(16)00177-3. Wibawani EA, Faturahman Y, Purwanto A. Faktor – faktor yang berhubungan dengan kejadian dyspepsia pada pasien rawat jalan poli penyakit dalam di RSUD Koja. Jurnal Kesehatan komunitas Indonesia Vol 17 no 1 Maret 2021.