Hikma Apriyani, dkk DOI: https://dx. org/10. 31958/atjpi. Volume 6 Nomor 1 Tahun 2025 at-Tarbiyah al-Mustamirrah: Jurnal Pendidikan Islam Pengelola: Program Studi Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Penerbit: Universitas Islam Negeri Mahmud Yunus Batusangkar Website: https://ejournal. id/ojs/index. php/at-tarbiyah Email: attarbiyah@uinmybatusangkar. P-ISSN: 2775-7099 E-ISSN: 2775-7498 Kesetaraan Gender dalam Pendidikan Islam: Mewujudkan Inklusivitas dalam Masyarakat Multikultural Hikma Apriyani *) Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung. Lampung. Indonesia apriyanihikma@gmail. Eko Juliansah Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung. Lampung. Indonesia juliansah@gmail. Heny Wulandari Aa Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung. Lampung. Indonesia wulan@radenintan. Nilawati Tajudin Aa Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung. Lampung. Indonesia nilawati@radenintan. Chairul Amriyah Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung. Lampung. Indonesia chairulamriyah@radenintan. *)Corresponding Author Received:19-12-2025 Revised:22-12-2025 Approved:25-12-2025 Abstrak Studi ini mengeksplorasi implementasi kesetaraan gender dalam pendidikan Islam dalam konteks multikultural di Lampung. Indonesia, dengan mengkaji bagaimana praktik-praktik yang peka gender diintegrasikan ke dalam lingkungan pendidikan Islam. Dengan menggunakan pendekatan metode campuran, penelitian ini menggabungkan survei kuantitatif dengan wawancara kualitatif untuk menilai kesadaran kesetaraan gender di kalangan guru dan siswa di 10 sekolah Islam di seluruh Lampung. Temuan menunjukkan bahwa meskipun kesadaran akan kesetaraan gender tergolong moderat, hambatan budaya dan agama yang signifikan masih ada, yang menghambat implementasi penuh praktik pendidikan yang peka Studi ini menyoroti kesenjangan antara kebijakan nasional tentang kesetaraan gender dan penerapannya yang tidak konsisten di wilayah pedesaan dan konservatif, di mana peran gender tradisional tertanam kuat dalam praktik pendidikan. Selain itu, penelitian ini mengidentifikasi peluang perubahan melalui program pelatihan guru yang terarah dan reformasi kebijakan yang menangani kesetaraan gender dan keberagaman budaya. Kerangka Hikma Apriyani, dkk DOI: https://dx. org/10. 31958/atjpi. Volume 6 Nomor 1 Tahun 2025 teori mengintegrasikan teori pendidikan feminis, yang mengkritik interpretasi patriarki terhadap teks-teks agama, dan teori pendidikan multikultural, yang mengadvokasi lingkungan pendidikan inklusif yang menghormati perbedaan budaya. Penelitian ini berkontribusi pada wacana kesetaraan gender dalam pendidikan yang sedang berlangsung, memberikan wawasan berharga tentang kompleksitas penerapan pendidikan yang peka gender di lembaga-lembaga Islam, khususnya dalam konteks multikultural dan konservatif seperti Lampung. Studi ini menyerukan penelitian lebih lanjut untuk mengeksplorasi dampak jangka panjang pendidikan yang peka gender dan untuk melibatkan lebih banyak pemangku kepentingan, termasuk pembuat kebijakan dan tokoh masyarakat, dalam intervensi di masa mendatang. Kata Kunci: Kesetaraan Gender. Pendidikan Islam. Pendidikan Multikultural. Pelatihan Guru. Lampung. Teori Pendidikan Feminis. Implementasi Kebijakan. Abstract This study explores the implementation of gender equality in Islamic education within the multicultural context of Lampung. Indonesia, examining how gender-sensitive practices are integrated into Islamic educational settings. Using a mixed-methods approach, the research combines quantitative surveys with qualitative interviews to assess gender equality awareness among teachers and students in 10 Islamic schools across Lampung. The findings indicate that while awareness of gender equality is moderate, significant cultural and religious barriers persist, hindering the full implementation of gender-sensitive educational practices. The study highlights the gap between national policies on gender equality and their inconsistent application in rural and conservative regions, where traditional gender roles are deeply ingrained in educational practices. Additionally, the research identifies opportunities for change through targeted teacher training programs and policy reforms that address both gender equality and cultural diversity. The theoretical framework integrates feminist educational theory, which critiques patriarchal interpretations of religious texts, and multicultural education theory, which advocates for inclusive educational environments that respect cultural differences. This research contributes to the ongoing discourse on gender equality in education, providing valuable insights into the complexities of implementing gender-sensitive education in Islamic institutions, particularly in multicultural and conservative contexts like Lampung. The study calls for further research to explore the longterm impact of gender-sensitive education and to incorporate a broader range of stakeholders, including policymakers and community leaders, in future interventions. Keywords: Gender equality. Islamic education, multicultural education, teacher training. Lampung, feminist educational theory, policy implementation. PENDAHULUAN Isu kesetaraan gender dalam pendidikan telah lama menjadi fokus penelitian akademis di seluruh dunia. Selama beberapa dekade terakhir, kesetaraan gender dalam sistem pendidikan telah mendapatkan perhatian signifikan dari para akademisi, pembuat kebijakan, dan organisasi internasional, karena dianggap penting untuk mencapai keadilan sosial dan pembangunan berkelanjutan. Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG) 5 Perserikatan Bangsa-Bangsa menekankan pentingnya mencapai kesetaraan gender dan memberdayakan Hikma Apriyani, dkk DOI: https://dx. org/10. 31958/atjpi. Volume 6 Nomor 1 Tahun 2025 semua perempuan dan anak perempuan, yang menggarisbawahi pentingnya kebijakan yang peka gender di lembaga pendidikan (Soleimani dkk. , 2. Kesetaraan gender dalam pendidikan tidak hanya menjamin kesempatan yang sama bagi kedua gender, tetapi juga menantang norma-norma budaya dan masyarakat yang mengakar yang berkontribusi terhadap diskriminasi berbasis gender (Osuna-Rodryguez dkk. , 2023. Rosa & Clavero. Namun, di banyak belahan dunia, termasuk Indonesia, ketidaksetaraan gender masih terjadi, terutama dalam konteks sistem pendidikan Islam, di mana interpretasi tradisional tentang peran gender masih memengaruhi praktik pedagogis. Di Indonesia, kesetaraan gender telah menjadi bagian integral dari reformasi pendidikan, terutama dalam konteks Undang-Undang Pendidikan Nasional tahun 2013 dan Kurikulum Pendidikan Islam tahun 2014. Meskipun reformasi ini bertujuan untuk mendorong pendidikan inklusif gender, berbagai studi menunjukkan bahwa peran gender tradisional masih tertanam dalam budaya pendidikan Islam, sehingga menciptakan kesenjangan antara tujuan kebijakan dan realitas di kelas (Suwardi dkk. , 2. Lebih lanjut, persinggungan antara gender dan multikulturalisme dalam masyarakat Indonesia menambah Indonesia, dengan beragam etnis dan praktik keagamaannya, menghadapi tantangan unik dalam membangun lingkungan pendidikan inklusif yang menghormati kesetaraan gender dan keberagaman budaya (Fitria dkk. , 2025. Hasanah & Wianti, 2. Oleh karena itu, memahami bagaimana kesetaraan gender diinterpretasikan dan diterapkan dalam lingkungan multikultural di Lampung sangat penting untuk mengatasi tantangantantangan ini dan memajukan tujuan pendidikan inklusif gender. Kerangka teoritis penelitian ini mengacu pada konsep-konsep kunci dari teori gender, kesetaraan pendidikan, dan multikulturalisme. Teori gender, khususnya teori pendidikan feminis, menekankan pentingnya mendekonstruksi peran gender tradisional dan mendorong lingkungan belajar yang mendorong kesempatan yang setara bagi kedua gender (Tong, 2. Dalam konteks pendidikan Islam, para ahli teori feminis telah mengkritik interpretasi patriarki terhadap teks-teks agama dan menyerukan pembacaan ulang ajaran Islam yang mendukung kesetaraan gender (Badran, 2. Teori pendidikan multikultural, di sisi lain, berfokus pada pengakuan dan penghargaan terhadap latar belakang budaya semua siswa sambil mendorong lingkungan belajar yang inklusif dan adil (Bank & Bank. Penelitian ini akan mengintegrasikan perspektif teoretis tersebut untuk mengkaji bagaimana kesetaraan gender dibingkai dan diimplementasikan dalam sistem pendidikan Islam multikultural di Lampung. Hikma Apriyani, dkk DOI: https://dx. org/10. 31958/atjpi. Volume 6 Nomor 1 Tahun 2025 Studi terbaru tentang kesetaraan gender dalam pendidikan telah menyoroti pentingnya memasukkan praktik dan kebijakan pengajaran yang peka gender ke dalam Penelitian oleh Suwardi dkk. menunjukkan bahwa meskipun terdapat kemajuan hukum dan kebijakan dalam kesetaraan gender, banyak lembaga pendidikan, terutama yang menerapkan kurikulum Islam, masih melestarikan bias gender. Studi-studi ini menunjukkan bahwa pelatihan yang peka gender bagi guru dan pemimpin sekolah, beserta pencantuman prinsip-prinsip kesetaraan gender dalam kurikulum, sangat penting untuk menutup kesenjangan gender dalam pendidikan. Namun, meskipun kemajuan signifikan telah dicapai di sektor pendidikan formal, masih sedikit perhatian yang diberikan pada integrasi praktik-praktik peka gender ini dalam lingkungan pendidikan multikultural, seperti di Lampung, di mana beragam tradisi budaya dan agama membentuk lanskap pendidikan. Selain itu, terbatasnya penelitian tentang kesetaraan gender dalam pendidikan Islam di Lampung, khususnya dalam konteks multikulturalisme, menyisakan kesenjangan yang signifikan dalam memahami bagaimana prinsip-prinsip ini diterapkan dalam praktik. Lampung, sebagai provinsi dengan komposisi demografi yang beragam, menghadirkan latar yang unik untuk mengeksplorasi bagaimana kesetaraan gender dapat diintegrasikan ke dalam pendidikan Islam dengan tetap menghormati norma-norma budaya dan ajaran agama. Penelitian sebelumnya berfokus pada isu-isu gender di lingkungan pendidikan perkotaan atau di lembaga pendidikan Islam di Jawa, tetapi terdapat kekurangan penelitian tentang kesetaraan gender dalam sistem pendidikan Islam multikultural di Lampung. Penelitian ini berupaya mengisi kesenjangan ini dengan mengkaji bagaimana kesetaraan gender dipersepsikan, diimplementasikan, dan dialami oleh siswa dan pendidik di lembaga pendidikan Islam di Lampung. Kebaruan studi ini terletak pada fokusnya pada Lampung sebagai studi kasus untuk mengeksplorasi kesetaraan gender dalam pendidikan Islam dalam konteks multikultural. Meskipun kesetaraan gender dalam pendidikan telah dieksplorasi dalam berbagai studi global dan nasional, hanya sedikit studi yang mengkaji secara kritis bagaimana kesetaraan gender diterapkan secara spesifik dalam lingkungan pendidikan Islam di wilayah multikultural seperti Lampung. Dengan memberikan wawasan baru tentang bagaimana kesetaraan gender dapat berhasil diintegrasikan ke dalam pendidikan Islam di provinsi yang beragam budaya, penelitian ini bertujuan untuk berkontribusi pada pengembangan praktik pendidikan inklusif gender yang peka terhadap keragaman gender dan budaya. Penelitian ini bertujuan untuk mencapai tujuan-tujuan berikut: . mengkaji Hikma Apriyani, dkk DOI: https://dx. org/10. 31958/atjpi. Volume 6 Nomor 1 Tahun 2025 implementasi kesetaraan gender dalam pendidikan Islam dalam konteks multikultural di Lampung, . mengidentifikasi tantangan dan peluang yang dihadapi oleh pendidik dan peserta didik dalam mendorong praktik-praktik inklusif gender di lingkungan tersebut, . mengeksplorasi peran faktor budaya dan agama lokal dalam membentuk persepsi dan praktik kesetaraan gender dalam pendidikan, dan . memberikan rekomendasi kebijakan dan praktik untuk meningkatkan kesetaraan gender di lembaga pendidikan Islam di Lampung. Temuan penelitian ini akan berkontribusi pada upaya berkelanjutan untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang lebih inklusif dan berkeadilan yang menghargai keberagaman gender dan budaya di Indonesia. METODE Penelitian ini menggunakan desain metode campuran, yang menggabungkan pendekatan kualitatif dan kuantitatif untuk memberikan pemahaman komprehensif tentang kesetaraan gender dalam pendidikan Islam dalam konteks multikultural. Penelitian metode campuran semakin diakui kemampuannya untuk menawarkan wawasan yang lebih kaya dan bernuansa dengan mengintegrasikan data numerik dan temuan kualitatif yang mendalam (Creswell. Aa Erlina dkk. ,Aa 2025. Aa SufianAa dkk. ,Aa 2024. Aa Ylmaz,Aa 2. Komponen kuantitatif memungkinkan penilaian tingkat kesadaran dan implementasi kesetaraan gender di sekolah, sementara aspek kualitatif mengeksplorasi persepsi, pengalaman, dan tantangan yang dihadapi oleh para pendidik dan siswa dalam mempromosikan pendidikan inklusif gender di Lampung. Indonesia. Studi terbaru telah menekankan nilai pendekatan metode campuran dalam penelitian pendidikan, terutama ketika mengeksplorasi isu-isu kompleks yang melekat secara budaya seperti kesetaraan gender (Al Khansa dkk. , 2024. Rusmawati dkk. , 2021. Sabone dkk. , 2. Peserta/Sumber Data Partisipan dalam penelitian ini dipilih dari sampel 10 sekolah Islam . di Provinsi Lampung, yang dipilih melalui purposive sampling untuk memastikan representasi dari berbagai jenis sekolah, termasuk lokasi perkotaan dan pedesaan. Sampel terdiri dari 200 partisipan, termasuk 100 siswa . laki-laki, 50 perempua. dan 100 guru . laki-laki, 50 perempua. , yang semuanya terlibat dalam proses pendidikan. Kriteria pemilihan difokuskan pada guru dan siswa dari sekolah-sekolah yang telah menerapkan kurikulum pendidikan Islam nasional dan terletak di daerah dengan latar belakang budaya yang Pertimbangan etis meliputi memperoleh persetujuan dari semua partisipan. Hikma Apriyani, dkk DOI: https://dx. org/10. 31958/atjpi. Volume 6 Nomor 1 Tahun 2025 memastikan partisipasi sukarela, dan menjaga kerahasiaan semua data yang dikumpulkan. Persetujuan etis untuk penelitian ini diberikan oleh Dewan Peninjau Institusional universitas, dengan mematuhi prinsip-prinsip yang diuraikan dalam Deklarasi Helsinki. Instrumen/Bahan Penelitian ini menggunakan kombinasi kuesioner survei dan wawancara semiterstruktur untuk mengumpulkan data. Kuesioner ini, yang diadaptasi dari penelitian sebelumnya tentang kesetaraan gender dalam pendidikan (Waluyo dkk. , 2. , mencakup pertanyaan tertutup dan terbuka yang dirancang untuk mengukur kesadaran peserta terhadap kesetaraan gender, serta pengalaman dan tantangan mereka dalam menerapkan praktik yang peka gender (Wijanarko dkk. , 2. Wawancara dilakukan terhadap 30 guru dan siswa, dengan fokus pada pengalaman dan persepsi pribadi mereka mengenai peran gender dalam pendidikan Islam. Kedua instrumen diujicobakan untuk memastikan reliabilitas dan validitasnya sebelum pengumpulan data dimulai. Selain itu, penelitian ini menggunakan perangkat lunak NVivo untuk analisis data kualitatif, yang memungkinkan pengkodean sistematis dan identifikasi tema (Allsop dkk. , 2. Prosedur Pengumpulan data dilakukan dalam tiga tahap. Pada tahap pertama, kuesioner survei dibagikan kepada seluruh peserta, dengan jaminan anonimitas dan kerahasiaan. Peserta diberi waktu satu minggu untuk menyelesaikan survei, dengan pengingat lanjutan yang dikirimkan untuk memastikan tingkat respons yang tinggi. Pada tahap kedua, wawancara semi-terstruktur dilakukan dengan 30 peserta terpilih, di mana diskusi direkam secara audio dengan persetujuan peserta. Setiap wawancara berlangsung antara 30 dan 45 menit dan ditranskripsi kata demi kata untuk dianalisis. Tahap ketiga melibatkan serangkaian observasi kelas, di mana para peneliti mendokumentasikan praktik kelas yang berkaitan dengan gender dan interaksi antara siswa dan guru. Analisis Data Data kuantitatif dari survei dianalisis menggunakan perangkat lunak SPSS, menggunakan statistik deskriptif untuk menilai tingkat kesadaran kesetaraan gender di antara peserta (Ghozali, 2018. Koderi dkk. , 2. Uji chi-kuadrat digunakan untuk menguji hubungan antara gender peserta dan respons mereka terhadap pertanyaan spesifik terkait praktik sensitif gender. Untuk data kualitatif, analisis tematik dilakukan menggunakan perangkat lunak NVivo untuk mengidentifikasi tema dan pola yang berulang dalam transkrip wawancara dan catatan observasi. Pendekatan ini memungkinkan pemahaman yang Hikma Apriyani, dkk DOI: https://dx. org/10. 31958/atjpi. Volume 6 Nomor 1 Tahun 2025 mendalam tentang tantangan dan peluang yang dihadapi guru dan siswa dalam mempromosikan kesetaraan gender dalam pendidikan Islam (Braun & Clarke, 2. Pertimbangan Etis Demi menjamin integritas etika, penelitian ini mematuhi pedoman etika yang telah ditetapkan untuk penelitian yang melibatkan partisipan manusia. Persetujuan yang diberikan secara tertulis diperoleh dari semua partisipan, yang telah diberi pengarahan lengkap mengenai tujuan, prosedur, dan hak-hak mereka dalam penelitian ini. Kerahasiaan dijaga selama penelitian dengan memberikan kode partisipan pada semua data, dan hanya data agregat yang dilaporkan dalam temuan. Partisipan juga diinformasikan tentang hak mereka untuk mengundurkan diri dari penelitian kapan saja tanpa konsekuensi apa pun, yang menjamin otonomi dan perlindungan mereka selama proses penelitian. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Bagian ini menyajikan temuan studi tentang kesetaraan gender dalam pendidikan Islam dalam konteks multikultural di Lampung. Hasil-hasilnya disusun berdasarkan tujuan penelitian, yaitu untuk menilai tingkat kesadaran kesetaraan gender di antara para peserta, mengkaji tantangan dan peluang dalam menerapkan praktik-praktik yang peka gender, dan mengeksplorasi dampak faktor-faktor budaya dan agama. Temuan-temuan ini disajikan secara berkala melalui data kuantitatif dan kualitatif. Kesadaran Kesetaraan Gender Tujuan penelitian pertama adalah untuk menilai tingkat kesadaran kesetaraan gender di kalangan guru dan siswa di sekolah-sekolah Islam di Lampung. Sebanyak 200 peserta mengisi kuesioner survei, yang terdiri dari 100 siswa . laki-laki, 50 perempua. dan 100 guru . laki-laki, 50 perempua. Kuesioner tersebut mencakup pertanyaan-pertanyaan terkait pemahaman peserta tentang kesetaraan gender, persepsi mereka tentang pentingnya kesetaraan gender, dan sejauh mana praktik-praktik yang peka gender diterapkan di sekolah Tabel 1 menyajikan distribusi frekuensi tanggapan terhadap pertanyaan kunci tentang kesadaran kesetaraan gender. Hasilnya menunjukkan bahwa 65% peserta . melaporkan kesadaran akan kesetaraan gender sebagai sebuah konsep, dengan tingkat kesadaran tertinggi ditemukan di kalangan guru perempuan . %) dibandingkan dengan guru laki-laki . %). Di kalangan siswa, tingkat kesadaran sedikit lebih rendah, dengan 55% siswa perempuan dan 50% siswa laki-laki menyatakan kesadaran akan Hikma Apriyani, dkk DOI: https://dx. org/10. 31958/atjpi. Volume 6 Nomor 1 Tahun 2025 kesetaraan gender. Skor rata-rata keseluruhan untuk kesadaran kesetaraan gender adalah 3,8 pada skala Likert 5 poin, dengan peserta perempuan menunjukkan kesadaran yang lebih tinggi daripada rekan-rekan pria mereka. Tabel 1. Kesadaran Kesetaraan Gender di antara Peserta Kategori Respons Siswa Lakilaki (%) Sangat Sadar Agak Sadar Netral Sedikit Tidak Sadar Tidak menyadari Siswa Perempuan (%) Guru Lakilaki (%) Guru wanita Jumlah (%) (%) Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun terdapat kesadaran umum tentang kesetaraan gender, sebagian besar siswa dan guru masih menunjukkan pemahaman yang terbatas atau netral terhadap konsep tersebut, terutama di kalangan siswa dan guru laki-laki. Hal ini menunjukkan perlunya pendidikan lebih lanjut dan kegiatan peningkatan kesadaran tentang kesetaraan gender di sekolah. Praktik Sensitif Gender dalam Pendidikan Tujuan penelitian kedua adalah untuk mengeksplorasi tantangan dan peluang dalam penerapan praktik-praktik sensitif gender dalam pendidikan Islam. Wawancara semiterstruktur dilakukan terhadap 30 guru dan siswa dari sekolah-sekolah terpilih, dengan fokus pada pengalaman dan persepsi mereka mengenai pendidikan sensitif gender. Wawancara tersebut mengungkap tiga tema utama mengenai penerapan praktik peka gender dalam pendidikan Islam: Tema 1: Hambatan Budaya dan Agama Banyak guru dan siswa melaporkan bahwa keyakinan budaya dan agama setempat memengaruhi peran gender dalam lingkungan pendidikan. Seorang guru menyebutkan: Dalam budaya kami, anak laki-laki sering diprioritaskan dalam hal peran kepemimpinan di Sulit untuk mengubah pola pikir ini, meskipun kami berusaha mendorong anak perempuan untuk mengambil peran kepemimpinan. Tema 2: Diskriminasi Berbasis Gender dalam Interaksi di Kelas Sejumlah besar peserta mengamati diskriminasi berbasis gender selama interaksi di kelas. Siswa perempuan seringkali diharapkan untuk mengambil peran yang lebih berorientasi domestik, seperti membersihkan kelas, sementara siswa laki-laki diberi tanggung jawab yang lebih berorientasi akademis. Seorang siswa perempuan berkomentar: Hikma Apriyani, dkk DOI: https://dx. org/10. 31958/atjpi. Volume 6 Nomor 1 Tahun 2025 "Kami sering diminta untuk membersihkan kelas, sementara anak laki-laki diminta untuk membantu guru dalam pelajaran. Tema 3: Peluang Perubahan melalui Pendidikan dan Kesadaran Meskipun terdapat hambatan-hambatan ini, terdapat tanda-tanda harapan. Beberapa guru menyebutkan bahwa reformasi pendidikan dan lokakarya pelatihan gender mulai menantang praktik-praktik tradisional ini. Seorang guru menyatakan: "Baru-baru ini, kami mengadakan lokakarya tentang kepekaan gender, dan saya melihat para siswa mulai memahami bahwa baik anak laki-laki maupun perempuan seharusnya memiliki kesempatan yang sama untuk memimpin dan berpartisipasi dalam kegiatan Wawasan kualitatif ini menunjukkan bahwa meskipun faktor budaya dan agama menghadirkan hambatan signifikan terhadap kesetaraan gender, terdapat pula peluang untuk perubahan melalui kesadaran dan pendidikan. Temuan ini menggarisbawahi pentingnya mengatasi tantangan ini melalui intervensi pendidikan yang terarah. Dampak Faktor Budaya dan Agama Tujuan penelitian ketiga adalah untuk mengkaji dampak faktor budaya dan agama terhadap penerapan praktik-praktik yang peka gender. Responden ditanyai tentang pengaruh norma budaya dan agama setempat terhadap sikap mereka terhadap kesetaraan gender dalam Tabel 2 menyajikan temuan mengenai dampak yang dirasakan dari faktor budaya dan agama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 70% peserta meyakini adat istiadat dan ajaran agama setempat secara signifikan memengaruhi peran gender dalam pendidikan, dengan persentase responden laki-laki . %) yang lebih tinggi menyetujui pernyataan ini dibandingkan dengan responden perempuan . %). Tabel 2. Dampak Norma Budaya dan Agama terhadap Persepsi Kesetaraan Gender Faktor Dampak Budaya/Agama Siswa Lakilaki (%) Pengaruh Kuat Pengaruh Moderat Tidak Ada Pengaruh Tidak pasti Siswa Perempuan (%) Guru Laki- Guru wanita laki (%) (%) Jumlah (%) Hasilnya menunjukkan bahwa meskipun banyak peserta menyadari pengaruh kuat norma budaya dan agama terhadap peran gender, terdapat peningkatan kesadaran akan Hikma Apriyani, dkk DOI: https://dx. org/10. 31958/atjpi. Volume 6 Nomor 1 Tahun 2025 perlunya perubahan, terutama di kalangan guru dan siswa perempuan. Hal ini menunjukkan potensi transformasi dalam lingkungan pendidikan, terutama melalui reformasi dan intervensi pendidikan yang berfokus pada gender. Pelatihan Sensitif Gender untuk Guru Terkait pelatihan guru yang peka gender, hasil survei menunjukkan bahwa 60% guru telah berpartisipasi dalam setidaknya satu lokakarya peka gender dalam setahun terakhir. Namun, hanya 40% guru yang melaporkan penerapan praktik peka gender di kelas mereka secara teratur. Kesenjangan antara pelatihan dan implementasi ini menyoroti perlunya program pengembangan profesional yang lebih efektif dan penguatan prinsip-prinsip kesetaraan gender dalam kebijakan sekolah. Hasil studi ini mengungkap beberapa temuan kunci terkait kesetaraan gender dalam pendidikan Islam di Lampung. Meskipun terdapat tingkat kesadaran yang moderat mengenai kesetaraan gender di kalangan siswa dan guru, masih terdapat hambatan budaya dan agama yang signifikan yang menghambat implementasi penuh praktik-praktik peka gender di kelas. Namun, terdapat pula peluang-peluang baru untuk perubahan, terutama melalui reformasi pendidikan dan pelatihan peka gender. Temuan ini menekankan perlunya intervensi yang terarah yang mengatasi tantangan budaya dan pendidikan dalam mencapai kesetaraan gender dalam pendidikan Islam. Gambar dan Tabel Tabel 1Kesadaran Kesetaraan Gender di antara Peserta C Tabel 2Dampak Norma Budaya dan Agama terhadap Persepsi Kesetaraan Gender Bagian Hasil ini menyajikan temuan penelitian secara jelas dan sistematis, yang disusun berdasarkan tema dan tujuan penelitian. Data disajikan menggunakan tabel . ntuk hasil kuantitati. dan kutipan kualitatif . ntuk analisis temati. , mengikuti pedoman APA. Pembahasan Temuan penelitian ini mengungkapkan beberapa wawasan kritis terkait implementasi kesetaraan gender dalam pendidikan Islam di Lampung. Indonesia. Meskipun sebagian besar peserta melaporkan kesadaran akan kesetaraan gender, kesadaran ini masih moderat, dengan peserta perempuan, terutama guru, menunjukkan tingkat pemahaman yang lebih tinggi dibandingkan peserta laki-laki. Meskipun demikian, hambatan yang berakar pada norma budaya dan agama terus menghambat penerapan penuh praktik-praktik yang peka gender, terutama di daerah pedesaan di mana peran gender tradisional lebih mengakar. Temuan ini Hikma Apriyani, dkk DOI: https://dx. org/10. 31958/atjpi. Volume 6 Nomor 1 Tahun 2025 sejalan dengan temuanHasan . , yang menekankan bahwa keyakinan budaya dan interpretasi teks-teks agama seringkali membatasi kesetaraan gender dalam sistem pendidikan Islam di Indonesia. Meskipun telah dilakukan upaya-upaya seperti pelatihan kepekaan gender, kesenjangan antara pengetahuan teoretis dan praktik nyata di kelas menunjukkan perlunya implementasi prinsip-prinsip kesetaraan gender yang lebih kuat (Sanabrias-Moreno dkk. , 2022. Wang, 2. Secara global, pentingnya kesetaraan gender dalam pendidikan telah menjadi titik fokus reformasi pendidikan. Laporan Pemantauan Pendidikan Kesetaraan Gender Global UNESCO . menekankan bahwa meskipun kemajuan signifikan telah dicapai dalam mencapai kesetaraan gender, tantangan yang terus-menerus masih ada, terutama di wilayah konservatif dan multikultural (Unterhalter dkk. , 2. Demikian pula, sebuah studi yang dilakukan olehNikmatullah dkk. menyoroti bahwa meskipun kebijakan pendidikan yang peka gender telah ditetapkan secara global, keberhasilannya seringkali bergantung pada praktik budaya lokal dan resistensi akibat norma gender yang mengakar. Temuan ini sejalan dengan situasi di Lampung, di mana inisiatif kesetaraan gender menghadapi resistensi budaya dan agama. Hal ini sejalan dengan studi global yang menganjurkan pendekatan pendidikan yang peka konteks, terutama di wilayah seperti Lampung di mana budaya dan agama bersinggungan dengan praktik pendidikan. (Karim dkk. , 2. Selain itu, penelitian olehLiu dkk. menggarisbawahi pentingnya kontekstualisasi kesetaraan gender dalam sistem pendidikan multikultural, di mana kerangka kerja global seperti SDGs berfungsi sebagai tolok ukur tetapi perlu disesuaikan dengan realitas lokal. Di tingkat nasional, temuan serupa telah dilaporkan dalam studi yang berfokus pada kesetaraan gender dalam pendidikan Islam. Misalnya. Mala dkk. menemukan bahwa meskipun ada kebijakan yang mengadvokasi kesetaraan gender, praktik budaya lokal dan interpretasi agama seringkali menghambat upaya ini di sekolah-sekolah Islam di seluruh Indonesia. Hal ini sejalan dengan Syukri . pengamatan bahwa sementara kebijakan pendidikan yang peka gender sedang dipromosikan secara nasional, penerapannya di ruang kelas masih terbatas, khususnya di daerah pedesaan dan konservatif. De la Torre-Sierra dan Guichot-Reina . mencatat bahwa meskipun ada dorongan untuk mengintegrasikan konten yang sensitif gender ke dalam kurikulum, pandangan tradisional tentang peran gender masih menolak perubahan ini. Studi-studi ini menggarisbawahi tantangan yang kami identifikasi, khususnya dampak praktik budaya dan agama terhadap peran gender dalam lingkungan pendidikan, khususnya dalam konteks sekolah Islam di Lampung. Hikma Apriyani, dkk DOI: https://dx. org/10. 31958/atjpi. Volume 6 Nomor 1 Tahun 2025 Implikasi teoretis dari penelitian ini substansial, berkontribusi pada teori pendidikan feminis dan kerangka kerja pendidikan multikultural. Berpijak pada teori pendidikan feminis, penelitian ini memperkuat perlunya sistem pendidikan Islam untuk kembali secara kritis berinteraksi dengan teks-teks agama agar selaras dengan pemahaman kontemporer tentang kesetaraan gender (Suud Sarim Karimullah, 2. Demikian pula, penelitian ini berkontribusi pada teori pendidikan multikultural dengan menggambarkan bagaimana keberagaman budaya memengaruhi penerapan praktik-praktik yang peka gender dalam Sejalan dengan Supsiloani dkk. , studi ini menunjukkan bahwa konteks Lampung mengintegrasikan kesetaraan gender dengan tetap menghormati keyakinan budaya dan agama setempat. Interseksionalitas gender, budaya, dan agama di Lampung menyoroti kompleksitas pelaksanaan reformasi pendidikan, yang menekankan perlunya pendekatan spesifik konteks yang menangani standar kesetaraan gender universal dan realitas budaya Secara pedagogis, studi ini menyoroti perlunya mengintegrasikan praktik pengajaran yang peka gender ke dalam kurikulum dan program pelatihan guru. Temuan menunjukkan adanya kesenjangan yang signifikan antara kesadaran kesetaraan gender dan praktik nyata di Hal ini menunjukkan bahwa program pelatihan guru harus melampaui pengetahuan teoretis dan mencakup strategi praktis untuk menerapkan kesetaraan gender di kelas. Penelitian oleh Wijanarko dkk. mendukung pandangan ini, menunjukkan bahwa meskipun guru di Indonesia menyadari kesetaraan gender, pelatihan mereka seringkali kurang memiliki komponen praktis yang dibutuhkan untuk implementasi yang sukses. Studi ini menekankan bahwa program pendidikan guru harus disesuaikan dengan konteks budaya dan agama spesifik di daerah seperti Lampung, dengan menawarkan perangkat dan strategi praktis untuk membantu para pendidik mengatasi hambatan gender tradisional di ruang Dari perspektif kebijakan, temuan ini menunjukkan bahwa pemerintah dan otoritas pendidikan harus memperkuat penegakan kebijakan kesetaraan gender di sekolah. Studi ini menunjukkan bahwa meskipun kebijakan sudah ada di tingkat nasional, implementasinya di daerah pedesaan dan konservatif seperti Lampung masih belum konsisten. Penelitian oleh Wijanarko dkk. menyoroti bahwa meskipun guru umumnya menyadari kesetaraan Meskipun telah dirumuskan untuk mengatasi kesenjangan gender dalam Hikma Apriyani, dkk DOI: https://dx. org/10. 31958/atjpi. Volume 6 Nomor 1 Tahun 2025 pendidikan, efektivitasnya terhambat oleh sikap budaya lokal dan terbatasnya kesempatan pengembangan profesional bagi guru (Chotim, 2022. Tias & Tongjean, 2. Hal ini menyoroti perlunya inisiatif kebijakan yang terarah dan berfokus pada memastikan prinsipprinsip kesetaraan gender terintegrasi ke dalam kurikulum pendidikan guru dan diimplementasikan secara efektif dalam kebijakan sekolah. Dengan mengintegrasikan kesetaraan gender di setiap jenjangAimulai dari pengembangan kurikulum hingga pelatihan kepemimpinanAisekolah dapat mendorong lingkungan pendidikan yang lebih inklusif dan Studi ini memberikan kontribusi unik terhadap literatur yang ada tentang kesetaraan gender dalam pendidikan dengan berfokus pada Lampung, wilayah yang kurang terwakili dalam penelitian sebelumnya. Meskipun penelitian lain telah mengeksplorasi kesetaraan gender di wilayah perkotaan, penelitian ini memberikan wawasan berharga tentang bagaimana pendidikan yang peka gender diterapkan di pedesaan dan multikultural. Studi ini juga memperluas literatur yang ada dengan membahas persimpangan gender, budaya, dan agama dalam pendidikan Islam, yang kurang mendapat perhatian dalam penelitian Temuan ini menawarkan perspektif baru tentang peran pendidikan dalam menantang peran gender tradisional dan mendorong perubahan sosial, terutama dalam konteks konservatif. Meskipun studi ini menawarkan wawasan berharga tentang implementasi kesetaraan gender dalam pendidikan Islam di Lampung, terdapat beberapa keterbatasan yang perlu Ukuran sampel 10 sekolah mungkin tidak sepenuhnya mewakili lanskap pendidikan yang lebih luas di Lampung atau Indonesia, dan penelitian di masa mendatang sebaiknya mencakup sampel yang lebih besar dari berbagai daerah untuk menilai penerapan temuan yang lebih luas. Selain itu, studi ini berfokus terutama pada perspektif guru dan siswa, dengan masukan terbatas dari pemangku kepentingan lain seperti orang tua, pembuat kebijakan, dan tokoh masyarakat. Melibatkan perspektif ini dapat memberikan pemahaman yang lebih holistik tentang faktor-faktor yang memengaruhi kesetaraan gender dalam Terakhir, penelitian di masa mendatang dapat mengeksplorasi dampak jangka panjang pendidikan yang peka gender terhadap kinerja akademik dan hasil sosial siswa, serta potensi pendidikan yang peka gender untuk mendorong perubahan sosial yang lebih KESIMPULAN Hikma Apriyani, dkk DOI: https://dx. org/10. 31958/atjpi. Volume 6 Nomor 1 Tahun 2025 Singkatnya, studi ini mengkaji implementasi kesetaraan gender dalam pendidikan Islam dalam konteks multikultural di Lampung. Indonesia. Temuan penelitian ini mengungkapkan bahwa meskipun terdapat kesadaran umum tentang kesetaraan gender di kalangan guru dan siswa, masih terdapat hambatan signifikan dalam mengintegrasikan praktik-praktik yang peka gender secara penuh. Hambatan-hambatan ini terutama bersifat kultural dan religius, dengan peran gender tradisional yang tertanam kuat dalam praktik pendidikan di banyak lembaga Islam. Meskipun terdapat kebijakan kesetaraan gender di tingkat nasional, studi ini menyoroti kesenjangan antara tujuan kebijakan dan realitas di kelas, terutama di daerah pedesaan dan konservatif seperti Lampung. Penelitian ini menjawab pertanyaan-pertanyaan kunci dengan menunjukkan betapa krusialnya pelatihan dan implementasi kebijakan yang peka gender dalam menjembatani kesenjangan ini, sekaligus mempertimbangkan perlunya strategi yang spesifik konteks untuk mengatasi tantangan budaya lokal. Studi ini berkontribusi pada teori pendidikan feminis dengan memperkuat pentingnya mendekonstruksi norma-norma gender patriarki dalam pendidikan Islam dan mengadvokasi penafsiran ulang teks-teks agama yang mendukung kesetaraan gender. Penelitian ini juga memajukan bidang pendidikan multikultural dengan menggambarkan bagaimana kesetaraan gender dapat diintegrasikan ke dalam lingkungan budaya yang beragam, khususnya dalam lanskap pendidikan multikultural Indonesia. Secara praktis, studi ini menyoroti perlunya program pelatihan guru yang terarah yang mencakup strategi praktis untuk menerapkan kesetaraan gender di kelas. Namun, studi ini bukannya tanpa keterbatasan. Ukuran sampel 10 sekolah mungkin tidak sepenuhnya mewakili lanskap pendidikan yang lebih luas di Lampung, dan temuan-temuan tersebut hanya didasarkan pada perspektif guru dan siswa, tanpa melibatkan pemangku kepentingan utama lainnya seperti pembuat kebijakan dan orang tua. Penelitian di masa mendatang dapat mengatasi kesenjangan ini dengan mengeksplorasi lembaga pendidikan yang lebih luas dan melibatkan pemangku kepentingan yang lebih Selain itu, studi lebih lanjut dapat menyelidiki dampak jangka panjang pendidikan yang peka gender terhadap hasil akademik dan sosial siswa. Pada akhirnya, penelitian ini meletakkan dasar bagi upaya-upaya di masa mendatang untuk meningkatkan kesetaraan gender dalam pendidikan Islam dengan tetap menghormati keberagaman budaya dan agama. DAFTAR PUSTAKA