TRANSENDENSI PERSON MENURUT KAROL WOJTYAA1 Antonius Alex Lesomar Metaphysics and Philosophical Anthropology. Philosophy. The John Paul II Catholic University of Lublin Email: alex_lesomar@yahoo. Abstrak Artikel ini membahas tentang konsep transendensi menurut Karol WojtyCa. Transendensi ini lebih dikaitkan dengan tindakan dari kehendak melalui self-determination dengan menampilkan struktur self-governance dan self-possession. Transendensi menunjukkan bahwa manusia bukanlah sebatas suatu spesies di antara spesies yang lain atau suatu objek di antara objek yang lain. Akan tetapi, manusia adalah person dengan kodrat rasional. ia unik dan tak tergantikan. Ia juga tampil sebagai subjek sekaligus objek dari tindakannya. Ia menjadi subjek dari tindakan sekaligus objek yang dibentuk oleh tindakannya sendiri. Transendensi person terwujud juga dalam integrasi dengan aspek psikosomatik dan lebih tampak riil dalam partisipasi atau co-acting. Kata Kunci: person, transendensi, tindakan, self-determination, self-governance, self-possession, selffulfillment, nilai, integrasi, partisipasi, komunitas. CARA MEMAHAMI MANUSIA Karol WojtyCa, menjelaskan dua cara untuk memahami manusia yaitu dari perspektif kosmologis dan Dari sudut pandang kosmologi manusia dipahami sebagai suatu spesies atau satu jenis natural being yang berbeda dari natural being lainnya, seperti hewan dan tumbuhan. Kekhususan yang membuat manusia berbeda dari natural being lainnya adalah sifat dasar rasionalitasnya atau rational nature. Pemahaman kosmologis ini dijumpai dalam gagasan Aristoteles tentang manusia, homo est animal rationale. WojtyCa tidak menolak pandangan Aristoteles ini. Akan tetapi, ia mengembangkan lebih jauh pandangan ini untuk menemukan dan menjelaskan innerness manusia. Menurutnya, jika manusia hanya dilihat sebagai animal rationale, maka manusia hanya dipandang sebagai salah satu objek di antara objek-objek lain yang ada dalam dunia. Ia adalah satu spesies di antara spesies lain atau individu dari suatu spesies, sehingga manusia pun dapat direduksi. WojtyCa tidak hanya ingin menunjukkan sisi objektivitas manusia ini dalam sistem filsafatnya, tetapi ia juga ingin menunjukkan sisi subjektivitas manusia. WojtyCa memperlihatkan pengembangan pemikirannya dengan memahami manusia sebagai person. Pemahaman inilah yang menjadi titik tolak untuk menjelaskan keseluruhan manusia yang kompleks. Ia pun mengikuti dan mengembangkan gagasan person dari Boethius dan aliran Thomistik setelahnya. Bagi Boethius, persona est rationalis naturae individua substantia . ubstansi individual dengan sifat dasar/kodrat rasiona. Tentunya, definisi ini berdasarkan sebuah pemahaman metafisika, di mana nature dipahami kurang lebih ekuivalen artinya dengan esensi yang menjadi basis untuk aktualisasi dari sesuatu. 4 Nature dalam arti ini diintegrasikan di Dalam tulisan ini saya konsisten menggunakan kata AupersonAy yang mempunyai arti yang sama dengan AupribadiAy atau osoba dalam bahasa polandia. Lih. Karol WojtyCa. AuSubjectivity and Irreducible in Human BeingAy, in Person and Community: Selected Essays. Trans. by Theresa Sandok. OSM (New York: Peter Lang, 1. , 211. Karol WojtyCa. AuThe Human Person and Natural LawAy, in Person and Community: Selected Essays. Trans. by Theresa Sandok. OSM (New York: Peter Lang, 1. , 182. Karol WojtyCa. Considerations on The Essence of Man. Trans. by John Grondelski (Lublin: PTTA, 2. , 157. Karol WojtyCa. AuThe Human Person and Natural LawAy, 182. dalam person. Person memiliki kesesuaian dengan nature atau boleh dikatakan nature menetapkan person di tempat yang pantas di tengah dunia dalam keseluruhan susunan objektif dunia. 5 Tentunya, konsep ini berbeda dengan konsep fenomenologi, yang mana nature dipahami semata-mata sebagai subjek dari aktualisasi naluriah atau subjek dari apa yang terjadi. 6 Para fenomenologis lebih menyempitkan arti nature. Di sini, nature adalah sumber dari semua aktualisasi dengan pegecualian pada person. Person adalah subjek dari sebuah jenis aktualisasi partikular atau secara konkret sebagai sumber dari tindakan atau perbuatan. Person dalam arti ini, terkesan, berlawanan dengan 7 Wojtyla merekonsiliasi kedua pemahaman ini. Menurut WojtyCa person berdiri di atas atau berdasar pada nature dan ia pun menjadi subjek dari tindakannya serta tampak dalam tindakan. Bahkan person tampak pertamatama dalam momen self-determination, di mana ia memilih dan menentukan tindakannya. Karena itu, setiap person memiliki kodrat rasional yang sama tetapi masing-masing person sangat unik dan memiliki kekhasan dalam tindakan-tindakannya. Dengan demikian, menurut WojtyCa kekhususan dari manusia sebagai person adalah tindakannya yang sadar yang berdasar pada kodrat rasional. Baginya, hanya melalui analisa tindakan kita dapat sampai kepada person sebagai sumbernya, karena tindakan selalu membutuhkan adanya sumber atau subjeknya, yaitu person. operari sequitur esse8 . indakan membutuhkan atau mensyaratkan adanya eksistens. Selanjutnya, melalui tindakan kita dapat menemukan struktur internal dari person yaitu self-governance dan self-possession yang dimampukan oleh kehendak untuk menuju pada kebenaran akan yang baik . he truth of goo. , yang diinformasikan oleh intelek kepada kehendak. Dengan tindakan yang tertuju kepada kebaikan, person menentukan diri sekaligus memenuhi dirinya. Pemenuhan diri . elf-fulfillmen. dari seorang person terjadi ketika ia memerintah . dirinya untuk menuju kepada kebaikan . ilai yang bai. , sebaliknya, ia tidak akan mencapai self-fulfillment ketika ia memutuskan untuk mengabaikan yang baik dan memilih yang jahat. Menurut WojtyCa, di sini, peran suara hati penting untuk mengokohkan kebenaran yang telah disampaikan oleh intelek. Dengan kata lain, suara hati memperlihatkan ketergantungan tindakan kepada kebenaran akan kebaikan. Dengan demikian, peran suara hati ini menekankan aspek moralitas dari tindakan manusia. Suara hati berperan untuk menjustifikasi nilai moral dari suatu tindakan, berkaitan dengan baik dan jahat yang terkandung dalam tindakan. 9 Oleh karena itu, seorang person mempunyai tanggungjawab atas tindakannya sendiri dan bertanggungjawab pula atas pemenuhan atau aktualisasi dirinya. Penjelasan-penjelasan ini mau mengungkapkan bahwa WojtyCa tidak membatasi dirinya pada gagasan tradisional akan manusia dalam perspektif kosmologis. Ia bergerak lebih dalam untuk memahami manusia sebagai person dengan strukturnya yang kompleks dan kesatuannya dengan elemen-elemen yang lain yang membentuk manusia sebagai suatu keseluruhan. Dari penelusuran itu WojtyCa hendak menegaskan bahwa manusia sebagai person bukanlah sebagai sesuatu . , seperti dalam pandangan kosmologis, tetapi seseorang . berdasarkan pandangan personalistik. Pemahaman seperti ini memperlihatkan personalisme WojtyCa yang merupakan sintesa antara metafisika realistic . hilosophy of bein. dan fenomenologi . hilosophy of consciousnes. yang kemudian membantunnya untuk mengkonstruksi gagasan subjektivitas maupun objektivitas dari person. TRANSENDENSI PERSON DALAM TINDAKAN Secara etimologi transendensi . rans-scender. berarti melintasi . o ove. atau melampaui . ambang pintu atau batasan. Istilah ini boleh menunjuk pada subjek yang melangkah melewati batasannya menuju sebuah objek. 10 Istilah ini memperlihatkan intensionalitas menuju objek eksternal melibatkan tindakan volitional Ibid. Ibid. Ibid. Kata operari dimaksudkan sebagai Auaktivitas atau struktur dinamisme secara umumAy yang terjadi pada manusia, akan tetapi dalam konteks person, operari dimengerti secara khusus sebagai tindakan sadar. Hanya person yang menjadi subjek dari tindakan sadar. Lih. Karol WojtyCa. Acting Person. Trans. by Andrzej Potocki, (Dordrecht: D. Reidel Publishing Company, 1. , 159-160. Ibid. , 119. Namun, dalam penjelasan selanjutnya akan diuraikan apa yang dimaksudkan transendensi oleh WojtyCa. Pemahaman akan transendensi pertama-tama dimulai dengan menganalisa operari . dalam pengalaman manusia. Melalui analisa ini, kita masuk ke dalam pemahaman akan person dalam kaitan dengan aspek self-determination dengan strukturnyanya yaitu self-governance dan self-possession. WojtyCa memahami bahwa transendensi adalah buah dari self-determination. 11 Self-determination adalah nama lain dari kebebasan, menurut WojtyCa. Ia memahami self-determination sebagai kebebasan untuk memilih dan memutuskan tindakan dan pembentukan diri melalui tindakan tersebut. Operari sebagai tindakan dari AukehendakAy, muncul ketika seseorang memerintah dirinya sendiri untuk bertindak, dan dengan cara demikian ia membentuk dirinya. Struktur personal, self-governance, yang menunjukkan seseorang memerintah dirinya sendiri secara bersamaan menunjukkan pula bahwa ia memiliki dirinya, self-possession, sungguh menampakkan transendensi manusia. Transendesi manusia tampak di saat ia sendiri memerintah atau mengatur dirinya secara bebas untuk bertindak terhadap objek. Dengan demikian, transendensi nampak dalam kebebasan untuk memilih dan memutuskan tindakan yang tertuju pada objek eksterior, yang WojtyCa sebut sebagai transendensi horizontal. Menurut WojtyCa, person tidak hanya mengarahkan tindakananya ke objek ekternal tetapi tindakan itu tertuju pula pada dirinya sendiri yang berdampak pada pembentukan atau pemenuhan diri. Ini yang WojtyCa sebut sebagai transendensi vertikal. Transendensi ini tampak dalam moment efikasi atau moment dimana seseorang menjadi actor dari tindakannya sendiri, dan hal ini tidak ditemukan dalam natural being lainnya. Singkatnya, transendensi person tampak dalam Autindakan kehendak bebasAy sebagai aspek dari person dengan struktur self-governance dan self-possession. Menurut WojtyCa, melalui analisa tindakan dalam pengalaman, dimana seseorang mengatur dirinya sendiri, kita menemukan person sebagai efficien cause-nya dan sekaligus menemukan person hadir atau tampak dalam tindakan tersebut. Seorang person yang baik atau buruk dibentuk dan dimunculkan melalui tindakan. Tindakan membentuk atau mengkonstruksi person dan menampakannya. Seorang person menjadi baik atau jahat berdasar pada tindakannya sendiri. Dengan demikian, person menjadi subjek sekaligus objek dari tindakannya. Disini. WojtyCa mengatakan bahwa person tidak lain adalah nama lain dari transendensi. Akan tetapi. WojtyCa menekankan point penting bahwa person yang tampak dalam tindakan itu adalah sintesa antara efikasi dan subjektiveness. Efikasi adalah Aumomen menjadi actor dari tindakanAy. 12 Sedangkan, subjektiveness merujuk pada Auapa yang terjadi dalam manusiaAy . hat happen in ma. atau apa yang terberikan. Gagasan ini sebagai kontra terhadap Scheler yang melihat person hanya sebagai kesatuan dari berbagai macam tindakan. Dalam gagasan WojtyCa ada sintesa antara keaktifan dalam efikasi dan AukepasifanAy13 pada apa yang terjadi dalam manusia. Dengan demikian, person tidak hanya dimengerti sebatas Ausaya yang hadir dalam tindakanAy saja atau sebaliknya person hanya sebatas Ausubjektiveness saya yang terberiAy atau dalam terminology filsafat tradisional sebagai Suppositum atau dalam terminology Boethius Individua substantia. Bagi WojtyCa, person adalah subjek dari tindakan sadar dan hadir dalam setiap tindakan sadar mempunyai dasar pijakan pada saya yang terberi yang disebut Suppositum yang menjadi subjek dari eksistensi dan semua aktivitas. Jadi person berpijak dan tercakup dalam Suppositum sekaligus hadir dalam tindakan. Suppositum ini adalah sesuatu yang memiliki kodrat rasional yang menjamin identitas manusia dalam eksistensi dan semua aktivitasnya termasuk tindakan personal. 14 Di sini tampak WojtyCa mengikuti dan mengembangkan pandangan para Skolastik yang melestarikan pandangan Boethius person est rationalis naturae individua substantia. Karena itu, menurut WojtyCa, dalam pengalaman manusia kita mengalami dua level subjektivitas yaitu subjektivitas pada level kesadaran dan subjektivtias pada level metafisika. Pada level kesadaran Ibid. Ibid. , 66. Kepasifan adalah istilah saya. Istilah ini bukan dimaksudkan bahwa subjektiveness saya memang sama sekali pasif. Pasif yang dimaksudkan hanya dalam konteks tindakan sadar. Dalam subjektivness saya tetap ada dinamisme aktivitas-aktivitas di luar dari tindakan sadar, yang WojtyCa sebut dengan istilah aktivasi. Lih. Richard A. Spinello,AyThe Enduring Relevance of Karol WojtyCaAos PhilosophyAy. Logos 17:3 (Summer 2. , 21-22. kita mengalami person sebagai subjek dari tindakan-tindakan sadar dan pada level metafisiska kita mengalami Audiri saya sendiri sebagai substansi individualAy yang menjadi subjek dari eksitensi dan semua aktivitas. TRANSENDENSI PERSON DAN INTEGRASI Transendensi person dalam tindakan memiliki elemen komplemen yaitu integrasi. Integrasi yang ia maksudkan pertama-tama adalah integrasi antara person dan tindakan. Pengalaman bahwa Ausaya sedang bertindakAy mengandung makna bahwa saya secara menyeluruh disatukan dalam tindakan saya. Pengalaman ini mempertunjukkan transendensi person melalui struktur self-governance dan self- possession tetapi sekaligus menampakkan integrasi person dan tindakan. 16 Person dan tindakan pertama-tema berintegrasi karena tindakan itu muncul dari self-governance. 17 Integrasi person dan tindakan lebih lanjut terjadi pada level soma . dan psike. Di sini integrasi berarti keseluruhan atau kesatuan melalui person dan tindakannya masuk ke lingkup soma dan Soma atau tubuh manusia mencakup Auaspek dalamAy dan Auaspek luarAy dengan dinamismenya masingmasing. Dinamisme Auaspek dalamAy disebut reaktifitas dan dinamisme Auaspek luarAy disebut gerak. Gerak pada aspek luar tubuh berdasar pada reaktifitas dalam tubuh. Integrasi terjadi ketika reaktifitas dan gerak ini dilibatkan dalam tindakan person. Jika reaktifitas dan gerak terjadi tanpa kaitan dengan tindakan person, maka yang ada hanyalah Auapa yang terjadi pada manusia. Ay Jika reaktifitas dan gerak diintegrasikan dalam tindakan person maka di sini tubuh manusia dipahami sebagai sarana untuk memanifestasikan tindakan person. WojtyCa menegaskan bahwa tubuh bukanlah saya, tapi saya memiliki tubuh. Saya sebagai person mempekerjakan tubuh saya dalam tindakan yang sadar dan bebas. Jika reaktivitas menjadi sifat dasar dari tubuh maka emosi adalah sifat dasar dari psike. Tubuh mampu reaktif terhadap stimulus secara spontan dan instinktual serta menghasilkan gerak. Sedangkan psike, bukan dalam arti metafisika, mempunyai kemampuan untuk merasa. Perasaan mempunyai hubungan erat dengan kesadaran dan ego atau saya. Misalnya, dalam pengalaman akan tubuh, saya dapat merasakan tubuh saya sebagai tubuhku karena kaitan dengan kesadaran dan ego. Begitu pula dengan pengalaman-pengalaman lainnya, karena pengalaman akan tubuh telah menjadi prototipenya. Jika perasaan itu diintegrasikan dengan tindakan person maka perasaan itu dapat dialami dan direfleksikan. Akan tetapi, jika perasaan itu terjadi tidak dalam kaitan dengan tindakan person yang sadar maka perasaan itu hanyalah sesuatu yang terjadi pada manusia. Selain itu. WojtyCa menjelaskan bahwa dalam kaitan dengan tindakan, emosi atau perasaan mempunyai kemampuan untuk merasakan nilai. Nilai itu kemudian ditransfer kepada kehendak untuk pertimbangan pilihan dan Nilai yang dirasakan ada dalam kerjasama emosi dan kesadaran. Akan tetapi. WojtyCa menjelaskan bahwa bukan hanya emosi yang mempunyai kaitan dengan nilai tetapi akal budi. Akal budi mempunyai intensionalitas terhadap nilai sedangkan emosi semata-mata hanya bereaksi terhadap nilai yang dijumpai dalam TRANSENDENSI PERSON DAN PARTISIPASI Transendensi person tidak hanya terbatas dalam aspek atau momen integrasi tetapi termanifestasi juga dalam relasi intersubjektif atau relasi I-other dalam komunitas. Dalam komunitas (Communio Personaru. , person mencapai transendensi riil. WojtyCa menekankan bahwa dalam komunitas, dimana terdapat relasi intersubjektivitas. Bdk. Karol WojtyCa. AuThe Person: Subject and CommunityAy in in Person and Community: Selected Essays. Trans. by Theresa Sandok. OSM (New York: Peter Lang, 1. , 222-223. Karol WojtyCa. Acting Person, 192. Lih. Tomasz Duma. AuPersonalism in the Lublin School of PhilosophyAy. Studia Gilsoniana 5:2 (April-Juni 2. , 379. Grzegorz HoCub. AuThe Relation between Consciousness and Emotions in the Thought of Karol WojtyCaAy. The Person and the Challenges. Volume 5 . Number 2, 152. person tidak kehilangan keunggulannya. 19 Fakta adanya relasi intersubjektivitas atau relasi social, sesungguhnya, didasarkan dalam personal subjek atau intrinsik di dalam person. WojtyCa nyatakan sebagai berikut: This of course is a direct and natural consequence of the fact that man lives Autogether with other menAy and indeed we may even go so far as to say that he exists together with other men. The mark of the communal-or social- trait is essentialy imprinted on human existence itself. Dengan demikian, person telah memiliki jaringan relasi dengan orang lain dalam dirinya. Atau dengan kata lain, relasi dengan orang lain telah memiliki dasar realitas ontologis pada person. WojtyCa katakan sebagai berikut. Autheir social and communal nature is rooted in the nature of person and not vice versa. Ay21 Hubungan sosial atau relasi intersubjektivitas yang didasarkan pada transendensi atau relasi person dan tindakan dapat diwujudkan melalui partisipasi atau co-acting. Dalam partisipasi Saya yang memerintah atau mengatur diri saya berdasarkan tindakan kehendak bebas saya untuk bertindak bersama dalam komunitas. Partisipasi ini adalah bentuk kehidupan social yang dibentuk karena transendensi dan integrasi person dalam tindakan. Partisipasi berarti saya mengalami orang lain sebagai person atau orang lain sebagai saya yang lain. WojtyCa tekankan sebagai berikut. AuAnother person is a neighbor to me not just because we share like humanity, but chiefly because the other is another IAy. 23 Akan tetapi, pengalaman saya akan saya yang lain tidak lah sama dengan pengalaman akan diri saya sendiri, karena diri saya sendiri tidak bisa ditransfer, begitupun sebaliknya. 24 Partisipasi, selanjutnya, dapat membuat seorang person sadar akan dirinya sendiri, menjadi dirinya sendiri dan menentukan dirinya kepada pemenuhan diri, dalam eksistensi dan tindakan-tindakan bersama orang lain. Karena itu, partisipasi bisa bermakna realisasi tindakan personal atau Aunilai personalikAy sekaligus kemampuan untuk berada dan bertindak bersama, seperti yang dikatakan WojtyCa: Authe ability to exist and act together with others in such a way that in this existing and acting we remain ourselves and actualize ourselves, which means our own IAos. 25 Jadi. WojtyCa menekankan bahwa dalam partisipasi itu person tidak kehilangan dirinya di antara diri atau saya yang lain. Bahkan dalam partisipasi itu person akan mencapai kesadaran diri, pemilikan diri dan pemenuhan dirinya melalui tindakan dalam komunitas serta menyadari adanya kehadiran saya yang lain. Dengan landasan pemikiran ini WojtyCa menolak gagasan individualisme dan anti-individualisme atau totalisme, karena kekeliruan pemahaman antropologi. Gagasan individualisme ini dapat dilihat pada konsep Sartre. Sartre menganggap manusia adalah kebebasan. Ia bebas tanpa determinasi. 26 Karena itu, ia menganggap orang lain sebagai neraka. 27 Jauh sebelum Sartre, ada konsep individualisme kaum liberal seperti dari Hobbes dan Locke. Dalam pandangan mereka, person adalah self-sufficient dan relasi dengan orang lain hanya terjadi secara aksidental. Dari kodratnya, manusia hanyalah Individu. Setiap Individu fokus pada kebaikan dan kepentingannya sendiri. Komunitas atau masyarakat hanya ada untuk melindungi hak-hak individu dari gangguan orang lain. Richard A. Spinello,AyThe Enduring Relevance of Karol WojtyCaAos PhilosophyAy, 39. Karol WojtyCa. Acting Person, 262. Ibid. , 263. Tomasz Duma. AuPersonalism in the Lublin School of PhilosophyAy, 380. Lih. Karol WojtyCa. AuParticipation and Alienation?Ay, in Person and Community Selected Essay. Trans. Theresa Sandok. OSM (New York:Peter Lan. , 201. Karol WojtyCa. Acting Person, 271. Karol WojtyCa. AuParticipation and Alienation?Ay, 202. Ibid. Richard A. Spinello. AyThe Enduring Relevance of Karol WojtyCaAos PhilosophyAy, 20. Rocco Buttiglione. Karol WojtyCa. The Thought of The Man Who Became Pope John Paul II. Trans. Paolo Guietti ans Francesca Murphy (Michigan: William B. Eerdmans Publishing, 1. , 287. Richard A. Spinello,AyThe Enduring Relevance of Karol WojtyCaAos PhilosophyAy, 42. Ibid. Selain itu, konsep anti-individualisme atau totalisme dapat dijumpai dalam pandangan Marxisme. Sejak awal. Marx berpendapat bahwa esensi manusia bukanlah abstraksi inherent dalam setiap individu tunggal. 30 Dalam kenyataannya esensi manusia adalah penyatuaan dari relasi-relasi social. Karena itu, manusia tidak memiliki apa-apa di luar masyarakat. Ia pun tidak hanya tidak dapat eksis di luar masyarakat, tetapi juga tidak dapat berpikir secara independen dari masyarakat. 31 Para Marxist di masa kontemporer berpendapat bahwa manusia adalah semata-mata materi: Ia adalah pengada material yang memuaskan kebutuhan-kebutuhan dasar manusia dengan aktivitas fisik yang pada gilirannya menentukan kehidupan social dan politiknya. Para Marxis yakin bahwa kerja fisik adalah proses penciptaan diri. Dalam kaitan dengan relasi social sebagai struktur ontik manusia. Marxisme mengajarkan bahwa manusia hidup dalam kesatuan dengan yang lain. Kesatuan dengan orang lain adalah kepastian. Para Marxis meyakini bahwa manusia tidak memiliki apapun secara independen dan personal. Masyarakat adalah yang utama. Masyarakat itulah yang membentuk individualitas particular manusia dan menunjukan cara bertindak dalam situasisituasi social yang nyata. WojtyCa menolak dua kutub pemikiran yang bertolak belakang ini, tetapi sama-sama mereduksi manusia. Baginya komunitas sebagai bentuk konkret dari relasi I-Other harus didasarkan pada partisipasi dan partisipasi itu mempunyai dasarnya pada nilai personalistik atau tindakan person yang menunjukkan transendensinya. Baginya, akibat dari absensi partisipasi baik yang ditunjukkan oleh kaum individualis maupun anti-individualis adalah Menurut WojtyCa struktur eksistensi social manusia perlu dievaluasi dalam cahaya realasi social ini dimana ada partisipasi yang membangun Communio Personarum atau sebaliknya penolakan terhadapa aspek ini yang menyebabkan adanya alienasi. WojtyCa juga menambahkan pada bagian akhir bukunya Acting Person bahwa fakta alienasi dapat terhindarkan pula dengan perintah Injili untuk mencintai. Perintah cinta ini harusnya sebagai aturan untuk eksistensi dan tindakan manusia bersama dengan orang lain. 32 Dengan perintah cinta ini, manusia berpartisipasi dengan orang lain sebagai tetangga dan mengalami mereka sebagai seorang person atau Ausaya yang lain. KESIMPULAN Manusia bukan hanya salah satu spesies di antara spesies yang lain dengan kodrat rasional sebagai Lebih dalam dari itu ia adalah person dengan kodrat rasional dan sungguh-sungguh unik dan tak tergantikan dalam dan melalui tindakan sadar. Transendensi person mempertajam dan memperjelas status keunikan dari person. Transendensi berarti setiap person memerintah . dirinya masing-masing. Melalui self-governance ia bebas memilih tindakan dan mengaktualisasikan dirinya sendiri. Karena itu, setiap person bebas untuk menentukan tindakan yang baik atau buruk sekaligus memilih menjadi orang baik atau buruk sebagai dampak dari pilihan tindakannya. Transendensi person yang dikonsepkan oleh WojtyCa, sesungguhnya, bukan dalam arti metafisika secara umum, yang menekankan perhatian pada karakter transendental being secara umum. 33 Transendensi person yang dimaksudkan olehnya lebih berkaitan dengan tindakan AukehendakAy dengan aspek kebebasannya atau selfdetermination dengan struktur self-governance dan self-possession. Dengan demikian transendensi person difokuskan pada tindakan kehendak dalam memilih dan memutuskan tindakan menuju nilai objektif yang pada akhirnya membentuk diri person sendiri, entah menjadi person baik atau buruk. Person sendiripun memiliki tanggungjawab terhadap pilihan tindakan dan konsekuensinya. Karena itu bagi WojtyCa person adalah moral Krapiec Mieczyslaw A. I-Man: An Outline of Philosophical Anthropology. Trans. , by Marie Lescoe. Andrew Woznicki. Theresa Sandok et al (New Britain: Mariel Publication, 1. , 50. Ibid. Karol WojtyCa. Acting Person, 298. Tomasz Duma. AuPersonalism in the Lublin School of PhilosophyAy, 377. DAFTAR PUSTAKA