JURNAL KEPEMIMPINAN & PENGURUSAN SEKOLAH Homepage : https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/jp Email : jkps. stkippessel@gmail. p-ISSN : 2502-6445 . e-ISSN : 2502-6437 Vol. No. September 2025 Page 1276-1287 A Author Jurnal Kepemimpinan & Pengurusan Sekolah EFEKTIVITAS METODE STORYTELLING BERBANTUAN TUTOR SEBAYA UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN BERBICARA ANAK DENGAN HAMBATAN EMOSI DAN PERILAKU Radiah1. Marlina2. Rahmahtrisilvia3. Arisul Mahdi4 1,2,3,4 Universitas Negeri Padang. Indonesia Email: radiah2604@gmail. DOI: https://doi. org/10. 34125/jkps. Sections Info Article history: Submitted: 23 July 2025 Final Revised: 18 August 2025 Accepted: 16 August 2025 Published: 29 September 2025 Keywords: Storytelling Method Speaking Skills Emotional and Behavioral Barriers ABSTRACT Children with emotional and behavioral disabilities generally experience challenges such as a tendency to be tense, withdrawn, lacking self-confidence, quiet, easily bored, and having difficulty expressing their opinions and feelings. Based on the results of an assessment conducted at an inclusive school, one student demonstrated a lack of speaking skills. The results of the identification and assessment conducted by the researcher were based on the special needs children identification instrument and speaking skills assessment. The purpose of this study was to test the effectiveness of the peer tutor-assisted storytelling method in improving the speaking skills of children with emotional and behavioral disabilities. The selection of research subjects used the special needs children identification instrument and speaking skills assessment. This study used a single subject research form with a multiple baseline cross-variable The research subject was one person with four aspects: pronunciation, vocabulary, structure, and self-confidence. Data were collected through oral tests and the tools used were speaking skills instruments and data processing used were Data analysis was made in the form of visual graphic analysis consisting of analysis within conditions and analysis between conditions. The results showed an increase in speaking skills in children after being given the peer tutor-assisted storytelling method. ABSTRAK Anak dengan hambatan emosi dan perilaku pada umumnya mengalami hambatan seperti cenderung tegang, suka menyendiri, kurang percaya diri, pendiam, gampang bosan dan sulit dalam mengungkapkan pendapat serta kurang dalam mengekspresikan perasaannya. Berdasarkan hasil asesmen yang telah dilakukan di sekolah inklusif terdapat satu siwa yang menunjukkan kurangnya dalam keterampilan berbicara. Hasil identifikasi dan asesmen yang peneliti lakukan didasari oleh instrumen identifikasi anak berkebutuhan khusus dan asesmen keterampilan berbicara. Tujuan penelitian yaitu menguji keefektifan metode storytelling berbantuan tutor sebaya untuk meningkatkan keterampilan berbicara anak dengan hambatan emosi dan perilaku. Pemilihan subjek penelitian menggunakan instrumen identifikasi anak berkebutuhan khusus dan asesmen keterampilan berbicara. Penelitian ini menggunakan bentuk single subject research dengan desain multiple baseline cross variable. Subjek penelitian satu orang dengan empat aspek yaitu pelafalan, kosakata, struktur dan percaya Data dikumpulkan melalui tes lisan dan alat yang digunakan yaitu instrumen keterampilan berbicara serta pengolahan data yang digunakan yaitu persentase. Data analisis dibuat dalam bentuk analisis visual grafik yang terdiri dari analisis dalam kondisi dan analisis antar kondisi. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan keterampilan berbicara pada anak setelah diberikannya metode storytelling berbantuan tutor sebaya. Kata kunci: Metode Storytelling. Keterampilan Berbicara. Hambatan Emosi Dan Perilaku Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Efektivitas Metode Storytelling Berbantuan Tutor Sebaya Untuk Meningkatkan Keterampilan Berbicara Anak Dengan Hambatan Emosi Dan Perilaku PENDAHULUAN Bahasa punya peran penting dalam dunia pendidikan, salah satu fungsi bahasa adalah untuk menyampaikan informasi. Fungsi ini berkaitan dengan berbagai hal yang dipelajari dalam bahasa Indonesia, mulai dari tingkat SD sampai perguruan tinggi (Kusuma et al. , 2. Pembelajaran bahasa Indonesia diarahkan untuk mengembangkan keterampilan anak dalam berkomunikasi secara efektif dalam bahasa Indonesia dengan baik dan benar, baik secara lisan maupun tulis, serta menumbuhkan apresiasi terhadap hasil karya kesastraan manusia Indonesia (Pratiwi, 2. Dalam pembelajaran bahasa salah satu keterampilan yang harus dikuasai anak adalah keterampilan berbicara. Keterampilan berbicara ini mempunyai peran penting karena merupakan ciri kemampuan komunikatif anak. Dengan kata lain, kemampuan berbicara adalah kemampuan seseorang untuk mengucapkan kata-kata yang bisa dipahami oleh orang lain untuk menyampaikan pikiran, ide, dan perasaan secara jelas. Berbicara tidak hanya untuk memberi informasi, tetapi juga untuk menyampaikan emosi dan gagasan (Ilham & Wijiati, 2. Menurut (Wea et al. , 2. Kemampuan berbicara mencakup keterampilan menyampaikan pesan secara lisan dengan kata-kata yang mudah dimengerti, sehingga isi pembicaraan dapat diterima dengan baik oleh pendengar. Anak yang tidak memiliki keterampilan berbicara akan mengalami kesulitan dalam berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang lain. Hal ini bisa mengganggu proses belajar karena anak enggan bertanya, merasa stres, kesepian, dan kurang mendapat dukungan Akibatnya, anak bisa mengalami masalah perilaku, seperti sulit mengungkapkan emosi, percaya diri rendah, dan sering terjadi kesalahpahaman. Dampaknya tidak hanya dirasakan di rumah dan sekolah, tetapi juga dalam kehidupan sosial anak secara luas (Nofrianni & Andriani, 2. Ada berbagai cara yang dapat dilakukan untuk meningkatkan keterampilan berbicara pada anak. salah satunya dapat ditingkatkan melalui berbagai cara yang melibatkan interaksi aktif, latihan, dan dukungan lingkungan. Oleh karena itu, orang tua atau pendidik dapat secara aktif mengajak anak berbicara dalam percakapan sehari-hari, seperti saat makan bersama atau bermain (Wikaningtyas, 2. Kegiatan ini tidak hanya melatih kemampuan berbicara, tetapi juga membangun kepercayaan diri anak. semakin sering anak terlibat dalam komunikasi, semakin berkembang pula kemampuan bahasanya. Berdasarkan studi pendahuluan yang dilaksanakan peneliti pada tanggal 20-22 Januari 2024 di SMP Negeri 23 Padang. Peneliti melakukan pengamatan dengan menggunakan instrumen identifikasi anak dengan hambatan emosi dan perilaku menurut DSM-IV (Marlina, 2. Peneliti mendapati Anak kelas Vi yang mengalami hambatan emosi dan perilaku yang kesulitan dalam keterampilan berbicara. Beberapa perilaku yang muncul yaitu anak sering malu ketika diminta berbicara atau bercerita di depan kelas. Anak merasa takut saat diminta ke depan kelas, minimnya kontak mata dan cenderung menunduk saat diajak berbicara dan anak tidak ingin meminta bantuan jika mengalami kesulitan dalam pembelajaran sehingga berakhir tidak mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru. Berdasarkan hasil wawancara dengan guru kelas. EV penyebab perilaku muncul karena anak tersebut kurang percaya diri dan lingkungan sosial yang kurang mendukung anak untuk berinteraksi, dan faktor lainnya anak juga memiliki trauma di keluarganya. Guru juga menjelaskan kemampuan EV dalam pembelajaran bahasa Indonesia berbeda setiap elemennya, pada elemen menyimak, membaca dan menulis kemampuan EV berada pada fase D, namun pada elemen berbicara berada pada fase C. Dalam menangani anak tersebut, guru menggunakan metode tanya jawab. Metode ini Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Efektivitas Metode Storytelling Berbantuan Tutor Sebaya Untuk Meningkatkan Keterampilan Berbicara Anak Dengan Hambatan Emosi Dan Perilaku hanya berfokus pada perilaku yang dapat diamati dalam setiap aktivitas individu (Puspasari, 2. Guru menerapkan metode ini dengan berfokus pada punishment saat tidak menyelesaikan tugas, misalnya dengan menegaskan bahwa anak tidak akan mendapatkan Sebaiknya, jika anak bersedia maju ke depan kelas dan menyelesaikan tugasnya, guru memberikan reward berupa pujian. Namun, metode yang digunakan belum berhasil mengubah perilaku anak secara signifikan. Anak masih belum berani memulai interaksi dengan teman dan tetap kurang percaya diri. Guru kelas juga sudah mencoba melibatkan guru pendamping (GPK), tapi hasilnya tetap sama. Akhirnya, guru memutuskan untuk tidak lagi fokus pada perubahan perilaku anak, melainkan hanya memperhatikan aspek Melihat adanya kelemahan dalam metode tanya jawab, maka metode storytelling berbantuan tutor sebaya dipilih menjadi salah satu untuk solusi dalam meningkatkan keterampilan berbicara, dilihat dari beberapa penelitian terdahulu yang dilakukan, metode storytelling ini efektif untuk meningkatkan keterampilan berbicara anak (Yolanda & Muhid. Metode storytelling berbantuan tutor sebaya juga mampu menanamkan nilai karakter peduli sosial pada anak dengan hambatan emosi dan perilaku. Menurut (Yolanda & Muhid, 2. penerapan metode storytelling berbantuan tutor sebaya dapat dilakukan melalui tahapan-tahapan yaitu tahap seleksi tutor sebaya, tahap pelatihan tutor sebaya, tahap storytelling, dan tahap evaluasi METODE PENELITIAN Desain Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan Single Subject Research (SSR) atau penelitian subjek tunggal. Pendekatan SSR dirancang untuk mengamati dan mencatat perilaku individu secara mendetail (Marlina, 2. Penggunaan pendekatan SSR karena subjek dalam penelitian ini tidak dibandingkan antar kelompok tetapi dibandingkan pada subjek yang sama dalam kondisi yang berbeda. Maksud dari kondisi ini adalah kondisi baseline dan kondisi eksperimen . Baseline adalah kondisi di mana pengukuran target behavior dilakukan dalam keadaan natural sebelum diberikan intervensi apa pun. Kondisi eksperimen adalah kondisi di mana suatu baseline telah diberikan dan target behavior di ukur di bawah kondisi tersebut (Marlina, 2. Penelitian ini menggunakan desain multiple baseline, yaitu multiple baseline cross variable. Desain ini bertujuan untuk mengamati lebih dari satu perilaku dengan menerapkan satu jenis intervensi. Dalam desain ini, fase baseline (A) dan intervensi (B) dapat berlangsung secara bersamaan, asalkan data pada fase baseline telah mencapai kestabilan dengan persentase minimal 85%. Pendekatan multiple baseline cross variable dilakukan melalui dua fase utama, yaitu baseline dan fase intervensi (Marlina, 2. Subjek Penelitian Subjek penelitian ini adalah anak kelas Vi SMPN 23 Padang. Secara fisik EV tidak jauh berbeda dengan anak pada umumnya, namun ia mengalami kesulitan dalam keterampilan Berikut adalah kondisi demografi dari subjek penelitian : Tabel 1. Kondisi Demografi Subjek Penelitian Nama Usia : 13 Tahun Jenis Kelamin : Perempuan Hasil Asesmen : Dari hasil asesmen terdapat minimnya kontak mata saat berbicara, rendahnya partisipasi dalam kelompok, tidak pernah memulai Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Efektivitas Metode Storytelling Berbantuan Tutor Sebaya Untuk Meningkatkan Keterampilan Berbicara Anak Dengan Hambatan Emosi Dan Perilaku pembicaraan dengan teman, lebih suka menggambar sendirian di kelas, gelisah saat dihadapkan dengan masalah, kurang berpartisipasi dalam proses pembelajaran, tidak konsentrasi saat pembelajaran, pemahaman materi yang rendah, dan berpakaian sekolah kurang rapi Teknik Analisis Data Teknik pengumpulan data yang diterapkan ialah tes lisan dengan menggunakan aspek pelafalan, kosakata, struktur, dan percaya diri dalam menyampaikan sebuah cerita narasi yang sesuai dengan CP&ATP Bahasa Indonesia pada Fase C. Alat penelitian yang diterapkan dalam penelitian ini yaitu instrumen keterampilan berbicara dan data yang dikumpulkan yaitu menggunakan persentase. Dalam penelitian ini menggunakan analisis visual grafik sebagai teknik analisis data yang mana terdiri dari analisis antar kondisi dan analisis dalam kondisi (Marlina, 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian ini dilaksanakan dengan metode eksperimen berbentuk single subject research (SSR). Penelitian ini dilaksanakan saat jam pelajaran berlangsung di dalam kelas dengan subjek penelitiannya yaitu seorang siswa dengan hambatan emosi dan perilaku berusia 13 tahun yang duduk di kelas Vi di SMP Negeri 23 Padang. Sebelum pelaksanaan baseline dan intervensi, peneliti melakukan seleksi tutor sebaya melalui wawancara dengan guru kelas dan diperoleh tiga calon tutor yaitu. M, dan S. ketiganya kemudian diberikan pretest untuk menilai kemampuan awal, dengan hasil R memperoleh skor 83%, sedangkan M dan S sama-sama mendapatkan skor 66%. Berdasarkan hasil tersebut. R dipilih sebagai tutor sebaya karena memiliki nilai tertinggi. Selanjutnya. R mengikuti pelatihan metode storytelling selama tiga hari pada tanggal 16-18 Juni 2025 di Materi pelatihan mencakup cara bercerita dengan pelafalan yang jelas, penggunaan fonem dan artikulasi yang tepat, pemilihan kosakata . ata kerja, kata sifat dan kata kunc. , penyampaian cerita dengan kalimat pembuka, penutup, penggunaan kata konjungsi, serta menyampaikan cerita dengan tenang, menjaga kontak mata, dan menunjukkan postur tubuh yang tegap. Setelah pelatihan selesai, dilakukan postest untuk menilai kembali kemampuan hasil postest menunjukkan peningkatan menjadi 91%, lebih tinggi dari nilai pretest sebelumnya, sehingga R dinyatakan layak sebagai tutor sebaya dalam penerapan metode Tahap berikutnya pelaksanaan penelitian ini dilaksanakan dengan pengamatan sebanyak 16 kali pertemuan terhadap satu anak. Penelitian ini menggunakan empat variabel untuk mengukur keterampilan berbicara pada anak dengan hambatan emosi dan perilaku. Kondisi pertama adalah baseline, di mana peneliti mengamati perilaku anak sebelum diberikan intervensi menggunakan metode storytelling berbantuan tutor sebaya. Kondisi kedua adalah intervensi, di mana peneliti mengamati keterampilan berbicara anak setelah intervensi dengan metode storytelling berbantuan tutor sebaya diterapkan. Berikut link kondisi baseline dan intervensi. https://drive. com/drive/folders/1CQKpdWfzeaxwlUSQlDaKB2gLKDEhcTb?usp=sharing Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Efektivitas Metode Storytelling Berbantuan Tutor Sebaya Untuk Meningkatkan Keterampilan Berbicara Anak Dengan Hambatan Emosi Dan Perilaku Analisis dalam kondisi pada Empat variabel yang digunakan dalam penelitian ini dapat dilihat pada grafik berikut : Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Efektivitas Metode Storytelling Berbantuan Tutor Sebaya Untuk Meningkatkan Keterampilan Berbicara Anak Dengan Hambatan Emosi Dan Perilaku Grafik 1. Analisis dalam kondisi Keterangan : Baseline A Intervensi B Trend Split Middle Mean Level Berdasarkan grafik analisis dalam kondisi akan menjelaskan perubahan data yang terjadi antara kondisi awal dan kondisi pada saat diberikan intervensi. Berikut penjelasannya Pada grafik persentase pelafalan memperlihatkan kondisi baseline dan intervensi. Pada kondisi awal kemampuan pelafalan sebelum diberikan intervensi menunjukkan kecenderungan arah menurun. Hal ini terlihat pada kondisi baseline panjang kondisi berlangsung selama 4 sesi dengan kecenderungan arah negatif (-) dan level perubahan tetap . Kecenderungan stabilitas pada kondisi awal tidak stabil dengan persentase 0% serta rentang level stabilitas berada pada angka 33-33. Setelah diberikan intervensi melalui metode storytelling berbantuan tutor sebaya kemampuan pelafalan subjek EV menunjukkan arah positif ( ), yang berarti terjadi peningkatan keterampilan berbicara, khususnya pada aspek pelafalan. Peningkatan pada kondisi awal yang terlihat pada grafik sempat terjadi karena subjek mengikuti kegiatan di ruangan sendiri tanpa gangguan siswa lain, sehingga lebih fokus dalam menceritakan cerita. Namun, pada saat intervensi mengalami penurunan pada sesi ke-4 hingga ke-8, hal ini disebabkan anak masih cenderung terburu-buru ketika membaca cerita, sehingga intonasi yang dihasilkan kurang tepat. Pada aspek kosakata, keterampilan berbicara subjek EV pada kondisi awal menunjukkan kecenderungan menurun dengan tingkat stabilitas yang tidak stabil. setelah diberikan intervensi melalui metode storytelling berbantuan tutor sebaya, kondisi EV mengalami perubahan positif. Hal ini terlihat dari kecenderungan arah yang meningkat, meskipun level perubahan tetap . Peningkatan ini menandakan adanya perubahan positif pada keterampilan berbicara EV setelah diberikan intervensi. Penurunan yang terjadi pada Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Efektivitas Metode Storytelling Berbantuan Tutor Sebaya Untuk Meningkatkan Keterampilan Berbicara Anak Dengan Hambatan Emosi Dan Perilaku kondisi awal dapat dilihat pada grafik kosakata, di mana EV sering melafalkan kata kurang tepat. Hal ini dipengaruhi oleh masalah eksternal dari rumah, sehingga berdampak pada kemampuan anak saat bercerita di depan orang lain, walaupun ia sudah mendapatkan pendampingan dari tutor sebaya. Sedangkan pada tahap intervensi terakhir, grafik kembali menunjukkan adanya penurunan. Kondisi ini terjadi karena ketika diminta menjawab lima kata kunci. EV tidak dapat memberikan jawaban yang benar dan akhirnya perlu dibantu berulang kali oleh tutor. Pada aspek struktur, keterampilan berbicara EV pada kondisi awal menunjukkan kecenderungan meningkat dengan tingkat stabilitas yang tidak stabil. selanjutnya kondisi subjek EV mengalami perubahan mendatar pada kondisi setelah diberikan metode storytelling berbantuan tutor sebaya dengan level perubahan . Adanya perubahan data awal kondisi pada aspek struktur menunjukkan adanya perubahan setelah pemberian perlakuan pada aspek sebelumnya. Pada aspek percaya diri, pada kondisi awal keterampilan berbicara subjek EV menunjukkan peningkatan dengan level stabilitas tidak stabil. selanjutnya kondisi setelah diberikan intervensi mengalami perubahan positif dengan level perubahan ( . Adanya perubahan data awal kondisi pada aspek percaya diri menunjukkan adanya perubahan setelah pemberian perlakuan sebelumnya. peningkatan pada kondisi awal terjadi karena subjek mampu menyampaikan cerita dengan tenang. Namun, pada sesi berikutnya terlihat penurunan, ditandai dengan perilaku anak yang kembali bercerita sambil menggerakkan kakinya. Selain itu, subjek juga kesulitan menjaga kontak mata dengan lawan bicara dan cenderung hanya menunduk selama bercerita. Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Efektivitas Metode Storytelling Berbantuan Tutor Sebaya Untuk Meningkatkan Keterampilan Berbicara Anak Dengan Hambatan Emosi Dan Perilaku Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Efektivitas Metode Storytelling Berbantuan Tutor Sebaya Untuk Meningkatkan Keterampilan Berbicara Anak Dengan Hambatan Emosi Dan Perilaku Grafik 2. Analisis antar kondisi Keterangan : Baseline A Intervensi B Trend Split Middle Mean Level Berdasarkan grafik analisis antar kondisi akan menjelaskan perubahan data yang terjadi antara kondisi awal dan kondisi pada saat diberikan intervensi. Berikut penjelasannya : Kondisi awal subjek EV pada aspek pelafalan menunjukkan kecenderungan arah menurun dengan persentase keterampilan berbicara ditunjukkan oleh nilai mean level 41,5. Pada kondisi setelah pemberian metode storytelling berbantuan tutor sebaya kecenderungan arah meningkat. Perubahan kecenderungan arah aspek pelafalan antar kondisi sesudah pemberian metode storytelling berbantuan tutor sebaya menunjukkan perubahan kecenderungan dari awalnya menurun menjadi naik dengan persentase overlap 0%. Pada level perubahan B ke-A terdapat 34%, ini menunjukkan efek positif dari pemberian metode storytelling berbantuan tutor sebaya. Sehingga pemberian intervensi untuk perilaku yang pertama pada aspek pelafalan menunjukkan efek positif. Pada aspek kosakata, untuk kondisi awal subjek EV menunjukkan kecenderungan arah meningkat dengan mean level 61,3. Pada kondisi setelah pemberian metode storytelling berbantuan tutor sebaya kecenderungan arah meningkat dengan mean level juga mengalami peningkatan menjadi 90,1. Perubahan kecenderungan arah pada pemberian intervensi aspek kosakata juga menunjukkan efek positif terlihat dari perubahan kecenderungan dari menurun menjadi meningkat pada kondisi intervensi. Sehingga pemberian intervensi pada aspek kosakata menunjukkan efek positif. Pada aspek struktur, untuk kondisi awal subjek EV menunjukkan kecenderungan arah meningkat dengan mean level 48,1. Pada kondisi setelah pemberian metode storytelling berbantuan tutor sebaya tidak menunjukkan kecenderungan arah karena hasil yang diperoleh mendatar dengan mean level 81,14. Perubahan kecenderungan arah pada pemberian intervensi aspek struktur menunjukkan efek positif terlihat dari perubahan kecenderungan arah walaupun pada kondisi awal meningkat dan pada kondisi intervensi mendatar namun tetap ada perubahan. Sehingga pemberian intervensi pada aspek struktur menunjukkan efek positif. Kondisi awal subjek EV pada aspek percaya diri menunjukkan kecenderungan arah meningkat ditunjukkan oleh nilai mean level 19,3. Pada kondisi setelah pemberian metode storytelling berbantuan tutor sebaya kecenderungan arah meningkat. Perubahan kecenderungan arah aspek percaya diri menunjukkan ada peningkatan dengan mean level 83,5. Perubahan kecenderungan arah pada pemberian intervensi aspek percaya diri juga menunjukkan efek positif terlihat dari perubahan kecenderungan dari meningkat menjadi lebih meningkat pada kondisi intervensi. Sehingga pemberian intervensi pada aspek percaya diri menunjukkan efek positif. Pembahasan Penelitian ini menggunakan metode storytelling berbantuan tutor sebaya dalam meningkatkan keterampilan berbicara menunjukkan adanya hubungan belajar yang baik Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Efektivitas Metode Storytelling Berbantuan Tutor Sebaya Untuk Meningkatkan Keterampilan Berbicara Anak Dengan Hambatan Emosi Dan Perilaku antara anak dengan tutor sebaya. Selama 16 kali pertemuan di sekolah, anak diminta untuk membacakan cerita narasi dengan bimbingan tutor sebaya. Kehadiran tutor sebaya membuat anak merasa lebih nyaman dan tidak canggung, sehingga mereka lebih percaya diri untuk Tutor sebaya juga memberikan contoh bagaimana menggunakan intonasi, ekspresi, dan urutan cerita yang benar, sehingga anak dapat meniru dan secara bertahap meningkatkan keterampilan berbicaranya. Dukungan dari teman sebaya ini membantu anak lebih berani, terbuka, dan tidak mudah cemas ketika harus menyampaikan cerita di depan orang lain. Tujuan utama yang ingin dicapai dalam metode storytelling berbantuan tutor sebaya membantu anak menyampaikan pendapat dengan lebih jelas, belajar berkomunikasi secara efektif, menumbuhkan rasa empati, dan bekerja sama dengan teman (Fathoni, 2. kehadiran tutor sebaya memberi dukungan positif, karena anak merasa lebih percaya diri ketika belajar bersama teman sebayanya. Selain itu, metode ini juga mendorong kreativitas anak dengan membantu mereka berpikir kreatif dan mengembangkan ide-ide baru, serta meningkatkan efektivitas pembelajaran dengan membangun koneksi emosional antara pendengar dan narasi (Azhari & Muassomah, 2. Hasil penelitian penerapan metode storytelling umumnya digunakan dalam meningkatkan kemampuan bahasa anak usia dini (Rambe, 2. , untuk meningkatkan keterampilan berbicara pada siswa sekolah dasar (Nurwida, 2. , untuk meningkatkan keterampilan literasi membaca dan menulis pada siswa sekolah dasar dengan bantuan digital (Suparman et al. , 2. , storytelling juga terbukti mampu meningkatkan daya imajinasi dan kreativitas anak (Fitriyani et al. , 2. , membangun sikap percaya diri anak dalam menyampaikan pendapat (Purwandari et al. , 2. , serta digunakan sebagai media interaktif untuk pembelajaran karakter di sekolah dasar (Purwoto & Kurniawan, 2. Penelitian dengan metode storytelling berbantuan tutor sebaya yang diterapkan dan disesuaikan dengan kebutuhan anak menunjukkan hasil yang positif dalam meningkatkan keterampilan berbicara anak sekaligus rasa percaya diri. Melalui pendampingan tutor sebaya, anak merasa lebih nyaman, termotivasi, dan berani menceritakan sebuah cerita. Umpan balik positif berupa peningkatan kemampuan menyampaikan cerita secara runtut, penggunaan kosakata yang lebih beragam, serta keberanian tampil di depan orang lain diharapkan dapat menjadi model pembelajaran yang inovatif yang mampu mendukung perkembangan keterampilan komunikasi anak sesuai dengan kebutuhan mereka. Sehingga metode storytelling berbantuan tutor sebaya ini cocok digunakan untuk meningkatkan keterampilan berbicara (Hidayat et al. , 2. Keterbaruan penelitian ini terletak pada Metode storytelling berbantuan tutor sebaya bagi anak dengan hambatan emosi dan perilaku. Metode ini membuat anak lebih nyaman dan terbuka dalam mengekspresikan pengalaman maupun emosinya, berbeda dengan penelitian sebelumnya yang menggunakan bantuan video (Alpiani, 2. , penelitian ini menekankan peran tutor sebaya sebagai fasilitator utama dalam membantu anak menceritakan kembali cerita yang disampaikan oleh tutor sebaya. Selanjutnya dengan adanya metode ini, maka dapat menjadi referensi untuk meningkatkan keterampilan berbicara anak dengan hambatan emosi dan perilaku. KESIMPULAN Berdasarkan perolehan data hasil penelitian yang dianalisis terkait efektivitas metode storytelling berbantuan tutor sebaya untuk meningkatkan keterampilan berbicara anak dengan hambatan emosi dan perilaku di SMP Negeri 23 Padang, maka dapat disimpulkan Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Efektivitas Metode Storytelling Berbantuan Tutor Sebaya Untuk Meningkatkan Keterampilan Berbicara Anak Dengan Hambatan Emosi Dan Perilaku bahwa metode storytelling berbantuan tutor sebaya efektif diterapkan untuk meningkatkan keterampilan berbicara dalam empat aspek yaitu pelafalan, kosakata, struktur dan percaya REFERENSI