Proceedings of PsychoNutrition Student Summit Volume 01. No. Desember 2024 ISSN: 3090-0956 https://proceedings. id/index. php/PINUSS Observasi Non Compliance with Medical Treatment pada Pasien Skizofrenia Hebefrenik Hafshoh Amatulloh Azizah. Siti Nur Asiyah. Ria Qadariah Arief Fakultas Psikologi Dan Kesehatan UIN Sunan Ampel Surabaya Jl. Dr. Ir. Soekarno No. 682 Gunung Anyar. Surabaya 60294 E-mail: hafshohazizah3@gmail. Abstrak Perilaku non compliance with medical treatment pada pasien dengan diagnosa skizofrenia merupakan tantangan utama dalam pengobatan skizofrenia. Penelitian ini dilakukan dengan latar belakang munculnya perilaku non-complince pada pasien skizofrenia yang mengakibatkan dampak yang signifikan pada kualitas hidupnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan memahami berbagai faktor yang mempengaruhi konidisi non-compliance with medical treatment. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain case reposrt sebagai metode Siubjek penelitian ini merupakan seorang pasien berusia 25 tahun yang menunjukkan perilaku non compliance with medical treatment. Pengumpulan data dilakukan selama 14 hari, termasuk observasi dan analisis rekam medis pasien. Untuk menganalisis data yang ada digunakan pendekatan tematik untuk mencari tahu penyebab dari perilaku non-compliance. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor utama penyebab munculnya non compliance with medical treatment adalah keyakinan atau insight bahwa subjek berada dalam kondisi sehat sehingga tidak memerlukan pengobatan. Selain itu faktor lainnya adalah efek samping obat seperti insomnia dan pusing dari obat yang dikonsumsi. Analisa penelitian ini juga menemukan jika subjek atau pasien tidak memiliki dukungan sosial dan pemahaman yang baik dalam pengobatan dan perawatan maka akan berdampak pada meningkatnya kepatuhan pasien dalam pengobatan. Penelitian ini menegaskan bahwa non compliance with medical treatment dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti presepsi subjektif pasien akan kondisi kesehatan dan pengobatan, serta dukungan sosial di sekitar pasien. Penelitian ini tentunya memiliki keterbatasan, yaitu keterbatasan ukuran sampel. Penelitian ini hanya menggunakan single subjek, sehingga disarankan penelitian selanjutnya untuk melibatkan lebih banyak subjek demi mendapatkan hasil yang lebih menggambarkan kondisi non compliance with medical treatment lebih luas lagi. Kata Kunci: Non compliance with medical treatment. Ketidakpatuhan minum obat. Skizofrenia PENDAHULUAN Perilaku non compliance with medical treatment atau ketidakpatuhan minum obat pada pasien skizofrenia merupakan tanatangan utama dalam pengobatan. Apa lagi gangguan skizofrenia memerlukan waktu perawatan yang relatif lama. Perilaku non compliance with medical treatment pasien skizofrenia memiliki dampak yang signifikan pada kualitas hidup pasien secara keseluruhan (Refnandes & Almaya, 2. Untuk mencegah terjadinya kondisi non-compliance pada pasien skizofrenia adalah dengan mendorong mereka patuh dalam pengobatan dan perawatan. Secara tidak langsung kepatuhan minum obat atau compliance with medical treatment menjadi hal yang berpengaruh dalam berhasilnya perawatan dan pengobatan pasien dengan skizofrenia (Muliyani dkk. , 2. Perilaku non compliance with medical treatment dapat meningkatkan resiko kekambuhan pasien skizofrenia. Penelitian di Italia juga menyebutkan bahwa 34-37% pasien skizofrenia mengalami kekambuhan akibat non-complimance. Hal tersebut sejalan dengan data yang dipaparkan oleh Riskesdas bahwa per tahun 2018 terdapat pasien Prosiding PsychoNutrition Vol. 01 No. 1 Desember 2024 dengan skizofrenia yang tidak rutin mengonsumsi obat sebanyak 51,1% penderita sementara 15,1 % diantaranya enggan melakukan pengobatan (Refnandes, 2. Penelitian (Syarif dkk. , 2. juga menyebutkan bahwa 100% pasien yang relapse adalah pasien yang tidak patuh dalam pengobatan dan perawatan, sementara itu pasien yang patuh akan pengobatan hanya memiliki kemungkinan relapse atau kambuh sebesar 38,5%. Hal ini menunjukkan bahwa ketidakpatuhan minum obat dapat mempengaruhi besaran presentase kesembuhan pasien. Kepatuhan pasien dalam pengosumsian obat dapat dipengaruhi oleh kualitas insight atau pemahaman pasein akan pengobatan. Insight atau pemahaman akan pengobatan yang baik dapat dimiliki pasien ketika ia mendapatkan dukungan, pendampingan dan pengetahuan terkait minum obat yang baik dari pendamping atau keluarganya (Pasaribu & Hasibuan, 2. Terdapat pula beberapa beberapa faktor yang dapat mempengaruhi timbulnya non compliance with medical treatment. Faktor tersebut meliputi dukungan keluarga, pengetahuan dan pemahaman pasien akan pengobatan, efek samping obat, dan presepsi pasien terhadap pengobatan . rman, 2. Selain beberapa faktor tersebut faktor subjektif dari pasien sendiri dapat menjadi penyebab terjadinya non compliance with medical treatment (Hidayati dkk. , 2. Skizofrenia adalah salah satu gangguan psikotik yang paling sering muncul. Skizofrenia paranoid, hebefrenik, katatonik, residual, skizofrenia tidak ditentukan, skizofrenia sederhana, skizofrenia lain, dan skizofrenia tidak terkalisifikasi merupakan jenis-jenis dari skizofrenia (Mardiah dkk. , 2. Sementara itu skizofrenia sendiri merupakan mental illness yang kompleks, dimana mental illness ini ditandai dengan adanya gangguan proses berpikir yang mempengaruhi kehidupan individu. Halusinasi dan delusi merupakan gejala yang umumnya di Penderita skizofrenia dapat menunjukkan gejala positif seperti halusinasi dan delusi (Putri & Maharani, 2. Pada umumnya penderita sikozofenia akan melakukkan penarikan diri dari lingkungan sosial atau yang biassa dikenal dengan hikikmori, pengabaian diri, hilangnya mostivasi dan inisiatif dalam melakukan suatu hal serta tumpulnya emosi yang dimilikinya (Ningsih dkk. , 2. WHO menyebutkan bahwa pertahun 2022 terdapat peningkatan individu yang menderita skizofrenia sebanyak 24 juta jiwa (Anggraini & Sukihananto, 2. Pada tahun 2016 data global menunjukkan bahwa benua Asia memiliki angka penderita skizofrenia yang tinggi. Asia Tenggara menjadi peringkat ketiga dengan 2 juta jiwa yang menderita skizofrenia (Glennasius & Ernawati, 2. Pada tahun 2018 Data Riset Kesehatan Dasar memaparkan data bahwa terdapat 400. 00 jiwa di Indonesia yang menderita skizofrenia. Dalam data tersebut juga menyebutkan bahwa sebagian besar penderita skizofrenia lebih banyak berada dalam lingkup masyarakat dibandingkan di Rumah Sakit untuk menjalani pengobatan (Hadiansyah & Pragholapati, 2. Pasien skizofrenia yang relaps dianjurkan untuk kemballi menjalani perawatan di rumah sakit, mengingat pasien memiliki ptensi membahayakan diri sendiri dan oran lain (Sari, 2. Skizofrenia dapat dipengaruhi oleh keturunan, stresor psikososial, keluarga, jenis kelamin, usia, agama, pendidikan, dan masih banyak lagi (Seri, 2. Pada umumnya relaps pasien skizofrenia timbul akibat dari adanya hal negatif yang menimpa individu terebut, seperti halnya diasingkan oleh keluarga dan rumah sakit, sementara itu di laur lingkungan tersebut pasien sulit diterima oleh masyarakat sekitar. Hal ini menjadi salah satu faktor utama terjadinya non compliance with medical treatment pada pasien skizofrenia (Ginting dkk. , 2. Maka dari itu penelitian ini akan melakukan analisa berbagai faktor yang mungkin mempengaruhi timbulnya maupun meningkatnya non compliance with medical treatment, serta memberikan pandangan terkait intervensi yang apat diberikan pada pasien Skizofrenia. METODE PENELITIAN Metode Kualitatif dengan desain case report digunakan dalam penelitian ini. Metode ini dipilih karena dapat membantu peneliti untuk memberikan gambaran Azizah. Asiyah. Arief. Observasi Non Compliance with Medical TreatmentA. mendalam terkait pengalaman individu serta berbagai faktor yang dapat mempengaruhi kepatuhan pasien terhadap pengobatan dan perawatan. Desain case report yang digunakan berfokus pada seorang pasien yang tentunya termasuk dalam kriteria yang telah ditetapkan oleh peneliti. Subjek adalah pasien dengan diagnosa skizofrenia Tentunya subjek penelitian tersebut menunjukkan perilaku non compliance with medical treatment atau ketidakpatuhan dalam menjalani pengobatan. Dua teknik pengumpulan data digunakan dalam penelitiian ini, yang meliputi, observasi lapangan dan analisis dokumen rekam medis pasien. Observasi dilakukan dalam kurun waktu 14 hari yang bertempat di ruang perawatan agar dapat memahami kondisi lingkungan perawatan serta pengaruhnya terhadap perilaku non compliance with medical treatment. Sementara dokumen rekam medis pasien digunakan sebagai pelengkap informasi terkait riwayat pengobatan, diagnosa pasien yang dilakukan oleh dokter maupun psikolog. Untuk mengidentifikasi gambaran utama kondisi pasien serta penyebab terjadinya non compliance with medical treatment digunakanlah pendekatan Pendekatan tersebut dipilih untuk membantu peneliti dalam menganalisa lebih dalam kondisi non compliance with medical treatment pasien sehingga dapat memberikan pandangan intervensi yang dapat diberikan kepada pasien. Temuan penelitian ini diharapkan dapat berkontribusi dalam studi keilmuan terkait tantangan yang dihadapi pasien dengan diagnosa skizofrenia dalam mengikuti pengobatan dan perawatan. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan dapat memberikan pemahaman terkait berbagai faktor yang dapat mempengaruhi kondisi non compliance with medical treatment pasien skizofrenia. Melalui penelitian ini juga diharapkan bahwa penelitian yang dilakukan dapat memperluas dan memperdalam kajian kesehatan mental terkait kondisi non-compliance with mdedical treatment pada pasien skizofrenia dengan lebih baik. HASIL PENELITIAN Tabel 1. Deskripsi Non compliance with medical treatment pasien Jadwal Minum Obat Faktor internal non compliance with medical treatment Efek Keterangan Pagi Pasien tidak minum obat karena merasa bahwa ia dalam keadaan sehat dan tidak sakit Berbicara tidak runtut dan pendiam Pasien memiliki keyakinan bahwa ia sehat dan tidak memerlukan obat Siang Pasien mengalami insomnia dan pusing sebagai efek samping obat Imsomnia dan Pasien mengalami ketidak cocokan akan salah satu obat yang Pasien CW . Tahu. terjadwal mengonsumsi obat di pagi dan siang hari. Akan tetapi dalam masa perawatan pasien mengalami perilaku non compliance with medical Alasan munculnya perilaku non compliance with medical treatment adalah karena pasien merasa bahwa ia dalam keadaan sehat dan tidak memerlukan obat apapun serta ketika mengonsumsi obat yang telah diresepkan pasien mengeluhkan bahwa ia menjadi insomnia dan pusing sebagai efek samping dari pengonsumsian obat. Dalam hal ini dapat dilihat bahwa faktor yang menjadi salah satu penyebab timbulnya perilaku non compliance with medical treatment adalah keyakinan pasien bbahwa ia sehat dan tidak cocokan salah satu obat yang dikonsumsi. Mengingat terdapat banyak jenis obat yang harus dikonsumsi oleh pasien, yang meliputi Eirperidon 2x2mg. Clozapine Prosiding PsychoNutrition Vol. 01 No. 1 Desember 2024 1x25mg. Sletralian 12. 5mg propranolol 10mg 1x1 cup . Trihexryphenidyl 3x2mg, dan Lorazepam 2mg. Tabel 2. Anamnesa pasien Skizofrenia Hebefrenik Anamnesa Hasil Diagnosis Autoanamnesa Keteranngan Pasien menunjukkan arah pembicaraan Pernyataan di berikan yang tidak konsisten, melompat Ae lompat, secara langsung oleh dan kurang fokus. Pasien memberikan pasien dan observasi pernyataan bahwa pasien merasa gelisah yang dilakukan oleh yang menimbulkan perilaku mondar petugas kesehatan di mandir, sering kali bernyanyi sendiri. IGD. mengalami insomnia, halusinasi auditori dan visual. Pernyataan Heteroanamnesa a. Dokter Pasien terlihat cukup kooperatif dengan diberikan oleh dokter bisa menyebutkan identitasnya dan ketika pasien baru menjawab pertanyaan yang diberikan tiba di IGD juga oleh dokter, namun gelisah dan pernyataan memiliki arah pembicaraan yang tidak pendamping pasien Pasien juga memberikan selama pernyataan bahwa ia mengalami rawat jalan insomnia dan sering kali mengalami halusinasi auditori dan visual dengan bentuk yang sama berulang kali. Selama di rumah pasien mengaku dalam sehari pasien dapat mandi sebanyak 4 kali karena merasakan hawa panas ditubuhnya. Keluarga (Kakak dan Ib. Selama melakukan rawat jalan pasien masih memiliki arah pembicaraan yang tidak konsisten, mudah berubah, dan kurang fokus. Hal tersebut disebabkan pasien melakukan penolakan minum Hal tersebut dilakukan oleh pasien dengan alasan salah satu obat yang bisa dikonsumsi habis, sehingga CW enggan mengonsumsi obat Selama di rumah pasien halusinasi auditori dan visual. Pasien juga mandi 4 kali dalam sehari karena merasakan hawa panas ditubuhnya. Berdasarakan hasil anamnesa baik dari pasien dan para pendamping pasien seperti dokter dan keluarga memberikan pernyataan yang hampir sama. Pernyataan tersebut menyatakan bahwa pasien cukup kooperatif dalam mengikuti pemeriksaan awal, namun arah atau alur pembicaraan pasien masih sering kali berubah-ubah, tidak fokus dan tidak konsisten. Pasien juga terlihat gelisah sehingga memunculkan perilaku mondar Perilaku tersebut muncul sebagai coping strategy dari perasaan gelisah yang dirasakan oleh pasien. Selain itu pernyataan CW dan para pendampingnya menyatakan bahwa CW kerap kali mengalami halusinasi auditori yang berisikan bisikan dari kakak lakilakinya yang meminta CW untuk pergi dari rumah. Azizah. Asiyah. Arief. Observasi Non Compliance with Medical TreatmentA. CW juga mengalami halusinasi visual. Dalam halusinasi tersebut CW melihat sosok neneknya yang telah meninggal dan melihat serta merasakan bahwa terdapat bayangan hitam yang memasuki tubuhnya. Selama melakukan rawat jalan CW kerapkali menunjukkan perilaku non compliance with medical treatment dengan alasan salah satu obat yang rutin dikonsumsi habis, sehingga ia tidak mau mengonsumsi obat yang lainnya. Pendamping dari pihak keluarga juga memberikan keterangan bahwa selama di rumah CW sering kali mandi 4 kali dalam sehari karena terus menerus merasakan panas di Beberapa pernyataan tersebut dapat membantu tenaga medis dalam mengidentifikasi kondisi pasien secara keseluruhan. Tabel 3. Diagnosis Pasien Skizofrenia Hebefrenik Diagnosis Aksis I Skizofrenia Hebefrenik ICD F20. 1 : Skizofrenia Hebefrebik Z9 1. 1 :Personal Hist Noncoliance with med treatment & regimen G25. 9 : extrapy ramidal & movement disorder. Aksis II Pendiam Aksis i Tidak ditemukan Aksis IV Belum jelas Aksis V GAF Scale 50-41 Hasil Diagnosis Keteranngan Hasil diagnosis menunjukkan pasien mengalami Skizofrenia hebefrenik dengan gejala halusisasi auditori, visual, dana muncul delusion of control dan delusion of influence. Diagnosis juga menunjukkan bahwa pasien mengalami Ketidakpatuhan terhadap pengobatan dan aturan medis serta gangguan ekstrapiramidal dan gerakan. Aksis I adalah istilah dalam DSM-IV-TR mengkategorikan gangguan Hasil diagnosis menjelasakan Aksis II adalah istilah dalam memiliki DSM-IV-TR yang digunkan kepribadian pendiam gangguan kepribadian dan reterdasi mental Hasil ditemukan kondisi medis umum mempengaruhi kondisi pasien Aksis i adalah istilah dalam DSM-IV-TR digunakan untuk mencatat kondisi medis umum yang mungkin memiliki kontribusi dalam gangguan mental Hasil diagnosis belum jelas, lingkungan apa saja yang mempengaruhi kondisi pasien Aksis IV adalah istilah dalam DSM-IV-TR yang digunakan untuk mencatat gangguan mental individu Hasil diagnosis menunjukkan gangguan yang cukup serius dalam fungsi sosial, pekerjaan. Skala 50-41 menunjukkan bahwa pasien memiliki masalah Aksis V adalah istilah dalam DSM-IV-TR digunakan untuk menilai dan memahami sejauh mana gangguan mental Prosiding PsychoNutrition Vol. 01 No. 1 Desember 2024 mempertahankan dalam aktivitas hubungan harinya terbatas, serta gejala berat yang menganggu aktivitas sehari-harinya Setelah melalui berbagai pemeriksaan dan pengidentifikasian kondisi pasien, maka ditemukan hasil diagnosis dari kondisi pasien. Diagnosa yang dilakukan oleh profesional kesehatan mental dikelompokkan berdasarakan 5 sumbu dalam DSM-IV-TR. Pada Aksis I ditemukan bahwa pasien mengalami skixofrenia hebefrenik. Aksis I akan mencakup ganguan klinis yang menjadi fokus utama dari diagnosis dan pengobatan. Gangguan klinis yang dimaksud adalah kondisi mental yang memerlukan bantuan medis sesegera mungkin dan juga mempengaruhi kondisi atau aktivitas sehari hari pasien. Aksis II CW terdiagnosa sebagai individu pendiam. Aksis II adalah sumbu yang digunakan untuk mengukur atau mengidentifikasi gangguan kepribadian dan reterdasi mental. Aksis II CW belum ditemukan, karena gangguan medis umum masih belum teridentifikasi. Aksis IV juga masih belum jelas, karena masih belum ditemukan faktor psikososial dan lingkungan yang mempengaruhi kondisi CW secara keseluruhan. Sementara pada sumbu terakhir yaotu aksis V CW terdiagnosa memiliki permasalahan pada fungsi sosial dan pekerjaannya. Kondisi tersebut dinilai menggunakkan Global Assesment of Functioning (GAF) scale. GAF ini akan membantu menilai kondisi kesejahteraan psikologis, sosial, dan pekerjaan yang di kelompokan menjadi beberapa skala (Rissa & Darmawan, 2. Kondisi secara keseluruhan CW berada di skala 50-41 yang menandakan bahwa CW memiliki masalah dalam mempertahankan pekerjaan, hubungan interapersonal yang amat terbatas, serta gejala berat yang menganggu aktivitas sehari-harinya. Selin di dasarkan pada DSM diagnosa kondisi CW juga didasarkan pada ICD-10. Sama seperti hasil DSM ICD-10 juga mendiagnosa bahwa CW mengalami skizofrenia hebefrenik yang juga di ikuti oleh kondisi ketidak patuhan terhadap pengobatan dan anturan medis serta gangguan ekstrapiramidal dan gerakan yang tidak terdefinisikan. Berbagai diagnosa ini menjadi dasar pemberian treatmen yang diberikan kepada CW. Tabel 4. Observasi Perilaku Pasien Skizofrenia dengan Non-complimance Kondisi awal Jadwal Observasi Perilaku noncomplimance Dampak CW . Tahu. Tahap 1 Menggelengkan berulang kali. Pasien Sikap yang bisa diberikan adalah pemahaman kepada pasien mengapa ia harus mengonsumsi obatnya dan memberikan motivasi agar pasien mau mengonsumsi obatnya. Tahap 2 Pasien terisak dan Menarik Petugas memberikan pasien waktu dan tempat, keluahan pasien di sampaikan kepada dokter Kondisi awal CW terlihat gelisah, tidak bisa fokus, melantur, dan mondar mandir fiksasi pada Saat Penanganan Azizah. Asiyah. Arief. Observasi Non Compliance with Medical TreatmentA. rawat inap pasien terlihat murung dan dengan pasien yang lain Kondisi awal pasien CW . Tahu. terlihat kebingungan ,gelisah, arah pembicaraan yang tidak runtut atau melompat-lompat, sulit untuk fokus, dan mondar mandir sehingga diputuskan untuk melakukan fiksasi atau pengikatan pada pasien. Hal ini dilakukann agar pasien dapat kooperatif ketika dokter atau petugas kesehatan lainnya meminta pernyataan dari pada CW. Setelah mengetahui kondisi awal pasien, diputuskan pasien harus melakukan perwatan secara intensif. Selama masa perawatan pasien menunjukkan perilaku non compliance with medical treatment ketika tiba jadwal mengosumsi obat. Observasi terkait perilaku non compliance with medical treatment dilakukan selama kurun waktu 14 hari dan hanya terdapat 2 hari dimana pasien menunjukkan perilaku non compliance with medical treatment secara langsung. Tahap pertama observasi dilaksanakan pada tanggal 26 Februari 2024. Perilaku non compliance with medical treatment yang ditunjukkan oleh pasien adalah menggelengkan kepalanya berulang kali sambil berteriak histeris. Dampak dari perilaku non compliance with medical treatment tersebut adalah pasien menjadi tidak nyaman dan tampak murung. Tahap kedua observassi dilaksanakan pada tanggal 1 Maret 2024. Perilaku non compliance with medical treatment yang terlihat adalah menangis dan berakhir pasien masuk kedalam kamarnya. Akibat dari munculnya perilaku tersebut adalah penarikan diri pasien akan interaksi sosial yang ada di dalam bangsal. Melihat dampak yang timbul, maka pihak petugas medis bisa memberikan penanganan yang di dasarkan pada pendekatan individu. Seperti halnya memberikan pengertian dan motivasi kepada pasien akan pentingnya mengikuti perawatan dan mengosumsi oabat yang telah diresepkan. Selain itu petugas kesehatan juga bisa memberikan ruang kemudian berbiicara santai dengan pasien. Pembicaraa yag dimaksud adalah untuk mencari tahu alasan mengapa pasien tidak mau mengosumsi oabat yang telah diresepkan. PEMBAHASAN Fokus utama penelitian ini adalah menganalisis berbagai faktor pendukung akan timbulnya kondisi non-compliance with medical treatment pada pasien skizofrenia CW merupakan subjek tunggal dari penelitian ini yang telah didiagnosa mengalami skizofrenia hebefrenik yang juga menunjukkan kondisi atau perilaku noncompliance with medical treatment. Melalui analisis yang dilakukan diharapkan dapat membantu memberikan pemahaman terkait hubungan antara gejala, diagnosis, serta menelaah faktor penyebab kondisi non compliance with medical treatment serta strategi intervensi yang dapat diterapkan berdasarkan teori-teori yang telah berkembang. Berdasarkan hasil observasi dan anamnesa yang telah dilakukan, ditemukan beberapa alasan utama yang menyebabkan timbulnya kondisi non compliance with medical treatment pada pasien. Salah satu alasan utama adalah keyakinan pasien bahwa ia berada dalam kondisi sehat dan tidak memerlukan obat sebagai penanganan. Sebelumnya non compliance with medical treatment atau ketidakpatuhan minum obat merupakan suatu kondisi atau perilaku penolakan dalam mengikuti alur pengobatan yang telah ditentukan sebelumnya. Ketika kondisi non compliance with medical treatment terus berlanjut maka dapat memperburuk kondisi mental pasien karena dan meningkatkan frekuensi risiko kekambuhan (Nissa & Kurniawan, 2. Non compliance with medical treatment pada pasien skizofrenia dapat dipengaruhi oleh kurangnya pemahaman terkait pengobatan, dukungan sosial dari orang disekitar pasien, dan keyakinan atau insight Prosiding PsychoNutrition Vol. 01 No. 1 Desember 2024 pasien terkait pengobatan (Ardinata dkk. , 2. Ketika pasien memiliki keyakinan atau insight yang kurang baik akan pengobatan yang dijalankan dapat memperburuk kondisi pasien bahkan dapat meningkatkan risiko kekambuhan. Memburuknya kondisi pasien dapat disebabkan oleh perilaku pasien yang cenderung menolak pengonsumsian obat (Susanti, 2. Non compliance with medical treatment pada pasien sikizofrenia hebefrenik sering kali berhubungan dengan presepsi pasien terkait kondisi kesehatannya dan efek samping Dalam case report CW, pernyataan yang diberikan oleh pasien menjelaskan bahwa ia berada dalam kondisi sehat sehingga tidak memerlukan obat. Keyakinan tersebut disebut dengan delusi somatik (Opare-Addo dkk. , 2. Dalam konteks skizofrenia delusi somatik termasuk dalam gangguan isi pikiran yang berkaitan dengan kepercayaan irasional mengenai proses berpikir. Delusi somatik juga mencakup kepercayaan akan kinerja tubuh yang tidak sesuai dengan apa yang sebenarnya terjadi (Danastri & Meiyuntariningsih, 2. Selain mengalami delusi somatik, pasien juga memberikan pernyataan bahwa obat yang dikonsumsi memberikan efek samping insomnia dan pusing. Efek samping dari obat tersebut muncul akibat dari ketidakcocokan pasien pada salah satu obat yang telah Munculnya efek samping dari pengobatan secara signifikan dapat meningkatkan frekuensi terjadinya non compliance with medical treatment pada pasien. Penelitian yang dilakukan oleh (Bahta dkkl. , 2. juga menyebutkan bahwa gejala insomnia dan pusing dapat memperburuk presepsi negatif pasien akan pengobatan sehingga dapat meningkatkan munculnya non compliance with medical treatment. Begitu pula dengan penelitian yang dilakukan oleh (Fountoulakis dkk. , 2. , ia menjelaskan bahwa pengalaman pasien mengenai efek samping obat dapat meningkatkan perilaku non compliance with medical treatment. Dalam anamnesa, baik autoanamnesa dan heteroanamnesa menunjukkan gejala skizofrenia hebefrenik yang konsisten. Gejala tersebut meliputi arah pembicaraan yang tidak konsisten, halusinasi auditori dan visual dan perilaku mondar mandir yang muncul sebagai coping strategy pasien terhadap perasaan gelisah. Penelitain (Leijala dkk. , 2. menjelaskan bahwa pemahaman pasien terkait gejala psikotik perlu ditekankan dalam merancang strategi pengobatan yang baik termasuk mengelola efek samping obat dan nin-compliance. Selain itu pasien juga mengalami gangguan ekstrapiramidal dan gerakan. Gangguan ini juga dapt menjadi faktor munculnya perilaku non compliance with medical treatment yang disebabkan oleh ketidaknyamanan fisik sehingga pasien enggan melanjutkan pengobatan atau perawatan (Kane dkk. , 2. Berdasarkan DSM-IV-TR paien CW terdiagnosa skizofrenia hebefrenik yang di ikuti dengan gangguan ekstrapiramidal dan non compliance with medical treatment. Gangguan ini juga disertai dengan perilaku yang tidak konsisten dan sulit fokus pada satu Pada aksis V menjelaskan bahwa CW mengalami gangguan yang cukup serius dalam fungsi sosial dan pekerjaan yang diukur menggunakan GAF Scale, dan kondisi CW berada di skala 50-41. Skala tersebut dapat diartikan bahwa CW mengalami kesulitan dalam menyelesaikan pekerjaanya, memiliki hubungan intrapersonal yang kurang terbatas, dan gejala berat yang mengganggu aktivitas sehari-harinya. Hal ini sejalan dengan penelitian (Esmiralda dkk. , 2. bahwa sering kali penurunan fungsi sosial dan pekerjaan berkaitan dengan non compliance with medical treatment pasien skizofrenia. Selama melakukan observasi perilaku non compliance with medical treatment CW menunjukkan dua perilaku utama yaitu berteriak histeris dan menangis terisak. Perilaku ini tidak hanya bisa diartikan sebagai ketidaknyamanan pasien namun juga dapat berdampak pada penarikan diri. Hal ini merupakan respon emosional yang dikeluarkan ketika mengalami tekanan, stress, maupun ketidakpuasan perawatan yang diterima Untuk itu penanganan yang dapat diberikan adalah memberikan ruang bagi pasien dan motivasi secara konsisten. Hal ini dapat didasarkan pada terapi yang berbasis dukungan sosial, di mana penting bagi pasien untuk mendapatkan dukungan sosial dari individu di sekitarnya termasuk tenaga medis atau kesehatan (Treichler dkk. , 2. Azizah. Asiyah. Arief. Observasi Non Compliance with Medical TreatmentA. Dalam kasus CW maka strategi penanganan yang dapat dilakukan untuk menurunkan tingkat non compliance with medical treatment adalah memberikan pemahaman dan motivasi terkait pentingnya pengobatan. Sejalan dengan penelitian (Wykes, 2. yang menekankan bahwa pemberian dukungan psikologis dan pengetahuan dapat meningkatkan kepatuhan pengobatan. Begitu juga dengan pemberian ruang dan waktu bagi pasien, komunikasi yang suportif juga merupakan strategi yang dapat digunakan dalam menangani non compliance with medical treatment. Selain permasalahan psikososial, penangaan non compliance with medical treatment juga dapat melalui insight pasien mengenai kesehatan dan pengobatan yang tentu akan mempengaruhi kepatuhan mereka dalam pengobatan dan perawatan. Seperti apa keyakinan yang salah yang dialami oleh pasien meninmbulkan non compliance with medical treatment. Penggunaan pendekatan dukungan sosial dan insight dapat digunakan dalam merancang intervensi yang efektif. Sehingga intervensi yang tercipta dapat mengubah keyakinan pasien serta meningkatkan pemahaman mereka terkait pentingnya mematuhi pengobatan dan perawatan yang telah ditetapkan. Dengan memperhatikan hasil observasi dan anamnesa maka kita bisa melihat bahwa pendekatan multidimensi dibutuhkan dalam pengobatan pasien skizofrenia. Pendekatan multidimensi sendiri akan mencakup pemahaman gejala, manajemen efek samping obat, dan dukungan psikososial. Dalam suatu penelitian juga menjelaskan bahwa penerapan intervensi medis yang disertai intervensi psikososial dapat meningkatkan kepatuhan pasien skizofrenia dalam mengikuti perawatan dan pengobatan (Cahaya dkk. , 2. Faktor internal dan eksternal menjadi faktor utama dalam terjadinya kondisi non compliance with medical treatment. Faktor internal meliputi keyakinan subjektif dan efek samping obat yang dirasakan oleh pasien. Sementara faktor eksternal meliputi gangguan psikososial dan lingkungan sekitar pasien. Pengembangan strategi efektif dalam mengatasi non compliance with medical treatment perlu memperhatikan dan mempertimbangkan faktor psikologis, medis, dan sosial yang memiliki kontribusi atau pengaruh pada kondisi pasien. Pendekatan individu dan penanganan holistik menjadi kunci utama dalam menangani kondisi non compliance with medical treatment secara Menurut (Neumeier dkk. , 2. , jika teori-teori terkait seperti teori Health Belief Model dan Behavioral Model diterapkan dengan baik kemudian dibarengi dengan dukungan sosial dan medis akan berdampak pada kualitas hidup pasien yang lebih baik. Tentunya dalam setiap penelitian terdapat limitasi atau keterbatsan, sama halnya dengan penelitian ini yang memiliki limitasi dalam ukuran sampel. Penelitian ini hanya melibatkan seorang subjek atau yang umumnya disebut dengan single subjek. Hanya terlibatnya satu subjek menjadikan penelitian ini tidak dapat memperhitungkan faktorfaktor eksternal yang terjadi pada individu lain secara menyeluruh. Oleh karena itu, penting bagi penelitian selanjutnya untuk melibatkan lebih banyak subjek agar data yang diperoleh dapat mewakili kondisi pasien secara keseluruhan. Peneliti berharap hasil dari penelitian ini dapat berkontribusi dalam penelitian selanjutnya dengan menjadi dasar agar didapatkan hasil yang lebih terperinci. KESIMPULAN DAN SARAN Berbagai faktor internal yang dapat mempengaruhi kondisi atau perilaku non compliance with medical treatment pada pasien skizofrenia hebefrenik meliputi, presepsi subjektif dari pasien akan kesehatan dan efek samping obat yang dirasakandapat menjadi penyebab timbulnya non compliance with medical treatment ini. aSelain itu kurangnya pemahaman pasien akan pengobatan, dukungan sosial yang kurang, dan pengalaman negatif dari efek samping obat dapat meningkatkan frekuensi bahkan memperburuk non compliance with medical treatment. Akan tetapi penelitian ini juga memiliki keterbatasan akan ukuran sampel yang hanya melibatkan satu subjek atau sampel saja, sehingga mengurangi klasifikasi pada sampel yang lebih luas. Oleh sebab itu diharapkan pada penelitian selanjutnya untuk melibatkan banyak subjek demi mendapatkan hasil yang Prosiding PsychoNutrition Vol. 01 No. 1 Desember 2024 dapat mewakili kondisi non compliance with medical treatment pada pasien skizofrenia dengan lebih baik. UCAPAN TERIMA KASIH Ucapan terima kasih sebesar-besarnya penulis sampaikan kepada Program Studi Psikologi. Fakultas Psikologi dan Kesehatan. UIN sunan Ampel Surabaya, dosen pembimbing publikasi pengabdian berbasis keilmuan, kepada pihak rumah sakit jiwa menur dan klien atas dukungan dan fasilitas yang telah diberikan selama proses penelitian serta penulisan proseding. Tanpa adanya dukungan serta arahan dari pihak-pihak tersebut, tentunya penulisan serta penyusunan proseding ini tidak dapat diselesaikan dengan baik. Semoga proseding ini dapat memberikan manfaat dan kontribusi dalam perkembangan ilmu pengetahuan, terkhusus dalam bidang psikologi. KEPUSTAKAAN