Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis P-ISSN: 2460-4321. E-ISSN: 2579-8340 Volume 11. Nomor 2. Juli 2025: 2490-2497 Nilai Tukar Petani dan Pola Pengeluaran Pangan pada Rumah Tangga Petani Padi di Desa Ramban Wetan Farmers Terms of Trade and Food Expenditure Patterns among Rice Farming Households in Ramban Wetan Village Sinta Putri Nadila*. Puryantoro. Andina Mayangsari Universitas Abdurachman Saleh Situbondo Jln. PB. Sudirman No. 07 Situbondo *Email: sintaputrinadila26@gmail. (Diterima 12-03-2025. Disetujui 01-07-2. ABSTRAK Nilai Tukar Petani (NTP) dan pangsa pengeluaran pangan merupakan indikator kritis dalam mengukur kesejahteraan perekonomian rumah tangga petani. NTP menggambarkan daya beli petani melalui perbandingan harga yang diterima (I. dan dibayar (I. , sementara pangsa pengeluaran pangan mengukur proporsi pendapatan yang dialokasikan untuk kebutuhan pangan dan non-pangan. Penelitian ini bertujuan menganalisis Nilai Tukar Petani (NTP) dan pangsa pengeluaran pangan pada rumah tangga petani padi di Desa Ramban Wetan. Kecamatan Cermee. Kabupaten Bondowoso. Penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan deskriptif-analitis. Sampel penelitian sejumlah 86 petani dipilih menggunakan metode stratified random sampling. Hasil penelitian menunjukkan NTP padi berada pada kondisi defisit sebesar 83,84%, yang mengindikasikan rendahnya kesejahteraan petani. Kajian pangsa pengeluaran rumah tangga petani menunjukkan 64,98% dialokasikan untuk kebutuhan non-pangan dengan rata-rata Rp3. per musim tanam, yang mengkategorikan rumah tangga tersebut dalam kondisi "Tidak Tahan Pangan". Kata kunci: Nilai Tukar Petani. Pangsa Pengeluaran Pangan. Kesejahteraan Petani. Rumah Tangga Petani Padi ABSTRACT Farmers' Terms of Trade (NTP) and food expenditure share are critical indicators in measuring the economic welfare of farming households. NTP depicts farmers' purchasing power through the comparison of received (I. and paid (I. prices, while food expenditure share measures the proportion of income allocated to food and non-food needs. This study aims to analyze Farmers' Terms of Trade (NTP) and food expenditure share among rice farming households in Ramban Wetan Village. Cermee Subdistrict. Bondowoso Regency. The research employed a quantitative method using descriptive-analytic approach. A sample of 86 farmers was selected using stratified random sampling method. Research findings revealed that rice NTP was in a deficit condition at 83. 84%, indicating low farmer welfare. The study of household expenditure share showed 98% was allocated to non-food needs, with an average of IDR 3,293,799 per planting season, categorizing these households as "Food Insecure". Keywords: Farmers' Terms of Trade. Food Expenditure Share. Farmer Welfare. Rice Farming Households PENDAHULUAN Sektor pertanian, khususnya tanaman padi, memiliki peran strategis dalam perekonomian Indonesia, namun tingkat kesejahteraan petani seringkali tidak sebanding dengan kontribusi mereka yang signifikan (Sudaryanto, 2. Nilai Tukar Petani (NTP) dan pangsa pengeluaran pangan menjadi indikator kunci dalam mengukur kesejahteraan rumah tangga petani, yang menggambarkan kompleksitas tantangan ekonomi di sektor pertanian (Purwanto dkk. , 2. Untuk mengukur tingkat kesejahteraan petani, salah satu indikator penting yang digunakan adalah NTP, yaitu perbandingan antara indeks harga yang diterima petani (I. dengan indeks harga yang dibayar petani (I. untuk kebutuhan produksi dan konsumsi sehari-hari (Sudaryanto, 2. Sedangkan dalam aspek fundamental untuk memahami dinamika kesejahteraan petani yaitu mengkaji pangsa pengeluaran pangan rumah tangga petani padi. Penelitian komprehensif menunjukkan bahwa rumah tangga petani padi di Indonesia pada umumnya mengalokasikan porsi Nilai Tukar Petani dan Pola Pengeluaran Pangan pada Rumah Tangga Petani Padi di Desa Ramban Wetan Sinta Putri Nadila. Puryantoro. Andina Mayangsari pendapatan yang sangat besar, mencapai 60-70%, untuk konsumsi pangan, yang jauh melampaui standar ideal bagi rumah tangga dengan ketahanan pangan yang baik (Bakri dkk. , 2. Berdasarkan Badan Pusat Statistik (BPS, 2. Nilai Tukar Petani (NTP) sektor tanaman pangan, terutama padi, menunjukkan fluktuasi yang signifikan dan cenderung mengalami penurunan pada beberapa periode terakhir. Penurunan NTP ini disebabkan oleh sejumlah faktor kritis, di antaranya fluktuasi harga padi di tingkat petani, peningkatan berkelanjutan biaya input produksi, serta keterbatasan akses petani terhadap pasar dan subsidi pemerintah (Setyawan, 2. Pangsa pengeluaran pangan rumah tangga petani padi menjadi indikator penting dalam menilai tingkat kesejahteraan dan ketahanan pangan (Purwanto dkk. , 2. Faktor-faktor yang memengaruhi tingginya pangsa pengeluaran pangan pada rumah tangga petani padi meliputi keterbatasan akses ekonomi, rendahnya produktivitas lahan pertanian, fluktuasi harga komoditas yang tidak stabil, dan ketidakpastian pendapatan musiman (Hermanto & Swastika, 2. Semakin tinggi persentase pendapatan yang dialokasikan untuk pangan, semakin rendah tingkat kesejahteraan rumah tangga petani, yang mencerminkan tantangan struktural dalam upaya peningkatan kesejahteraan dan pemberdayaan masyarakat pertanian di Indonesia. Sektor pertanian di Jawa Timur, yang menyumbang sekitar 15% produksi padi nasional (BPS Jawa Timur, 2. , menghadapi tantangan kompleks dalam kesejahteraan petani, dengan pangsa pengeluaran pangan rumah tangga petani padi mencapai 65-70% dari total pendapatan (Pratama , 2. Kondisi ini disebabkan oleh faktor struktural seperti fluktuasi harga gabah rendah saat panen raya, peningkatan biaya produksi, dan keterbatasan akses pasar (Setiyawan, 2. Kabupaten Bondowoso, khususnya Desa Ramban Wetan di Kecamatan Cermee, menjadi salah satu daerah penghasil padi di Jawa Timur yang mayoritas penduduknya bergantung pada sektor Petani di daerah ini menghadapi kompleksitas tantangan ekonomi dan sosial yang Berdasarkan penelitian Susilowati . , pangsa pengeluaran pangan rumah tangga petani padi di wilayah ini mencapai 60-65% dari total pengeluaran rumah tangga, yang menunjukkan tingkat ketergantungan yang tinggi terhadap pemenuhan kebutuhan dasar makan. Selain tingginya porsi pengeluaran pangan, petani harus berhadapan dengan harga jual gabah yang fluktuatif, biaya input produksi yang terus meningkat, dan keterbatasan akses pasar. Tingkat Nilai Tukar Petani (NTP) di Bondowoso masih berada di bawah standar kesejahteraan ideal (NTP < . , yang mengindikasikan tekanan ekonomi sistemik yang dirasakan oleh komunitas petani (Darwis & Nurmanaf, 2. Kondisi ini memperlihatkan bahwa meskipun petani merupakan produsen pangan utama, mereka justru paling rentan mengalami ketidakamanan pangan dan kemiskinan struktural. Berbagai penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa faktor-faktor yang memengaruhi NTP meliputi harga jual komoditas, biaya input produksi, akses terhadap pasar, serta kebijakan pemerintah terkait subsidi dan infrastruktur pertanian (Purwanto, 2020. Suryadi & Wibowo, 2. Dalam konteks Desa Ramban Wetan, studi pendahuluan menunjukkan bahwa rata-rata rumah tangga petani mengalokasikan 60-65% pendapatannya untuk kebutuhan pangan, yang mengindikasikan tekanan ekonomi yang signifikan. Fajri, dkk . mengidentifikasi bahwa harga gabah, biaya tenaga kerja, serta pengeluaran pangan dan non-pangan rumah tangga petani menjadi faktor-faktor kunci yang memengaruhi NTP. Sejalan dengan itu. Nugroho dan Setiawan . mengembangkan kerangka konseptual yang mengintegrasikan berbagai pendekatan teoritis dalam memahami pangsa pengeluaran pangan, dengan mengidentifikasi tiga pendekatan utama: pendekatan struktural, pendekatan fungsional, dan pendekatan dinamis yang mengkaji perubahan pola pengeluaran pangan dari waktu ke waktu. Penelitian terbaru oleh Gafar . menunjukkan bahwa tanaman pangan padi dan jagung di Provinsi Jambi pada tahun 2010-2021 memiliki luas lahan dan produksi yang berfluktuasi, dengan harga jual komoditas, produksi, harga pupuk, dan upah buruh yang memengaruhi NTP secara Sementara itu. Rahman dan Wahyudi . mengungkapkan bahwa faktor-faktor yang memengaruhi NTP meliputi harga jual (=0,. , biaya input (=-0,. , dan skala usaha (=0,. , dengan aspek kelembagaan dan peran kelompok tani yang juga berkontribusi signifikan terhadap peningkatan NTP. Lebih lanjut. Kusumawati dkk. menemukan bahwa harga jual gabah, produktivitas, dan biaya produksi secara signifikan memengaruhi NTP dengan elastisitas masing-masing 0,724, 0,536, dan -0,489, serta program penyuluhan dan pemberdayaan petani berperan penting dalam meningkatkan NTP. Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis P-ISSN: 2460-4321. E-ISSN: 2579-8340 Volume 11. Nomor 2. Juli 2025: 2490-2497 Terkait dengan pangsa pengeluaran pangan. Rahmawati dkk. mengungkapkan bahwa rumah tangga petani di Desa Pawindan mengalokasikan 40% pendapatan untuk pangan dan 60% untuk non-pangan, dengan ketahanan pangan rumah tangga yang tergolong tinggi meski subsistensi pangan rendah. Sementara itu. Saputro. , & Fidayani. menemukan bahwa tingkat pendapatan, harga beras, dan pengetahuan gizi oleh ibu rumah tangga memengaruhi ketahanan pangan rumah tangga petani. Berdasarkan kajian empiris Prasetyo dkk. , terdapat variasi signifikan dalam pangsa pengeluaran pangan antarwilayah, dimana wilayah dengan produktivitas padi tinggi dan akses pasar yang baik cenderung memiliki pangsa pengeluaran pangan yang lebih Widiastuti dkk. menambahkan bahwa pangsa pengeluaran pangan pada rumah tangga petani padi di Indonesia berkisar antara 50-70% dari total pengeluaran, jauh melampaui standar Bank Dunia yang merekomendasikan tidak lebih dari 45%. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis besarnya NTP padi di Desa Ramban Wetan. Kecamatan Cermee. Kabupaten Bondowoso serta menganalisis besarnya pangsa pengeluaran pangan rumah tangga petani padi. Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan wawasan komprehensif tentang NTP dan pangsa pengeluaran pangan rumah tangga petani padi, sehingga dapat menjadi dasar dalam perumusan kebijakan pertanian yang lebih efektif untuk meningkatkan kesejahteraan petani dan ketahanan pangan di tingkat lokal. METODE PENELITIAN Penelitian ini dilaksanakan di Desa Ramban Wetan. Kecamatan Cermee. Kabupaten Bondowoso. Provinsi Jawa Timur yang dipilih secara purposive dimana Desa Ramban Wetan merupakan mayoritas penduduknya adalah petani yang mengandalkan komoditas padi sebagai sumber utama mata pencaharian. Desa ini merupakan salah satu sentra produksi padi di Kabupaten Bondowoso, dengan kontribusi penting dalam ketahanan pangan lokal. Waktu pengambilan data dilakukan selama satu bulan yaitu pada bulan Januari 2025. Populasi yang diamati adalah semua petani padi yang terdaftar dalam Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK) tahun 2024 Desa Ramban Wetan. Teknik penarikan sampel menggunakan metode stratified random sampling dengan ukuran sampel ditentukan menggunakan rumus Slovin pada tingkat kepercayaan 90%, menghasilkan 86 petani dari total populasi 620 petani padi. Sampel dibagi berdasarkan strata luas lahan, yaitu sebagai berikut: Tabel 1. Hasil Analisis NTP Padi Luas Lahan (H. Populasi Sampel 0,010-0,5 49,3 = 49 0,501-1 24,7 = 25 1,001-2 11,9 = 12 Jumlah Sumber: Data Primer Diolah . Metode pengumpulan data yang digunakan yaitu kuesioner, wawancara, dan dukumentasi. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif deskriptif yang bertujuan mengukur NTP padi serta menganalisis pangsa pengeluaran pangan rumah tangga petani. Variabel penelitian terdiri dari variabel dependen yaitu Nilai Tukar Petani (NTP) padi yang diukur dalam persentase. Analisis Data Analisis Nilai Tukar Petani Analisis Nilai Tukar Petani (NTP) Padi merupakan instrumen penting dalam mengukur tingkat kesejahteraan petani padi dengan membandingkan indeks harga yang diterima (I. dan dibayar oleh petani (I. Dengan rumus perhitungannya sebagai Berikut: NTP = It Ib x 100% Keterangan: NTP : Nilai Tukar Petani : Indeks harga yang diterima petani Ib : Indeks harga yang dibayar petani Nilai Tukar Petani dan Pola Pengeluaran Pangan pada Rumah Tangga Petani Padi di Desa Ramban Wetan Sinta Putri Nadila. Puryantoro. Andina Mayangsari Setelah ditemukan NTP menetapkan kriteria menurut Darwis dan Nurmanaf . interpretasi hasil analisis NTP Padi sebagai berikut: C NTP > 100 : mengindikasikan petani padi mengalami surplus (Kesejahteraan Tingg. C NTP = 100 : menunjukkan petani padi berada pada kondisi impas C NTP < 100 : menandakan petani padi mengalami defisit (Kesejahteraan Renda. Analisis Pangsa Pengeluaran Pangan Merupakan pendekatan komprehensif untuk memahami dinamika kesejahteraan rumah tangga petani padi. Metode ini mengukur kemampuan rumah tangga dalam memenuhi kebutuhan pangan melalui perhitungan persentase pengeluaran pangan terhadap total pengeluaran rumah tangga. Saputro. , & Fidayani. Rumus yang digunakan adalah sebagai berikut: p = PP TP X100% Keterangan: p : Pangsa Pengeluaran Pangan (%) PP : Pengeluaran Pangan Rumah Tangga (Rp/Bula. TP : Total Pengeluaran Rumah Tangga (Rp/Bula. Dengan kategorisasi: C p < 60%, rumah tangga dianggap tahan pangan. C p Ou 60% menunjukkan rumah tangga tidak tahan pangan. HASIL DAN PEMBAHASAN Nilai Tukar Petani Salah satu sektor yang dapat menunjang keberhasilan pembangunan perekonomian di Desa Ramban Wetan. Kecamatan Cermee. Kabupaten Bondowoso, adalah sektor pertanian. Peningkatan pembangunan pada sektor pertanian di Desa Ramban Wetan. Kecamatan Cermee. Kabupaten Bondowoso, ini dapat dilihat melalui indikator Nilai Tukar Petani (NTP) yang menjadi tolak ukur tingkat kesejahteraan petani. NTP merupakan salah satu indikator untuk mengetahui daya beli petani terhadap barang dan jasa yang dibutuhkan dalam proses produksi maupun konsumsi. Menurut Darwis dan Nurmanaf . NTP dengan nilai >100 mengindikasikan petani padi mengalami surplus atau tingkat kesejahteraan tinggi. NTP = 100 menunjukkan kondisi impas, dan NTP <100 menandakan petani padi mengalami defisit atau tingkat kesejahteraan rendah. Berikut hasil perhitungan NTP padi pada penelitian ini dapat di lihat pada tabel 2: Tabel 2. Hasil Analisis NTP Padi Total Penerimaan Total Pengeluaran Rata-Rata Sumber: Analisis Data Primer . NTP 83,84 Dari tabel tersebut terlihat bahwa Nilai Tukar Petani (NTP) Padi di Desa Ramban wetan. Kecamatan Cermee. Kabupaten Bondowoso, rata-rata total penerimaan petani padi sebesar Rp. 824 per musim tanam, sedangkan untuk rata-rata total pengeluaran petani mencapai Rp. 162 per musim tanam. Dengan hasil perhitungan NTP menunjukkan angka 83,84%. Sehingga dapat diketahui bahwa hasil analisis NTP padi di Desa Ramban Wetan. Kecamatan Cermee. Kabupaten Bondowoso, menunjukkan angka 83,84%. Mengacu pada kriteria Darwis dan Nurmanaf . , nilai ini < 100% yang mengindikasikan bahwa petani padi di Desa Ramban Wetan. Kecamatan Cermee. Kabupaten Bondowoso, mengalami defisit atau berada pada tingkat kesejahteraan yang rendah. Kondisi ini menunjukkan bahwa pendapatan yang diterima petani dari usahatani padi tidak mampu mencukupi biaya produksi dan kebutuhan hidup mereka secara optimal. Hal ini juga mengindikasikan bahwa daya beli petani terhadap barang dan jasa yang dibutuhkan dalam proses produksi maupun konsumsi masih rendah, dimana pengeluaran petani lebih besar dibandingkan Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis P-ISSN: 2460-4321. E-ISSN: 2579-8340 Volume 11. Nomor 2. Juli 2025: 2490-2497 dengan pendapatan yang diterima dari hasil usahatani padi. Berikut dipaparkan tabel distribusi NTP Padi di Desa Ramban Wetan, kecamatan Cermee. Kabupaten Bondowoso. Tahun 2025: Tabel 3. Distribusi NTP Padi Desa Ramban Wetan Tahun 2025 Kategori NTP Interpretasi Jumlah Petani (Darwis & Nurmanaf, 2. NTP > 100% Surplus NTP = 100% Impas NTP < 100% Defisit Total Sumber: Analisis Data Primer . Persentase (%) 63,95 36,05 Dari tabel tersebut terlihat bahwa distribusi hasil analisis distribusi NTP padi di Desa Ramban Wetan. Kecamatan Cermee. Kabupaten Bondowoso, menunjukkan bahwa dari total 86 responden petani, sebanyak 55 petani . ,95%) memiliki nilai NTP >100% yang mengindikasikan bahwa mereka mengalami surplus atau berada pada tingkat kesejahteraan yang tinggi. Sementara itu, sebanyak 31 petani . ,05%) memiliki nilai NTP <100% yang menandakan mereka mengalami defisit atau berada pada tingkat kesejahteraan yang rendah. Tidak ada petani yang berada pada kondisi impas atau NTP =100%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata NTP padi di Desa Ramban Wetan. Kecamatan Cermee. Kabupaten Bondowoso, sebesar 83,84% (NTP<100%), mengindikasikan kondisi defisit sesuai kriteria Darwis dan Nurmanaf . , namun analisis distribusi menunjukkan 63,95% petani justru memiliki NTP > 100%. Fenomena ini dapat dijelaskan melalui pola distribusi data yang menunjukkan adanya konsentrasi petani dengan NTP sangat rendah yang signifikan memengaruhi nilai rata-rata. Beberapa faktor penyebabnya meliputi: perbedaan luas kepemilikan lahan, variasi akses terhadap teknologi dan modal, perbedaan kualitas lahan, disparitas dalam jaringan pemasaran, serta keragaman pola diversifikasi pendapatan rumah tangga petani. Selain itu, beban biaya produksi yang tidak proporsional pada petani tertentu turut berkontribusi terhadap kondisi Penelitian pada petani padi di Desa Ramban Wetan. Kabupaten Bondowoso menunjukkan pola yang cukup berbeda dengan tren nasional yang dipaparkan oleh Aini. Dkk . Sementara analisis tren nasional periode 2018-2023 menunjukkan peningkatan NTP padi sebesar 5,43% dengan tren positif (NTP>100 sepanjang 2. , penelitian di Bondowoso justru menemukan ratarata NTP sebesar 83,84% . ondisi defisi. Perbedaan ini menarik karena meskipun secara rata-rata petani Bondowoso mengalami defisit, namun 63,95% individu petani justru memiliki NTP>100%. Fenomena ini mengilustrasikan ketimpangan signifikan dalam distribusi kesejahteraan petani yang tidak terlihat pada analisis agregat nasional. Hal ini sejalan dengan temuan Aini et al. bahwa NTP mengalami fluktuasi berdasarkan periode dan wilayah, dengan penurunan terendah terjadi pada Perbedaan hasil kedua penelitian menegaskan pentingnya analisis pada tingkat mikro untuk memahami disparitas kesejahteraan petani yang dipengaruhi oleh faktor lokal seperti perbedaan luas lahan, akses teknologi, kualitas lahan, dan jaringan pemasaran yang tidak tercermin dalam data agregat nasional. Pangsa Pengeluaran Pangan Pangsa pengeluaran pangan merupakan rasio yang menggambarkan perbandingan antara besarnya pengeluaran untuk konsumsi pangan dengan total pengeluaran rumah tangga yang meliputi pangan dan non-pangan. Indikator ini penting karena dapat mencerminkan tingkat kesejahteraan sebuah rumah tangga petani, dimana semakin tinggi persentase pengeluaran untuk pangan, mengindikasikan tingkat kesejahteraan yang relatif lebih rendah, sesuai dengan Hukum Engel. Sebaliknya, ketika pengeluaran non-pangan lebih besar dibanding pengeluaran pangan, hal ini menunjukkan tingkat kesejahteraan yang lebih baik karena rumah tangga memiliki kemampuan untuk mengalokasikan pendapatannya pada kebutuhan sekunder dan tersier setelah kebutuhan dasar pangannya terpenuhi. Hasil perhitungan rata-rata pangsa pengeluaran pangan di Desa Ramban Wetan. Kecamatan Cermee. Kabupaten Bondowoso. Tahun 2025 dapat dilihat pada tabel 4. Nilai Tukar Petani dan Pola Pengeluaran Pangan pada Rumah Tangga Petani Padi di Desa Ramban Wetan Sinta Putri Nadila. Puryantoro. Andina Mayangsari Tabel 4. Hasil Analisis Pangsa Pengeluaran Pangan Total Rata-Rata p /Musim /Musim 64,98 Sumber: Analisis Data Primer . Berdasarkan hasil analisis panmgsa pengeluaran pangan menunjukkan data rata-rata Pangsa Pengeluaran Pangan di Desa Ramban Wetan. Kecamatan Cermee. Kabupaten Bondowoso. Dapat dilihat bahwa total pengeluaran baik pangan dan non-pangan mencapai Rp. 750 per musim, dengan rata-rata pengeluarannya sebesar Rp. 799 per musim. Yang dapat disimpulkan bahwa besar persentase nilai pangsa pengeluaran pangan rumah tangga petani padi mencapai 64,98% dari total pengeluaran keseluruhan. Berdasarkan hasil penelitian mengenai pangsa pengeluaran pangan rumah tangga petani padi di Desa Ramban Wetan. Kecamatan Cermee. Kabupaten Bondowoso tahun 2025, ditemukan bahwa total pengeluaran pangan dan non-pangan mencapai Rp. 750 per musim dengan rata-rata Rp. 799 per musim. Analisis data menunjukkan bahwa persentase pangsa pengeluaran pangan mencapai 64,98% dari total pengeluaran, melebihi ambang batas 60% yang mengindikasikan ketidaktahanan pangan. Temuan ini membuktikan kebenaran hipotesis penelitian yang menyatakan bahwa rumah tangga petani padi di Desa Ramban Wetan. Kecamatan Cermee. Kabupaten Bondowoso, termasuk dalam kategori tidak tahan pangan . Ou 60%). Hal ini dapat dijelaskan oleh beberapa faktor di lapangan, antara lain terbatasnya diversifikasi sumber pendapatan petani yang masih bertumpu pada hasil pertanian padi, fluktuasi harga jual hasil panen yang memengaruhi daya beli, serta tingginya biaya produksi pertanian yang harus ditanggung. Hasil penelitian di Desa Ramban Wetan. Kabupaten Bondowoso yang menunjukkan p sebesar 64,98% tidak sejalan dengan penelitian Puryantoro dan Mayangsari . di Kabupaten Situbondo yang menunjukkan p rata-rata sebesar 56,14%. Ketidaksejajaran ini disebabkan oleh beberapa faktor: pertama, perbedaan komoditas utama yang dibudidayakan, dimana petani mangga cenderung memiliki nilai jual produk yang lebih tinggi dibandingkan petani padi, sehingga memberikan pendapatan yang lebih besar untuk dialokasikan pada pengeluaran non-pangan. Kedua, struktur biaya produksi yang berbeda, dimana budidaya padi umumnya memerlukan input produksi lebih intensif . upuk, pestisida, tenaga kerj. dibandingkan tanaman tahunan seperti Ketiga, kemungkinan adanya diversifikasi pendapatan yang lebih baik pada petani mangga dibandingkan petani padi yang lebih bergantung pada satu komoditas. Keempat, faktor geografis dan sosial ekonomi yang berbeda antara kedua wilayah penelitian, dimana kondisi lahan, akses pasar, dan infrastruktur pendukung pertanian bisa jadi berbeda secara signifikan, memengaruhi produktivitas dan profitabilitas usahatani yang pada akhirnya berdampak pada daya beli dan alokasi pengeluaran rumah tangga petani. KESIMPULAN Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan maka dapat disimpulkan sebagai berikut: Hasil perhitungan NTP padi di Desa Ramban Wetan. Kecamatan Cermee. Kabupaten Bondowoso, menunjukkan angka 83,84%, yang mengindikasikan kondisi defisit atau kesejahteraan petani padi yang rendah. Namun, analisis distribusi menunjukkan bahwa 63,95% petani justru memiliki NTP > 100%, mencerminkan adanya ketimpangan dalam kesejahteraan Fenomena ini disebabkan oleh faktor-faktor seperti perbedaan luas kepemilikan lahan, akses terhadap teknologi dan modal, kualitas lahan, jaringan pemasaran, serta pola diversifikasi Selain itu, beban biaya produksi yang tidak proporsional turut memengaruhi kondisi ini. Dengan demikian, hipotesis awal yang menyatakan bahwa NTP padi di Desa Ramban Wetan. Kecamatan Cermee. Kabupaten Bondowoso, berada dalam kondisi defisit terbukti secara statistik pada nilai rata-rata, tetapi distribusi data menunjukkan adanya petani yang tetap berada dalam kondisi surplus. Berdasarkan hasil analisis proporsi pengeluaran pangan rumah tangga petani padi di Desa Ramban Wetan. Kecamatan Cermee. Kabupaten Bondowoso, menunjukkan bahwa total Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis P-ISSN: 2460-4321. E-ISSN: 2579-8340 Volume 11. Nomor 2. Juli 2025: 2490-2497 pengeluaran pangan dan non-pangan mencapai Rp. 750 per musim dengan rata-rata pengeluaran sebesar Rp. 799 per musim. Hasil penelitian membuktikan hipotesis bahwa rumah tangga petani padi di di Desa Ramban Wetan. Kecamatan Cermee. Kabupaten Bondowoso, termasuk dalam kategori tidak tahan pangan, dengan nilai pangsa pengeluaran pangan sebesar 64,98% yang melebihi ambang batas ketahanan pangan . %). Saran Berdasarkan hasil penelitian dan kesimpulan tersebut, berikut beberapa saran yang bisa diterapkan: Mengatur pengeluaran non-pangan secara cermat dan mengurangi pengeluaran non-pangan yang tidak terlalu penting, serta mengutakaman untuk kebutuhan produktif seperti pendidikan anak dan modal usaha. Manfaatkan pendapatan yang lebih untuk menabung, modal pengembangan usaha tani, investasi pendidikan anak, dan perbaikan sarana produksi pertanian. DAFTAR PUSTAKA