Equilibrium: Jurnal Pendidikan Vol. XII. Issu 2. Mei-Agustus 2024 https://journal. id/index. php/equilibrium/index P-ISSN: 2339-2401/E-ISSN: 2477-0221 Prodi Pendidikan Sosiologi Equilibrium: Jurnal Pendidikan Vol. XII. Issu 2. Mei-Agustus 2024 Sosiologi http://journal. id/index. php/equilibrium Membangun Karakter Generasi Digital Melalui Literasi Digital Perspektif Pendidikan Islam Uswatun Hasanah1. Eka Putri Prasasti2. Evi Febriani3. Ida Faridatul Hasanah4 Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung. Email : uswatunh@radenintan. Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung. Email: ekaprasasti@gmail. Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung Email : evifebriani@radenintan. Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung. Email : idafaridatulhasanah@radenintan. Abstract. This research aims to describe the optimization of digital literacy as an effort to build the character of the digital generation in line with values in Islamic education. The study employs a qualitative approach with a literature review method. Data were collected from various references related to the digital generation, digital literacy, character education, and Islamic education. The findings indicate that optimizing digital literacy integrated with Islamic character education values has significant potential in cultivating the character of the digital generation to be wise and ethical in utilizing technology and digital information. The implementation of digital literacy strategies in online learning, parental supervision, and social media campaigns is key to the success of character building for the digital generation in the current all-digital era. This research is expected to provide theoretical and practical contributions to educators, parents, and policymakers in building the character of the Indonesian digital generation, aiming for them to grow into a resilient and morally upright golden generation in 2045. Keywords : Character. Digital Generation. Digital Literacy. Islamic Education Abstract. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan optimalisasi literasi digital sebagai upaya membangun karakter generasi digital yang sejalan dengan nilai-nilai dalam pendidikan Islam. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi literatur. Data dikumpulkan dari berbagai referensi terkait generasi digital, literasi digital, pendidikan karakter, dan pendidikan Islam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa optimalisasi literasi digital yang diintegrasikan dengan nilai-nilai pendidikan karakter Islam memiliki potensi yang besar dalam membangun karakter generasi digital agar bijak dan beretika dalam memanfaatkan teknologi dan informasi digital. Implementasi strategi literasi digital dalam pembelajaran daring, pengawasan orangtua dan kampanye media sosial menjadi kunci keberhasilan pembangunan karakter generasi digital di era serba digital saat ini. Implikasinya, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi teoritis dan praktis bagi para pendidik, orangtua serta pengambil kebijakan dalam membangun karakter generasi digital Indonesia agar tumbuh menjadi generasi emas 2045 yang tangguh dan berakhlak Keywords : Karakter. Generasi Digital. Literasi Digital. Pendidikan Islam Equilibrium: Jurnal Pendidikan Vol. XII. Issu 2. Mei-Agustus 2024 https://journal. id/index. php/equilibrium/index P-ISSN: 2339-2401/E-ISSN: 2477-0221 PENDAHULUAN Perkembangan teknologi digital yang pesat belakangan ini melahirkan apa yang disebut sebagai generasi digital (Buckingham, 2. Generasi ini tumbuh dan berkembang bersama teknologi digital seperti internet, smartphone, dan media sosial. Ketergantungan yang tinggi pada teknologi digital ini berpotensi membentuk karakter generasi digital yang unik dan berbeda dengan generasi sebelumnya (Sujana et al. , 2. Kehadiran generasi digital yang sehari-hari terkait dengan teknologi dan lebih banyak menghabiskan waktu untuk berselancar di dunia maya, seringkali menyebabkan mereka berperilaku menyimpang dari prinsip dan karakter bangsa (Sujana et al. Generasi digital, yang sering ditandai dengan keterampilan teknologinya yang tinggi, menghadapi berbagai tantangan. Penilaian berlebihan terhadap keterampilan ini, yang dapat menyebabkan masalah seperti mudah teralihkan, rendahnya kontrol perhatian, dan pencapaian pendidikan yang menurun (Ershova, 2. Hal ini menunjukkan bahwa perlunya literasi digital dan media untuk mengatasi tantangan ini, dengan pengembangan berpikir kritis, kreativitas, dan keterampilan komunikasi merupakan hal yang sangat penting (Andriievska & Shinkaryova, 2. Oleh karena itu. Penelitian S. Vie membahas tentang kesenjangan digital, mencatat bahwa meskipun peserta didik mungkin lebih mahir teknologi daripada pendidik mereka, mereka tetap memerlukan bimbingan dalam mengembangkan literasi digital kritis (Vie, 2. Generasi digital telah dipengaruhi oleh gaya hidup modern yang hedonis, yang telah mengabaikan nilai-nilai budaya bangsa yang berasal dari Pancasila. Beberapa perilaku yang disukai dan sering ditampilkan oleh generasi muda di internet adalah sering bertentangan dengan karakter bangsa juga juga bertentangan dengan Islam, seperti menampilkan konten pornografi di akun media sosial untuk menarik perhatian orang lain, membully orang di media sosial, membuat video prank yang sering menampilkan adegan yang tidak patut ditiru, dan membuat konten yang berbau sara sehingga menimbulkan kegaduhan di masyarakat. Problematika karakter generasi digital lainnya adalah darurat narkoba. Menurut data BNN tahun 2017, ada 4 juta . 18%) penduduk Indonesia berusia 10-58 tahun menjadi penyalahguna narkotika, konsumsi minuman keras, dan seks bebas (Somad, 2. , tawuran antar pelajar, kekerasan terhadap anak, korupsi, kasus pelanggaran HAM menunjukan bahwa permasalahan karakter ini harus segera ditangani (Firdaus & Fadhir, 2. Lebih lanjut. Berkembangnya teknologi digital dan kemudahan untuk mendapatkan informasi digital memunculkan peluang sekaligus tantangan. Kurang lebih 70 juta orang dari generasi muda memiliki akses internet, dan mereka biasanya menggunakan smartphone, komputer, dan laptop selama kira-kira lima jam setiap hari untuk mengakses internet. Generasi digital pada dasarnya memiliki kemampuan untuk mengakses media digital saat ini, tetapi mereka belum menggunakannya dengan cukup untuk memperoleh informasi untuk membangun kapasitas dan potensi mereka Kondisi yang mereka alami tidak didukung oleh konten dan informasi berkualitas tinggi dari media digital yang sebenarnya memiliki berbagai jenis informasi (Sulianta, 2. Mereka lebih banyak melihat tanpa memahami atau bahkan mempelajari cara bermedia sosial yang bijak. Di sisi lain, maraknya informasi digital yang tersebar di internet kerap kali tidak mendidik dan bahkan berpotensi merusak karakter generasi muda. Konten-konten kebencian, pornografi, hoaks, ujaran kebencian dan radikalisme dengan mudah diakses dan berpengaruh buruk dalam pembentukan karakter generasi digital (Hasanah & Sukri, 2. Dinyatakan oleh Kemendikbud, bahwa keberadaan konten negatif yang merusak ekosistem digital saat ini dapat diatasi dengan membangun kesadaran setiap individu. Munculnya berbagai macam konten yang menargetkan warganet sebagai konsumennya, perlu disikapi dengan cermat. Kompetensi literasi digital di abad ke-21 menjadi keterampilan yang penting dalam menyikapi perkembangan teknologi dan internet dewasa ini (Sulianta, 2. Oleh karena itu, diperlukan upaya membangun dan menanamkan karakter generasi digital yang sejalan dengan nilai-nilai Islam. Salah satu strategi yang dapat dilakukan adalah dengan mengoptimalkan literasi digital dalam pendidikan agama Islam. Dengan literasi digital, anak didik Equilibrium: Jurnal Pendidikan Vol. XII. Issu 2. Mei-Agustus 2024 https://journal. id/index. php/equilibrium/index P-ISSN: 2339-2401/E-ISSN: 2477-0221 dapat mengakses, memanfaatkan serta mengevaluasi konten digital secara bijak dan beretika. Sehingga internet dan teknologi digital dapat dimanfaatkan untuk pembelajaran, pendidikan karakter dan kebaikan, bukan sebaliknya. Beberapa penelitian terdahulu telah membahas pemanfaatan literasi digital dalam pendidikan (Akbar & Anggraeni, 2017. Alwan, 2021. Wahidin, 2. Namun belum banyak penelitian yang memfokuskan literasi digital untuk membangun karakter generasi digital khususnya dalam perspektif pendidikan Islam. Selain itu, penelitian mengenai strategi optimalisasi literasi digital sebagai pendekatan dalam membangun karakter generasi digital di era serba digital saat ini masih belum banyak dilakukan. Sementara penelitian yang ada lebih banyak membahas dampak negatif fenomena digital terhadap karakter generasi muda (Mansir, 2022. Sujana et al. , 2. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji optimalisasi literasi digital dalam membangun karakter generasi digital dengan mengintegrasikan nilai-nilai karakter dalam perspektif pendidikan Islam. Sehingga dapat menjadi salah satu strategi yang efektif untuk menjawab tantangan perkembangan karakter pada generasi digital saat ini. METODE PENELITIAN Penelitian ini termasuk penelitian kualitatif, yakni penelitian yang datanya bersifat kualitatif. Jenis penelitiannya ialah studi kepustakaan . ibrary researc. Keseluruhan dari penelitian ini bersumber dari sumber-sumber pustaka serta memfokuskan pada literatur-literatur yang berkaitan dengan tema yang diangkat oleh penulis. Teknik analisis yang digunakan adalah analisis konten atau content analysis yang merupakan teknik analisis yang memiliki sifat pembahasan dengan menggali lebih dalam pada sebuah informasi baik informasi tertulis, maupun tercetak dalam sebuah media. Adapun langkah-langkah analisis: Menentukan pokok bahasan yang akan dianalisis, mengumpulkan bahan-bahan literatur dari berbagai sumber media yang sesuai dengan pokok bahasan dan menganalisis dan mengklarifikasi. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Landasan Pemikiran Literasi Digital sebagai Opsionalitas Penanaman Karakter Karakter individu terbentuk dari faktor bawaan dan lingkungan. Meski potensi karakter baik telah ada, pembentukan karakter tetap memerlukan bimbingan dan pendidikan sejak dini. Tujuannya adalah membangun kepribadian unggul berlandaskan nilai-nilai kebenaran. Karakter juga didasari kebiasaan yang berpengaruh hingga dewasa. Peran orang tua sangat krusial dalam menanamkan kebiasaan baik pada anak-anak. Di era revolusi industri 5. 0 yang berfokus pada manusia dan teknologi, manusia harus menjadi poros utama, bukan sebaliknya. Kebiasaan individu dalam berinteraksi dan menggunakan teknologi digital turut mempengaruhi karakternya (Dewi et al. , 2. Kelaziman yang baik dalam teknologi digital disebut literasi digital. Literasi digital mencakup dimensi teknis, psikologis, dan sosial. Jadi, literasi digital merupakan keterampilan majemuk dalam situasi digital masa kini. Semua hal terkait dunia digital menuntut literasi digital guna mengelola pesan, memahami konten, dan menjaga keamanan diri. Gagasan literasi digital mulai bermunculan sekitar dekade 1990-an yang lalu menjadi isu penting sejalan dengan meningkatnya penggunaan media digital. Paul Gilster, salah satu tokoh yang mempopulerkan istilah literasi digital, menerbitkan bukunya pada 1997 dengan judul "Digital Literacy" yang membahas konsep ini mengemukakan bahwa literasi digital adalah kemampuan memberdayakan teknologi dan informasi, suatu kemampuan menggunakan perangkat digital secara efektif dan efisien dalam berbagai konteks seperti pada: dunia akademik, karir, dan kehidupan sehari-hari. Literasi digital merupakan kecakapan dan pemahaman dalam memanfaatkan teknologi digital modern seperti internet dan perangkat komunikasi canggih untuk mencari, menggunakan, mengevaluasi, menciptakan, dan menyebarluaskan informasi dengan bijaksana, cerdas, teliti, akurat, serta patuh pada aturan dalam upaya berinteraksi positif sehari-hari (Suhedri, 2. Feri Sulianta Equilibrium: Jurnal Pendidikan Vol. XII. Issu 2. Mei-Agustus 2024 https://journal. id/index. php/equilibrium/index P-ISSN: 2339-2401/E-ISSN: 2477-0221 juga mengungkapkan bahwa literasi digital mencakup sikap, wawasan, dan keterampilan dalam menangani dan mengkomunikasikan informasi serta mengaplikasikan pengetahuan secara efektif pada beragam media dan format digital (Sulianta, 2. Dalam seri modul literasi digital yang dikeluarkan oleh KOMINFO, bahwa ada empat kompetensi literasi digital yaitu digital skills atau cakap bermedia digital, digital culture atau budaya bermedia digital, digital ethics atau etika bermedia digital, dan digital safety atau aman bermedia digital (Kominfo, 2. Literasi digital tak hanya membentuk karakter individu, tapi juga lingkungan sosialnya dalam hal interaksi, komunikasi, dan pemanfaatan teknologi untuk bidang-bidang kehidupan seperti ekonomi, politik, dan edukasi. Keterampilan ini mengasah kemampuan individu dalam media digital untuk pengambilan keputusan bijak. Dengan literasi digital yang memadai, seseorang bisa memanfaatkan media digital untuk aktivitas produktif, bukan kontraproduktif ataupun destruktif. Di era digital yang berubah dengan cepat, maka seluruh kalangan termasuk anak-anak perlu dilengkapi kecakapan literasi digital. Literasi digital bisa menjadi salah satu sarana membangun karakter individu lewat aktivitas daring semacam membaca, memilah informasi akurat, dan menyebarluaskan informasi tanpa dampak negative (Rianto, 2. Mengolah informasi, tidak mudah percaya hoaks, serta merangkai pengetahuan anyar yang efektif adalah harapan dari literasi Maka, kemampuan berliterasi digital sangat dibutuhkan kondisi kini. Pengalaman berliterasi digital yang tepat akan menumbuhkembangkan karakter baik seseorang. Memahami Konsep Literasi Digital Perspektif Pendidikan Islam Konsep literasi dalam Islam sangat luas. Literasi yang bermakna upaya untuk memperoleh pengetahuan melalui membaca maka merupakan kewajiban bagi umat Islam sejalan dengan perintah pertama Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW dalam Q. S Al-Alaq ayat 1-5. Ayat tersebut memerintahkan untuk membaca dengan menyebut nama Tuhan yang menciptakan manusia dari segumpal darah. Allah juga disebut Maha Pemurah yang mengajar manusia dengan perantaraan pena, serta mengajarkan apa yang tidak diketahui manusia. Perintah AuiqraAy . ini diikuti dengan Aubismi rabbikaAy . engan nama Tuhanm. yang mengindikasikan agar membaca dengan ikhlas dan memilih bahan bacaan sejalan dengan Aunama AllahAy, bukan hal-hal yang bertentangan. Sebagaimana Allah memerintahkan Nabi Muhammad SAW untuk "membaca" . pada wahyu pertama yang diturunkan. Makna iqra melampaui sekadar membaca dan menulis, namun mencakup pengertian yang komprehensif. Menurut tafsir Ibnu Katsir, ayat-ayat pertama surat Al-Alaq merupakan permulaan rahmat Ilahi agar manusia selalu mengingat asal kejadiannya dan memperoleh ilmu yang tak diketahuinya. Maka Allah telah menganugerahkan rahmat berupa ilmu yang mencakup tiga ranah: hati, lisan, dan tulisan. Sebuah hadis juga memerintahkan untuk mendokumentasikan ilmu lewat tulisan serta mengamalkannya agar senantiasa memperoleh rahmat-Nya. Jika dalam lingkup era digital seperti saat ini, makna ayatnya berhubungan dengan berliterasi Dalam Pendidikan Islam literasi digital diajarkan dengan penggunaan beberapa konsep seperti membaca . , ilmu . encari pemahama. , dan memverifikasi, mengevaluasi, memvalidasi atau yang biasa dikenal dalam Islam dengan kata AutabayyunAy. Membaca dan mencari ilmu . emahaman atau pengetahua. sebagai alternatif literasi digital merupakan kewajiban yang harus ditunaikan oleh setiap muslim. Al Quran memberikan gambaran bahwa dengan konsep membaca, mencari pemahaman, serta memverifikasi diperlukan ketelitian, perlahan, dan tidak ceroboh (Hermawan et al. , 2. Bagi setiap muslim, pemanfaatan media digital yang dibarengi dengan literasi digital harus berdampingan pula pada pendidikan Islam, mengenai bagaimana Islam memandang, mengajarkan, dan mengarahkan manusia dalam berliterasi (Hasanah & Sukri, 2. Literasi digital dalam perspektif pendidikan Islam juga berarti upaya dari seseorang untuk mengelola sumber daya serta memanfaatkan teknologi digital sebaik mungkin. Equilibrium: Jurnal Pendidikan Vol. XII. Issu 2. Mei-Agustus 2024 https://journal. id/index. php/equilibrium/index P-ISSN: 2339-2401/E-ISSN: 2477-0221 Membangun Karakter Generasi Digital Melalui Literasi Digital Perspektif Pendidikan Islam Perkembangan teknologi. Indonesia memiliki potensi besar dalam teknologi digital karena populasi besar dan penetrasi internet tinggi (Santoso et al. , 2. Generasi milenial perlu memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi dengan bijak dan optimal. Teknologi dan internet akan sangat bermanfaat jika digunakan dengan cara yang tepat (Marwan et al. , 2. Dalam dunia pendidikan, teknologi digital dimanfaatkan antara lain sebagai media mencari informasi, media pembelajaran, dan sistem evaluasi (Indarta et al. , 2. Di masa pandemi, pendidik memanfaatkan teknologi digital untuk pembelajaran daring atau online. Pendidik dituntut mampu memanfaatkan kemajuan teknologi dalam pembelajaran. Dibutuhkan inovasi metode daring yang kreatif, bukan sekadar menugaskan mencari data daring lalu copy-paste. Penting bagi pendidik menguasai variasi metode digital agar tidak monoton. Peserta didik menginginkan pembelajaran interaktif dari pendidik. Hal ini membuktikan pendidikan berkembang sejalan teknologi digital yang telah mengubah cara berkomunikasi dan Pendidik juga perlu memberi edukasi pemanfaatan teknologi digital untuk hal-hal positif dan Banyak pihak dalam pendidikan belum siap kondisi daring, namun terpaksa menjalankannya (Hariyadi et al. , 2. Kebanyakan peserta didik hanya paham menggunakan teknologi digital untuk hiburan yang rawan dampak negatif (Ulfah, 2. Maka, edukasi literasi digital perlu diberikan lebih dahulu. Informasi pembelajaran perlu ditelaah dari sumber terpercaya. Pembelajaran digital juga perlu menanamkan nilai universal seperti kebebasan berekspresi dan privasi agar peserta didik bijak memanfaatkan kebebasan dan privasi digital tanpa merugikan diri sendiri dan orang lain. Beberapa komponen Pendidikan Pendidikan sebagai factor pendukung literasi digital sebagai alternatif menanamkan karakter yaitu: Pertama. Pendidik dan Peserta Didik merupakan agen perubahan yang berada di garda terdepan Pendidikan yang memiliki peran strategis dalam membentuk karakter bangsa melalui Pendidik dapat memberikan edukasi dan keteladanan dalam pemanfaatan teknologi digital secara bijak, seperti menggunakan konten positif (Dewi et al. , 2. Hal ini akan menginspirasi peserta didik untuk berkarakter baik. Sedangkan Peserta didik merupakan penerus generasi digital. Dengan literasi digital yang tepat sejak dini, mereka dapat mengembangkan karakter dan memanfaatkan teknologi digital dengan cara yang produktif dan beretika. Melalui model pembelajaran berbasis literasi digital dapat mengembangkan keterampilan abad 21 seperti komunikasi, kolaborasi, kreativitas, dan berpikir kritis yang akan membentuk karakter generasi digital (Suriani, 2. Dengan demikian, pendidik dan peserta didik melalui pendidikan berbasis literasi digital dapat secara efektif menanamkan karakter bangsa pada generasi digital. Pendidik perlu memainkan peran utama sebagai model dalam penerapan literasi digital Islam. Mereka harus mampu mengintegrasikan nilai-nilai Islam dalam penggunaan teknologi, memberikan contoh etika digital, dan mendukung pengembangan karakter positif pada peserta didik (Farid. Pendidik juga perlu membimbing peserta didik untuk memahami dan mengaplikasikan prinsip-prinsip Islam dalam kehidupan digital mereka, mengajarkan kesadaran sosial, dan memberikan arahan dalam menggunakan teknologi dengan tanggung jawab. Kedua. Media pembelajaran yang dapat digunakan Pendidik untuk merancang konten dan aktivitas pembelajaran digital yang mengedukasi nilai-nilai moral (Dewi et al. , 2. Dalam hal ini pendidik dapat memanfaatkan berbagai platform dan alat digital, seperti video interaktif, aplikasi pembelajaran dan media social guna menciptakan pengalaman belajar yang menarik serta relevan dengan kehidupan peserta didik. Selain itu pendekatan ini juga akan membantu peserta didik untuk mengembangkan kebiasaan baik, baik dalam koonteks digital maupun non-digital. Media pembelajaran harus dirancang untuk mendukung literasi digital Islam dengan menyajikan konten yang sesuai dengan nilai-nilai Islam (Sudrajat, 2. Pengembangan konten digital Islami, aplikasi, dan platform pembelajaran harus diperhatikan agar dapat menjadi sarana yang positif dalam membangun karakter generasi digital. Dalam hal ini, media pembelajaran dapat mencakup materi yang mendukung pemahaman etika digital, peningkatan karakter, dan integrasi nilai-nilai Islam dalam aktivitas digital. Equilibrium: Jurnal Pendidikan Vol. XII. Issu 2. Mei-Agustus 2024 https://journal. id/index. php/equilibrium/index P-ISSN: 2339-2401/E-ISSN: 2477-0221 Ketiga. Kurikulum Pendidikan literasi digital dapat ditanamkan secara berjenjang di semua tingkat pendidikan, mulai dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Literasi digital yang jika dimasukkan ke dalam kurikulum pendidikan, dapat diselingi di berbagai mata pelajaran, seperti mata pelajaran TIK. Pendidikan Agama Islam. Sosiologi, dan Pendidikan Kewarganegaraan (Hasanah & Sukri, 2. Dengan demikian kurikulum perlu mengintegrasikan literasi digital dan nilai ajaran Islam sebagai komponen penting. Ini melibatkan penanaman nilai-nilai Islam dalam mata pelajaran yang berkaitan dengan teknologi, seperti TIK (Teknologi Informasi dan Komunikas. Kurikulum harus mencakup pembelajaran etika digital, penggunaan teknologi yang bermoral, dan pemahaman konsep-konsep syariah dalam konteks digital (Setia & Imron, 2. Pemilihan materi pembelajaran, proyek, dan tugas harus diarahkan untuk mempromosikan pemahaman yang seimbang antara teknologi dan nilai-nilai Islam sehingga dapat melakukan penanaman karakter pada generesai digital. Membangun karakter generasi digital melalui literasi digital dalam perspektif pendidikan Islam yang berbasiskan Al-QurAoan melibatkan integrasi antara nilai-nilai etika, moral, dan spiritual dalam penggunaan teknologi. Fokusnya tidak hanya pada pemahaman teknologi, tetapi juga pada pengembangan karakter positif seperti kejujuran, tanggung jawab, dan kedisiplinan, yang merupakan nilai-nilai fundamental dalam ajaran Islam (Huda et al. , 2. Pendidikan ini mencakup aspek-aspek seperti etika digital, penggunaan teknologi yang bermoral, konten digital Islami, pemahaman terhadap dunia maya, dan perlindungan diri online (Farid, 2. Dengan demikian, literasi digital Islam tidak hanya memberikan keterampilan teknologi, tetapi juga membentuk individu yang dapat mengaplikasikan nilai-nilai Islam dalam perilaku online mereka, menjadikan mereka kontributor positif dalam masyarakat digital dan mewujudkan prinsip-prinsip syariah dalam kehidupan seharihari. KESIMPULAN Literasi digital perspektif pendidikan Islam dinilai strategis untuk membangun karakter generasi digital sesuai nilai-nilai Islam demi kemaslahatan dunia dan akhirat. Strategi literasi digital berbasis Al-QurAoan yang diinternalisasikan dalam komponen pendidikan seperti pendidik dan peserta didik, media pembelajaran dan kurikulum pendidikan dapat dijadikan sebagai sarana edukasi dalam menguatkan mentalitas dan cara bersikap generasi digital di era disrupsi teknologi. DAFTAR PUSTAKA