Jurnal Pendidikan. Bahasa dan Budaya Volume. Nomor. Tahun 2025 e-ISSN : 2962-1143. dan p-ISSN : 2962-0864. Hal. DOI: https://doi. org/10. 55606/jpbb. Available online at: https://journal. id/index. php/jpbb Peningkatan Keterampilan Berbicara Melalui Metode Show and Tell dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas IV SD Negeri 204/IV Kota Jambi Annisa Ilma Fitri1*. Ilyas Idris2 Universitas Islam Negeri Sulthan ThahaSaifuddin Jambi. Indonesia Alamat: Jalan Lintas Jambi-Muaro Bulian Km. 16 Simpang Sungai Duren Kab. Muaro Jambi Korespondensi penulis: anisailmafitri@gmail. Abstrak : This research aims to improve speaking skills through the show and tell method of grade IV students of SD Negeri 204/IV Jambi City. This research is a type of Classroom Action Research (PTK). The subject of the study was grade IV students of SD Negeri 204/IV Jambi City which amounted to 31 students. The data collection methods used are observation, tests, and documentation. The data analysis techniques used in this study are qualitative descriptive and quantitative descriptive. The learning action in cycle I did not experience obstacles in linguistic aspects such as vocabulary/expressions or diction. And non-linguistic aspects that include courage and attitude. Actions in cycle II have increased both in linguistic and non-linguistic aspects. The linguistic aspect includes speech, vocabulary/diction, and sentence determination. Non-linguistic aspects include fluency, mastery of material, courage and attitude. The improvement is shown by an increase in the value of students' speaking skills. The increase that occurred was the average score of student pre-action of 63. with a percentage of 19% completion, the average score in the first cycle of students was 70. 3 with a percentage of completeness of 55%, the percentage of speaking skills action through the show and tell method was 57%, the average evaluation in cycle II was 78. 8 with a percentage of 90% completeness. And this can also be seen from the percentage of speaking skills actions through the show and tell method, which is 80%. Keywords: speaking, skills, show, tell, methode Abstrak : Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan berbicara melalui metode show and tell siswa kelas IV SD Negeri 204/IV Kota Jambi. Penelitian ini merupakan jenis Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Subjek penelitian adalah siswa kelas IV SD Negeri 204/IV Kota Jambi yang berjumlah 31 siswa. Metode pengumpulan data yang digunakan yaitu observasi, tes, dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan pada penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dan deskriptif kuantitatif. Tindakan pembelajaran pada siklus I tidak mengalami kendala dalam aspek kebahasaan seperti kosa kata/ungkapan atau diksi. Dan aspek non kebahasaan yang meliputi keberanian dan sikap. Tindakan pada siklus II mengalami peningkatan baik dalam aspek kebahasaan dan aspek non kebahasaan. Aspek kebahasaan meliputi ucapan, kosa kata/diksi dan ketepatan Aspek non kebahasaan meliputi kelancaran, penguasaan materi, keberanian dan sikap. Peningkatan ditunjukkan dengan peningkatan nilai keterampilan berbicara siswa. Peningkatan yang terjadi yaitu, rata-rata nilai pratindakan siswa sebesar 63,9 dengan persentase ketuntasan 19%, rata-rata nilai pada siklus I siswa sebesar 70,3 dengan persentase ketuntasan 55% persentase tindakan keterampilan berbicara melalui metode show and tell yaitu 57%, rata-rata evaluasi pada siklus II sebesar 78,8 dengan persentase ketuntasan 90%. Dan hal ini juga dapat dilihat dari persentase tindakan keterampilan berbicara melalui metode show and tell yaitu 80%. Kata kunci: keterampilan, berbicara, metode, show, tell LATAR BELAKANG Pembelajaran bahasa Indonesia di SD diharapkan dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam berkomunikasi secara lisan maupun tertulis (Mulawarman, 2. Untuk meningkatkan kemampuan berkomunikasi pada siswa maka diharapkan guru dapat menyampaikan materi pembelajaran yang berkaitan dengan kemampuan yang menantang sehingga dapat mengaktifkan rasa ingin tahu, maupun mental siswa terhadap pembelajaran yang dipelajari. Received Januari 08, 2025. Revised Januari 26, 2025. Accepted Februari 20, 2025. Online Available . Februari 22, 2025 Peningkatan Keterampilan Berbicara Melalui Metode Show and Tell dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas IV SD Negeri 204/IV Kota Jambi Bahasa secara umum dapat didefinisikan sebagai simbol. Adapun pengertian bahasa menurut istilah yaitu alat komunikasi yang berupa simbol yang digunakan untuk menyampaikan ide melalui alat ucap pada manusia. Bahasa yaitu suatu simbol untuk menyampaikan apa yang dirasakan, dipikirkan dan diketahui seseorang kepada orang lain. Jadi, bahasa adalah kata-kata yang disampaikan oleh orang lain yang dapat memungkinkan seseorang untuk berkomunikasi ataupun berinteraksi dengan satu sama Peserta didik harus memiliki keterampilan berbahasa guna Ketika berkomunikasi dengan seseorang dapat mudah dipahami makna dari apa yang diucapkan. Keterampilan berbahasa umumnya ada 4 komponen yaitu menyimak, berbicara, membaca dan menulis. Empat komponen keterampilan berbahasa tersebut saling terkait satu sama Keterampilan berbicara merupakan salah satu keterampilan yang dibutuhkan peserta didik dalam berkomunikasi. (Ahmad Rofiqul Umam 2. Keterampilan berbicara penting digunakan untuk berkomunikasi dengan orang lain. Keterampilan berbicara yang baik dan benar akan diterima baik juga oleh penyimak, begitupun sebaliknya jika keterampilan berbicara yang dimiliki kurang baik maka pesan yang disampaikan juga susah dimengerti oleh penyimak. Berbicara merupakan suatu keterampilan yang diucapkan seseorang dengan kata-kata untuk menyampaikan informasi maupun pendapat dan pikiran kepada seseorang baik secara lisan maupun dengan jarak (Raenaldi 2. Keterampilan merupakan kemampuan atau keahlian yang dimiliki seseorang dalam melakukan suatu Tindakan atau aktivitas dengan baik dan efektif. Kemampuan berbicara dilatih dengan tujuan untuk memudahkan memahami maksud dari tujuan yang ingin disampaikan orang lain dalam berkomunikasi. (Hikmah. Hasan, and Halik 2. Berdasarkan pengamatan selama observasi di SD Negeri 204/IV Kota Jambi dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia kemampuan siswa dalam aspek berbicara masih kurang. Kebanyakan siswa masih ragu-ragu dan malu saat mengungkapkan gagasan atau ide Keberanian dalam berbicara siswa masih kurang. Banyak juga siswa yang kurang percaya diri dalam mengungkapkan pendapat. Selain itu, kesulitan siswa dalam merangkai kata dalam berbicara juga menjadi penyebab siswa menjadi terkendala dalam Selain itu, kesulitan siswa dalam merangkai kata dalam berbicara juga menjadi penyebab siswa menjadi terkendala dalam berpendapat. Pada saat kegiatan praktik tersebut guru kelas juga mengungkapkan bahwa praktik kegiatan berbicara siswa masih memiliki kesulitan di setiap individu siswa. JPBB - VOLUME. NOMOR. TAHUN 2025 e-ISSN : 2962-1143. dan p-ISSN : 2962-0864. Hal. Metode pembelajaran yang digunakan biasanya menggunakan metode ceramah, diskusi dan kerja kelompok sehingga siswa kurang dapat mengembangkan keterampilan berbicara, dikarenakan pada metode tersebut lebih fokus pada penyampaian informasi daripada mengembangkan keterampilan berbicara, dan juga siswa dapat bergantung pada kelompok lain untuk berbicara sehingga tidak dapat mengembangkan keterampilan berbicara secara individu. Guru sebaiknya memberikan kesempatan pada setiap siswa untuk mengungkapkan pikiran, gagasan, serta pendapat yang dimiliki siswa dalam kegiatan belajar mengajar Kesempatan yang diberikan guru terhadap siswa juga harus diperhatikan agar setiap siswa memiliki kesempatan berbicara secara sama di kelas. Kesempatan berbicara siswa tidak hanya diberikan di dalam kelas namun bisa juga diluar kelas guna meningkatkan kemampuan berbicara siswa dalam berkomunikasi. Hal tersebut membuat keterampilan berbicara siswa masih rendah. Metode pembelajaran yang digunakan selama penulis observasi belum menggunakan metode yang beragam. Seperti contohnya metode Show and Tell ini pun belum Dalam hal ini jika penerapan metode Show and Tell digunakan dalam pembelajaran akan memiliki manfaat penting bagi kehidupan siswa. Dengan menerapkan metode Show and Tell ini diharapkan kemampuan berbicara anak akan terstimulasi dan perkembangan kosakata anak dapat meningkat. Berdasarkan masalah yang dipaparkan di atas, salah satu cara untuk meningkatkan keterampilan berbicara siswa dalam pembelajaran Bahasa Indonesia yaitu dengan menggunakan metode Show and Tell. Dalam hal ini penerapan metode Show and Tell pada pelajaran Bahasa Indonesia dapat membantu siswa dalam mengembangkan kemampuan berkomunikasi di kehidupan bermasyarakat nantinya. Berdasarkan latar belakang masalah diatas, penulis tertarik untuk melakukan penelitian Tindakan kelas di SD Negeri 204/IV Kota Jambi kelas IV melalui metode Show and Tell untuk meningkatkan keterampilan berbicara siswa. KAJIAN TEORI Keterampilan Berbicara Berbicara adalah kemampuan seseorang dalam mengucapkan bunyi untuk menyampaikan, gagasan serta perasaan. Berbicara yaitu menyampaikan ide dan gagasan yang dilakukan secara langsung (Ariska and Suyadi 2. Berbicara pada hakikatnya adalah suatu proses komunikasi dimana didalamnya terjadi sebuah pemindahan pesan Peningkatan Keterampilan Berbicara Melalui Metode Show and Tell dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas IV SD Negeri 204/IV Kota Jambi antara pembicara dengan pendengar. Keterampilan berbicara merupakan suatu alat untuk mengkomunikasikan gagasan atau pikiran yang disusun serta dikembangkan sesuai dengan kebutuhan pendengar dan penyimak. (Utami and Malang 2. keterampilan berbicara merupakan keterampilan yang dimiliki seseorang yang digunakan untuk menyampaikan pesan, pikiran, gagasan ataupun perasaan yang disampaikan kepada orang lain dalam bentuk ucapan untuk mencapai tujuan tertentu. tujuan berbicara adalah untuk berkomunikasi agar dapat menyampaikan ide, pikiran, gagasan, perasaan dan kemauan secara efektif. Bentuk-bentuk kegiatan berbicara yang dapat dilatih untuk mengembangkan keterampilan berbicara siswa adalah sebagai berikut: . Berbicara berdasarkan gambar Dalam kegiatan ini siswa diberikan gambar untuk merangsang siswa berbicara dimana dilakukan dengan menyusun gambar-gambar yang saling berkaitan untuk membentuk sebuah berita. Bercerita Kegiatan bercerita merupakan kegiatan yang dilakukan seseorang dengan bersifat pragmatis artinya seseorang tersebut berpikir praktis saat bercerita tanpa melalui proses yang lama untuk bercerita. Rangsangan yang dapat dijadikan untuk tugas bercerita dapat berupa cerita berdasarkan buku yang dibaca, berbagi cerita, maupun menceritakan pengalaman. Wawancara Wawancara dilakukan terhadap seorang siswa yang mempunyai keterampilan berbahasanya cukup baik supaya dapat memungkinkan untuk mengungkapkan pikiran dan perasaannya. Berdiskusi Dalam kegiatan berdiskusi siswa dilatih untuk mengungkapkan gagasan, menanggapi gagasan, dan mempertahankan gagasan secara logis dan dapat dipertanggungjawabkan. Berpidato Berpidato hampir sama dengan kegiatan bercerita yaitu dalam mengungkapkan suatu gagasan. Tujuan berpidato dilakukan kepada siswa yaitu untuk melatih siswa dalam mengungkapkan gagasan berbahasa dengan baik. Aspek penilaian dalam keterampilan berbicara secara umum dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu aspek kebahasaan dan aspek nonkebahasaan. Aspek kebahasaan meliputi tekanan, ucapan, nada dan irama, kosa kata/ungkapan dan struktur kalimat yang Sedangkan aspek nonkebahasaan meliputi kelancaran, pengungkapan, pengungkapan materi, keberanian, keramahan, ketertiban, semangat, sikap dan perhatian. Penilaian dalam keterampilan berbicara dilakukan dengan pengamatan . terhadap siswa yang meliputi beberapa aspek pengamatan. Aspek pengamatan dalam keterampilan pembicaraan, kejelasan bahasa yang digunakan, kebakuan bahasa yang digunakan, penalaran dalam berbicara, kemampuan mengemukakan ide baru. JPBB - VOLUME. NOMOR. TAHUN 2025 e-ISSN : 2962-1143. dan p-ISSN : 2962-0864. Hal. kemampuan menarik kesimpulan, kesopanan dan saling menghargai, keterkendalian dalam proses berbicara, ketertiban berbicara, kehangatan dan kegairahan serta pengendalian emosi dalam berbicara. Metode Show and Tell Show and tell yaitu kegiatan yang dilakukan dengan menunjukkan sesuatu atau benda kepada orang lain dengan menjelaskan ataupun mendeskripsikan sesuatu tersebut. Benda yang ditunjukkan dapat berupa benda nyata atau benda tiruan. Setelah menunjukkan benda tersebut kemudian menceritakan hal-hal apa saja yang terkait dengan benda. Hal-hal yang terkait yaitu dengan menceritakan nama, jenis, kegunaan, serta pengetahuan lain dengan benda tersebut yang diketahui. Show and Tell adalah suatu kegiatan pembelajaran dengan menunjukkan benda dan menyatakan pendapat, mengungkapkan perasaan, keinginan maupun pengalaman terkait dengan benda tersebut. (Suarsih 2. Dapat disimpulkan bahwa Show and Tell merupakan suatu kegiatan bermain yang dilakukan oleh siswa dengan menunjukkan sesuatu benda kepada orang lain kemudian mendeskripsikan benda tersebut untuk menyatakan pendapat, mengungkapkan perasaan keinginan maupun pengalaman. Show and Tell memiliki banyak manfaat diantaranya yaitu manfaat dalam mengembangkan kemampuan berbicara, mendengarkan, menjawab pertanyaan, bertanya, kegiatan bercerita, dan menjelaskan sesuatu di depan kelas untuk menyatakan pendapat, mengungkapkan perasaan, keinginan dan juga pengalaman. Langkah-langkah dalam pelaksanaan metode Show and Tell yaitu: . Guru menjelaskan terlebih dahulu kepada siswa mengenai kegiatan pembelajaran yang akan dilakukan. Guru memberikan contoh kepada siswa mengenai kegiatan pembelajaran yang terkait dengan metode Show and Tell didepan kelas. Guru memanggil siswa untuk melakukan kegiatan Show and Tell. Siswa melakukan kegiatan Show and Tell didepan kelas. Guru mengamati siswa saat melakukan kegiatan Show and Tell dan menggunakan lembar Guru memberikan stimulasi kepada siswa yang kesulitan menyampaikan makna yaitu dengan memberikan pertanyaan. Setelah selesai melakukan kegiatan Show and Tell, masing-masing siswa akan diberi pertanyaan yang berbeda oleh guru. Peningkatan Keterampilan Berbicara Melalui Metode Show and Tell dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas IV SD Negeri 204/IV Kota Jambi Ada beberapa kelebihan Show and Tell yaitu sebagai berikut: a. Anak-anak akan terbiasa observasi terhadap benda-benda yang ada disekitarnya. Bentuk, sifat, sejarah keberadaan, warna, bau, dan fungsi benda akan selalu menjadi titik fokus anak setiap saat. Sikap observatif ini akan memicu sikap positif seperti, teliti, intensif . enaruh perhatian besar pada sesuat. , dan absorptif-reseptif . enerima informasi secara cepa. Anak-anak akan terbiasa dalam menyampaikan hasil pengamatannya melalui kata-kata yang tertata baik secara gramatikal, komunikatif,dan berasaskan fungsi-fungsi bahasa yang semakin lama semakin sempurna. Anak-anak akan terasah dalam hal keterampilan public-speaking. Adapun kekurangan Show and Tell yaitu: a. Pada saat menggunakan Show and Tell harus selalu ada pengawasan dan bimbingan dari guru, karena apabila anak mengalami kesulitan saat menggunakan Show and Tell guru dapat membantu anak dalam menceritakan suatu benda yang digunakan. Show and Tell tidak dapat dilakukan secara mendadak karena diperlukan kesiapan alat atau benda dan pengalaman yang akan diceritakan. Waktu yang dilakukan untuk menggunakan Show and Tell terbatas, dikarenakan Show and Tell dilakukan secara bergiliran agar anak dapat tampil semua, seharusnya Show and Tell ini dilakukan dengan waktu yang cukup banyak supaya tujuan yang dihasilkan lebih efektif. (Hikmah et al. Landasan Teori Belajar dalam Metode Show and Tell Teori belajar Kognitivisme Teori belajar kognitif lebih menekankan pada belajar merupakan suatu proses yang terjadi dalam akal pikiran manusia. Pada dasarnya belajar adalah suatu proses usaha yang melibatkan aktivitas mental yang terjadi dalam diri manusia sebagai akibat dari proses interaksi aktif dengan lingkungannya untuk memperoleh suatu perubahan dalam bentuk pengetahuan, pemahaman, tingkah laku, keterampilan dan nilai sikap yang bersifat relatif dan Menurut Piaget, bahwa belajar akan lebih berhasil apabila disesuaikan dengan tahap perkembangan kognitif peserta didik Peserta didik hendaknya diberi kesempatan untuk melakukan eksperimen dengan objek fisik, yang ditunjang oleh interaksi dengan teman sebaya dan dibantu oleh pertanyaan tilikan dari guru. Guru hendaknya banyak memberikan rangsangan kepada peserta didik agar mau berinteraksi dengan lingkungan secara aktif, mencari dan menemukan berbagai hal dari lingkungan. JPBB - VOLUME. NOMOR. TAHUN 2025 e-ISSN : 2962-1143. dan p-ISSN : 2962-0864. Hal. Secara umum semakin tinggi tingkat kognitif seseorang maka semakin teratur dan juga semakin abstrak cara berpikirnya. Karena itu guru seharusnya memahami tahap-tahap perkembangan kognitif anak didiknya, serta memberikan isi, metode, media pembelajaran yang sesuai dengan tahap-tahap tersebut. Implikasi teori perkembangan kognitif Piaget dalam pembelajaran adalah: Bahasa dan cara berfikir anak berbeda dengan orang dewasa. Oleh karena itu guru mengajar dengan menggunakan bahasa yang sesuai dengan cara berfikir anak. Anak-anak akan belajar lebih baik apabila dapat menghadapi lingkungan dengan baik. Guru harus membantu anak agar dapat berinteraksi dengan lingkungan dengan sebaik-baiknya. Bahan yang harus dipelajari anak hendaknya dirasakan baru tetapi tidak asing. Berikan peluang agar anak belajar sesuai tahap perkembangannya. Teori Behaviorisme Teori Behaviorisme yang dikembangkan oleh Clark hull yang mana teori ini dalam versi Hull menyatakan bahwa stimulus mempengaruhi organisme dan menghasilkan Kerangka yang teori hull yaitu . organisme memiliki kebutuhan yang muncul dengan dorongan atau stimulator . Kebiasaan yang kuat meningkatkan aktivitas reason . lebih efektif reaksi respon. Dengan kerangka ini konsep yang ditekankan pada teori hull yaitu METODE PENELITIAN Jenis penelitian yang penulis lakukan yaitu Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian Tindakan Kelas adalah penelitian yang dilakukan oleh guru di dalam kelasnya sendiri melalui refleksi diri dengan tujuan memperbaiki mutu serta kualitas proses pembelajaran di kelas, sehingga hasil belajar siswa dapat ditingkatkan. Penelitian Tindakan yaitu penelitian yang sistematis apa saja yang dilaksanakan oleh guru, penyelenggara Pendidikan, konseling/penasihat Pendidikan, atau lainnya yang menaruh minat dan berkepentingan dalam proses atau lingkungan belajar mengajar dengan tujuan mengumpulkan informasi seputar cara kerja sekolah, cara mengajar guru, cara belajar siswa, dan yang terpenting mengubahnya. (Maulana 2. Peningkatan Keterampilan Berbicara Melalui Metode Show and Tell dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas IV SD Negeri 204/IV Kota Jambi Dapat disimpulkan bahwa penelitian Tindakan kelas merupakan penelitian yang dilakukan oleh guru untuk memecahkan masalah dengan siklus didalam kelas pada proses pembelajaran dengan tujuan untuk meningkatkan mutu pembelajaran. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan tiga teknik yaitu: . Observasi, merupakan teknik pengumpulan data dengan cara mengamati setiap kejadian yang sedang berlangsung dan mencatatnya dengan alat observasi tentang hal-hal yang akan diamati atau diteliti. Penelitian ini menggunakan dua lembar observasi yaitu lembar observasi guru dan lembar observasi siswa. Tes Teknik yang digunakan dalam penelitian ini berupa tes lisan untuk mengetahui kemampuan berbicara siswa. Penilaian keterampilan berbicara dalam penelitian ini didukung dengan pengamatan . terhadap siswa yang meliputi beberapa aspek pengamatan. Dokumentasi, merupakan catatan peristiwa yang sudah Dokumentasi bisa berbentuk tulisan, gambar, atau karya-karya monumental dari Penelitian ini menggunakan gambar foto dari siklus 1 menuju siklus selanjutnya yang digunakan untuk melengkapi hasil observasi. Teknik Analisis Data Analisis data pada penelitian Tindakan Kelas ini yaitu berupa deskriptif kualitatif dan deskriptif kuantitatif. Analisis deskriptif kualitatif dalam penelitian ini bersifat menggambarkan fakta-fakta yang sesuai dengan data yang diperoleh untuk mengetahui keterampilan berbicara yang diperoleh siswa secara kualitatif selama proses pembelajaran Analisis hasil pengamatan . Data yang telah diperoleh dari lembar observasi selanjutnya dilakukan analisis. Data observasi terhadap pembelajaran keterampilan berbicara yang dilakukan guru dipaparkan dengan menggunakan analisis deskriptif kualitatif. Sedangkan semua data skor yang diperoleh siswa pada setiap kegiatan pembelajaran menggunakan metode Show and Tell dijumlahkan sehingga diperoleh skor mentah (R), kemudian skor mentah tersebut dianalisis menggunakan persentase dengan rumus dan kriteria yaitu: JPBB - VOLUME. NOMOR. TAHUN 2025 e-ISSN : 2962-1143. dan p-ISSN : 2962-0864. Hal. NP = R y 100 ycIycA Keterangan: NP = Nilai persen yang dicari atau diharapkan R = Skor mentah yang diperoleh SM = Skor maksimum 100 = Bilangan tetap Berdasarkan rumus diatas yang dipaparkan oleh Suharsimi Arikunto sebagai berikut: Kriteria penilaian: 81-100% = baik sekali 61-80% = baik 41-60% = cukup 21-40% = kurang O 21% = kurang sekali Analisis hasil tes Analisis hasil tes dilakukan untuk mengukur keterampilan berbicara siswa dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia dengan metode Show and Tell. Hasil tes ini dianalisis secara Analisis hasil tes ini berfungsi untuk mengetahui ada tidaknya peningkatan keterampilan berbicara siswa menggunakan metode Show and Tell yang dilakukan dengan membandingkan hasil tes diakhir setiap siklus. Hasil yang digunakan dalam penelitian ini yaitu nilai akhir tes keterampilan berbicara Nilai akhir tes keterampilan berbicara hasilnya berupa skor, skor tersebut selanjutnya dikonversikan menjadi bentuk nilai, nilai diperoleh menggunakan rumus sebagai berikut. Peningkatan Keterampilan Berbicara Melalui Metode Show and Tell dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas IV SD Negeri 204/IV Kota Jambi S = R y 100 ycA Keterangan: S = nilai yang diharapkan . R = jumlah skor di item . kor yang didapat sisw. N = skor maksimal dari tes tersebut Analisis deskriptif kuantitatif dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan perhitungan rerata . hasil tes siswa Ketika Tindakan dilakukan. Perhitungan rerata tersebut dihitung menggunakan rumus mean sebagai berikut: N = OOycu ycA Keterangan: = rata-rata kelas AN= jumlah nilai siswa N= banyaknya siswa Jika persentase yang dihasilkan Ou75% dan mengalami kenaikan setiap siklusnya, maka dapat diambil kesimpulan bahwa metode Show and Tell dapat meningkatkan keterampilan berbicara siswa. Rumus yang digunakan dalam menghitung persentase kategori nilai siswa sebagai berikut: p = F y 100% Keterangan: p = angka persentase F = frekuensi yang sedang dicari persentasenya N = number of classes . umlah frekuens. Analisis hasil dokumentasi JPBB - VOLUME. NOMOR. TAHUN 2025 e-ISSN : 2962-1143. dan p-ISSN : 2962-0864. Hal. Data gambar foto dari siklus satu ke siklus berikutnya dipaparkan menggunakan analisis deskriptif kualitatif. Gambar foto berfungsi untuk melengkapi hasil observasi. HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini dilaksanakan dikelas IV SD Negeri 204/IV Kota Jambi. Penelitian ini dilaksanakan sebanyak 2 siklus dalam rentang waktu 4 minggu. Masing-masing siklus dilaksanakan sebanyak 4 kali pertemuan siklus 1 dilaksanakan pada hari kamis, 02 Januari 2025, senin 06 Januari 2025, kamis 09 Januari 2025, dan senin, 13 Januari 2025. Sedangkan siklus II dilaksanakan pada hari kamis, 16 Januari 2025, senin, 20 Januari 2025. Kamis 23 Januari 2025, dan kamis, 30 Januari 2025. Pengumpulan data penelitian dengan melaksanakan pembelajaran Bahasa Indonesia dengan menggunakan metode Show and Tell. Penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK), yang terdiri dari empat tahap yaitu: perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi. SIKLUS 1 Langkah awal yang dilakukan oleh peneliti sebelum melakukan penelitian Tindakan kelas yaitu mengamati pembelajaran keterampilan berbicara pelajaran Bahasa Indonesia siswa kelas IV SD Negeri 204/IV Kota Jambi. Berdasarkan hasil pengamatan serta wawancara dengan guru metode pembelajaran yang digunakan selama pembelajaran Bahasa Indonesia menggunakan metode ceramah dan diskusi. Rangkaian kegiatan pembelajaran yang dilakukan sebagai berikut. Pertama, guru membuka pelajaran dengan mengucap salam. Kedua, siswa bersama guru membaca doAoa BerdoAoa dipimpin oleh ketua kelas tersebut. Ketiga, guru mengabsen siswa dan menanyakan kepada teman dekatnya apabila ada siswa yang tidak masuk. Keempat, guru mengkondisikan siswa sebelum mulai pelajaran. Pengkondisian siswa dilakukan oleh guru dengan meminta kepada siswa agar duduk tenang di tempat masing-masing untuk memperhatikan penjelasan yang diberikan oleh guru. Kelima, siswa menyimak tujuan pembelajaran yang disampaikan oleh guru. Tujuan pembelajaran yang dipelajari adalah tentang teks nonfiksi. Keenam, siswa diberi penjelasan oleh guru tentang teks nonfiksi tentang suku bangsa yang ada di Indonesia. Ketujuh, siswa dibagi menjadi 6 . Setiap kelompok beranggotakan 5 siswa. Kedelapan, siswa diberi kesempatan untuk berdiskusi dengan kelompoknya masing-masing. Siswa berdiskusi untuk menemukan informasi Peningkatan Keterampilan Berbicara Melalui Metode Show and Tell dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas IV SD Negeri 204/IV Kota Jambi tentang suku bangsa yang ada di Indonesia, lalu menentukan pokok pikiran dari teks bacaan tersebut. Kesembilan, siswa dibimbing oleh guru untuk melakukan presentasi hasil Siswa secara bergantian menyampaikan hasil diskusi kelompoknya. Kelompok lain diberikan kesempatan untuk bertanya maupun memberikan tanggapan jika ada pernyataan yang tidak sesuai. Kesepuluh, siswa bersama guru membuat kesimpulan materi yang telah dipelajari. Kesimpulan yang didapat yaitu kita semua harus saling menghormati semua suku bangsa yang ada di Indonesia. Kesebelas, siswa bersama guru melakukan refleksi pembelajaran. Refleksi dilakukan agar siswa mengetahui manfaat mengetahui suku bangsa yang ada di Indonesia. Manfaat mengetahui hal tersebut yaitu siswa menjadi lebih mengenal dan menghargai keragaman yang ada di Indonesia. Keduabelas, guru mengkondisikan siswa sebelum mengakhiri pelajaran. Kegiatan terakhir, guru menutup pelajaran dengan berdoAoa lalu dilanjutkan dengan mengucapkan salam. Berdasarkan observasi selama siswa melakukan diskusi Ketika pelajaran, keterampilan berbicara siswa secara umum diperoleh sebesar 45%. Hasil observasi terhadap siswa yang tersaji pada lampiran menunjukkan bahwa jumlah skor total. (R) hasil observasi terhadap kegiatan siswa adalah 22 dari skor maksimal (SM) 48. Jadi, jumlah nilai persen (NP) keterampilan berbicara yang diperoleh yaitu 45%. Data awal diperoleh dari hasil pratindakan sebelum proses pembelajara menggunakan metode show and tell dilakukan. Siswa kelas IV SD Negeri 204/IV Kota Jambi terdiri dari 31 siswa yang terdiri dari 17 siswa laki-laki dan 14 siswa perempuan. Jumlah siswa yang mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) sebanyak 6 siswa, dan yang belum mencapai KKM sebanyak 25 siswa. Nilai rata-rata yang diperoleh hanya mencapai 63,9. Data awal hasil nilai siswa dalam pratindakan ini tidak menggunakan skor. Nilai yang didapat berdasarkan hasil penilaian langsung yang diambil oleh guru kelas. Nilai rata-rata sebesar 63,9 dimana nilai tersebut belum mencapai KKM yang Kriteria Ketuntasan Minimal yang ditetapkan sebesar 70,0. Persentase keberhasilan siswa yang mencapai KKM baru mencapai 19% dari target pencapaian sebesar 75%. Jadi, masih tersisa 56% target yang belum mencapai KKM. Tindakan siklus I disusun sebanyak 4 kali pertemuan yang terbagi ke dalam 8 jam Setiap satu pertemuan terdiri dari 2 jam yang berlangsung selama 70 menit . y35 meni. Pada setiap pertemuan terdiri dari tiga tahap pembelajaran yaitu kegiatan awal . , kegiatan inti, dan kegiatan akhir . Alokasi waktu kegiatan JPBB - VOLUME. NOMOR. TAHUN 2025 e-ISSN : 2962-1143. dan p-ISSN : 2962-0864. Hal. kegiatan awal . A5 menit, kegiatan inti A50 menit, kegiatan akhir . A5 menit. Gambar 1. Diagram Penelitian Siklus 1 Jumlah siswa yang mencapai KKM pada pratindakan sebanyak 6 siswa, sedangkan siswa yang mencapai KKM pada siklus I sebanyak 17 siswa. Hal ini berarti jumlah siswa yang mencapai KKM mengalami peningkatan sebesar 11 siswa. Berikut ini merupakan tiga contoh hasil nilai siswa dalam keterampilan berbicara yang mengalami peningkatan dari pratindakan ke siklus I. Tabel 1. Hasil Pratindakan Nama Nilai Pratindakan Siklus I Peningkatan CNA GAU UNA Peningkatan Keterampilan Berbicara Melalui Metode Show and Tell dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas IV SD Negeri 204/IV Kota Jambi Tabel 2. Hasil Siklus I Aspek Pratindakan Peningkatan Jumlah yang mencapai KKM Jumlah mencapai KKM Rata-rata Presentase Berdasarkan tabel di atas diketahui bahwa perhitungan hasil nilai keterampilan berbicara siswa menggunakan metode show and tell pada siklus I yang diikuti oleh 31 siswa, diketahui bahwa nilai rata-rata kelas yaitu 70,3. Pada siklus I sebanyak 17 siswa sudah mencapai nilai 70 atau lebih, dan 14 siswa belum mencapai nilai 70. Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa hasil evaluasi keterampilan berbicara siswa belum mencapai kriteria keberhasilan yang telah ditetapkan di awal. Hasil ketuntasan KKM baru mencapai 55% yaitu sebanyak 17 sisa yang sudah mencapai KKM, sedangkan sejumlah 14 siswa belum mencapaI KKM. Angka yang diharapkan untuk memenuhi kriteria keberhasilan Tindakan adalah 75% dari jumlah siswa adalah mencapai batas ketuntasan minimal yang sudah ditentukan. Tabel 3. Nilai aspek keterampilan berbicara pada siklus I Nama Aspek yang dinilai Kebahasaan Non kebahasaan Ucapan Kosa kata/diksi Kete Kelan Pengua Sko Nilai ARR CAN DAS DAF JPBB - VOLUME. NOMOR. TAHUN 2025 e-ISSN : 2962-1143. dan p-ISSN : 2962-0864. Hal. DDA GMK GAU MAS MRA MRN MWF MZP MAP MAA NSS NBQ SAI UNA Jumlah Rata-rata Rata-rata kelas Jumlah Siswa yang Mencapai KKM Jumlah Siswa yang Belum Mencapai KKM Persentase Siswa yang Mencapai KK Nilai pratindakan pada siklus I sudah meningkat, namun rata-rata kelas sebesar 70,3 dengan persentase ketuntasan KKM siswa di kelas 55%, angka tersebut belum memenuhi Oleh karena itu, perlu diadakan Tindakan lanjutan pada siklus II. Peningkatan Keterampilan Berbicara Melalui Metode Show and Tell dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas IV SD Negeri 204/IV Kota Jambi SIKLUS II rata-rata nilai pengamatan keterampilan berbicara siswa pada siklus II juga meningkat dibandingkan dengan pratindakan dan siklus I. Rata-rata nilai pratindakan sebesar 63,9, siklus I rata-rata nilai mencapai 70,3 dan siklus II mencapai 78,8. Hal tersebut berarti ratarata nilai siklus II mengalami kenaikan sebesar 14,9 dari pratindakan dan 8,5 dari siklus I. Jumlah siswa yang mencapai KKM pada pratindakan sebanyak 6 siswa, pada siklus I sebanyak 17 siswa, dan pada siklus II sebanyak 28 siswa. Hal ini berarti jumlah siswa yang mencapai KKM pada siklus II meningkat sebesar 22 siswa dari pratindakan, dan 11 siswa dari siklus I. Gambar 2. Diagram Penelitian Siklus II Berikut ini merupakan tiga contoh nilai keterampilan berbicara siswa yang mengalami peningkatan dari siklus I ke siklus II. Tabel 4. Contoh Nilai Keterampilan Berbicara Siswa Nama Nilai Siklus I Siklus II Peningkatan CNA GAU UNA JPBB - VOLUME. NOMOR. TAHUN 2025 e-ISSN : 2962-1143. dan p-ISSN : 2962-0864. Hal. Tabel 5. Hasil Peningkatan Nilai Keterampilan Berbicara Siswa Aspek S-I S-II Peningkatan Jumlah siswa yang mencapai KKM Jumlah siswa yang belum mencapai KKM Rata-rata Persentase ketuntasan Berdasarkan tabel tersebut diketahui bahwa perhitungan hasil nilai keterampilan berbicara siswa yang diikuti oleh 31 siswa. Hasil pada siklus I sebanyak 17 siswa telah mencapai KKM, sementara 14 siswa belum mencapai KKM, dengan nilai rata-rata kelas yang dicapai adalah 70,3, dan persentase ketuntasan siswa tercapai 55%. Siklus II mengalami peningkatan sebanyak 28 siswa sudah mencapai KKM, sementara 3 siswa belum mencapai KKM, dengan nilai rata-rata kelas yang dicapai adalah 78,8 dan persentase ketuntasan kelas mencapai 90%. Dari data tersebut disimpulkan bahwa peningkatan siklus I ke siklus II dengan jumlah siswa yang mencapai KKM sebanyak 11 siswa, rata-rata nilai kelas naik sebesar 8,5, dan persentase ketuntasan kelas naik 35%. Angka persentase yang diharapkan untuk memenuhi kriteria ketuntasan adalah sama dengan atau lebih besar 75% dari jumlah siswa telah mencapai batas ketuntasan. Target yang telah ditentukan itu sudah tercapai dengan persentase ketuntasan kelas mencapai 90%. Karena target kriteria ketuntasan tersebut sudah tercapai maka penelitian berhenti pada siklus II ini. Tabel 6. Nilai Aspek Keterampilan Berbicara pada Siklus II Aspek yang dinilai Kebahasaan Skor Nilai Non Kebahasaan Ucapa Kosak ata/dik Keteta Kelanc Pengu Materi Keber Sikap Nama Adrian Akbar Aldriansyah Ariski Peningkatan Keterampilan Berbicara Melalui Metode Show and Tell dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas IV SD Negeri 204/IV Kota Jambi Arrazak Besse Assyfa Clara Navira Azahra Dafa Aliando Susanto Diah Ayu Fitaloka Dina Alifa Dinda Dwi Ayuni Fadel Muhammad Galih Miftakul Khoir Gilang Ayyasy Umran Arkan Syarif Rayyan Azzaami Rizki Nursan Wildan Faturahman Zaidan Pratama Mirza Febrian Aditya Pratama Alfatih Arya Al Amar Naqila Syafira Suni Nadhila Pramudita JPBB - VOLUME. NOMOR. TAHUN 2025 e-ISSN : 2962-1143. dan p-ISSN : 2962-0864. Hal. Nayla Balqis Qhoiruni Nona Marina Qisya Almeera Saerani Fortuna Saskia Amelia Siti Aisah Ufaira Nur Afifa Jumlah Rata-rata Rata-rata kelas Jumlah Siswa yang Mencapai KKM Jumlah Siswa yang Belum Mencapai KKM Persentase Siswa yang Mencapai KKM KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran Bahasa Indonesia melalui metode show and tell dapat meningkatkan keterampilan berbicara siswa kelas IV SD Negeri 204/IV Kota Jambi. Tindakan pada siklus I sudah mengalami peningkatan baik aspek kebahasaan dan aspek non kebahasaan. Berdasarkan hasil tes pengamatan keterampilan berbicara, siswa tidak mengalami kendala dalam aspek kebahasaan seperti kosa kata/ungkapan atau diksi. Dan aspek non kebahasaan yang meliputi keberanian dan sikap. Tindakan pada siklus II mengalami peningkatan dari siklus I. Hal ini Peningkatan Keterampilan Berbicara Melalui Metode Show and Tell dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas IV SD Negeri 204/IV Kota Jambi ditunjukkan dengan meningkatnya keterampilan berbicara siswa baik dalam aspek kebahasaan dan aspek non kebahasaan. Aspek kebahasaan meliputi ucapan, kosa kata/diksi dan ketepatan Aspek non kebahasaan meliputi kelancaran, penguasaan materi, keberanian dan sikap. Peningkatan tersebut ditunjukkan dengan nilai rata-rata kelas yang diperoleh. Pada saat sebelum dilaksanakan tindakan, nilai rata-rata kelas diperoleh 63,9. Setelah dilaksanakan tindakan pada siklus I nilai rata-rata kelas meningkat menjadi 70,3. Dan pada siklus II nilai rata-rata kelas semakin meningkat menjadi 78,8. Selain dari nilai rata-rata kelas yang meningkat, pencapaian nilai KKM juga mengalami peningkatan. Hal ini dapat kita lihat pada pratindakan pencapaian nilai KKM sebesar 19%, setelah diberikan tindakan pada siklus I pencapaian nilai KKM sebesar 55%. Dan pada siklus II pencapaian nilai KKM yang diperoleh semakin meningkat sebesar 90%. Jumlah persentase keterampilan berbicara siswa melalui metode show and tell juga mengalami peningkatan, pada saat diberikan tindakan pada siklus I sebesar 57%. Pada siklus II persentase keterampilan berbicara melalui metode show and tell semakin meningkat yaitu 80%. Hal ini dapat diartikan bahwa keterampilan berbicara siswa semakin meningkat dengan menggunakan metode show and tell. Saran Berdasarkan kesimpulan dan hasil penelitian di atas, maka peneliti memberikan saransaran sebagai berikut: 1. Metode pembelajaran show and tell ini dapat digunakan untuk meningkatkan keterampilan berbicara siswa, namun sebaiknya metode ini tidak hanya digunakan pada pembelajaran Bahasa Indonesia saja namun juga pada mata pelajaran lain. Sehingga siswa akan terbiasa berbicara di depan umum. Dalam melaksanakan pembelajaran, peneliti harus dapat menyesuaikan materi yang ada dengan metode show and tell. Sebaiknya peneliti memanfaatkan alat peraga atau media pembelajaran yang ada di sekitar siswa atau yang mudah didapat, sehingga tidak menyulitkan siswa dalam pembelajaran. REFERENSI