Jurnal Studi Tindakan Edukatif Volume 1. Number 2, 2025 Open Access: https://ojs. id/jste/ Penerapan Metode Role Play untuk Meningkatkan Pemahaman Siswa tentang Etika Berinteraksi dalam Islam pada Siswa Kelas V MIS Al Ifadah Nurlaela Fitria1. Nurul Aini 2. Lina Marni3 1 MIS Al Ifadah, 2 MIS Sunan Ampel Probolinggo, 3 MIS Al Ma'Arif Gunung Pasir Correspondence: 26nurlaelafitria@gmail. Article Info Article history: Received 02 Jan 2025 Revised 20 Feb 2025 Accepted 31 Mar 2025 Keyword: Role Play. Islamic Etiquette. Classroom Action Research. Interaction Skills. Student Engagement ABSTRACT This classroom action research aims to enhance fifth-grade students' understanding of Islamic etiquette in interactions . tika berinteraksi dalam Isla. through the role-play method. The study was conducted at MIS Al Ifadah, involving 17 students. The research was implemented in two cycles, each consisting of planning, action, observation, and reflection. Initially, students showed limited understanding of Islamic etiquette in daily The role-play method, where students actively act out scenarios involving Islamic manners such as greeting, respecting elders, and polite speech, was introduced to engage them in practical learning. After implementing role play in the second cycle, students demonstrated significant improvement in both understanding and applying Islamic They were able to describe and practice proper behaviors in various social situations, including school and home contexts. The study concluded that the role-play method effectively increases students' awareness and practical application of Islamic interaction etiquette, making abstract religious concepts more tangible and applicable in real-life This approach also improved studentsAo communication skills, teamwork, and empathy, as they experienced the importance of manners A 2025 The Authors. Published by PT SYABAN MANDIRI BERKARYA. This is an open access article under the CC BY NC license . ttps://creativecommons. org/licenses/by/4. INTRODUCTION Pendidikan agama Islam di sekolah memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk karakter dan perilaku siswa. Salah satu materi yang sangat penting dalam Pendidikan Agama Islam adalah etika berinteraksi dalam Islam. Etika berinteraksi mencakup cara bersikap, berbicara, dan bertindak dalam berbagai situasi sosial sesuai dengan tuntunan Islam. Materi ini bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai adab dan akhlak yang baik pada siswa, yang sangat diperlukan dalam kehidupan sosial sehari-hari (Syaiful, 2. Oleh karena itu, penting bagi siswa untuk memahami etika berinteraksi sejak dini. Namun, berdasarkan hasil observasi di kelas V MIS Al Ifadah, ditemukan bahwa pemahaman siswa mengenai etika berinteraksi dalam Islam masih terbatas. Sebagian besar siswa hanya tahu beberapa aturan dasar, seperti salam dan tata krama berbicara, tanpa mengetahui lebih dalam tentang bagaimana hal-hal tersebut seharusnya diterapkan dalam berbagai konteks sosial. Misalnya, siswa masih sering berbicara tanpa memperhatikan adab, seperti tidak menyapa guru atau teman dengan baik (Rahmawati. Masalah ini menunjukkan bahwa metode pembelajaran yang selama ini diterapkan belum sepenuhnya efektif dalam menanamkan pemahaman yang mendalam tentang etika berinteraksi. Sebagian besar metode yang digunakan bersifat ceramah dan hafalan, yang mungkin tidak cukup menggugah pemahaman siswa tentang pentingnya sikap dan perilaku baik dalam kehidupan sehari-hari. Siswa sering kali merasa materi agama hanya relevan untuk kegiatan ibadah, bukan untuk interaksi sosial mereka (Fitria, 2. Siswa di kelas V juga berada pada tahap perkembangan kognitif yang lebih kompleks, di mana mereka mulai membutuhkan pengalaman langsung untuk memahami konsep-konsep yang lebih mendalam. Nurlaela Fitria. Nurul Aini, etc . Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. 2 Maret 2025 Mereka lebih mudah menyerap pembelajaran yang melibatkan keterlibatan aktif, seperti bermain peran atau simulasi kehidupan nyata. Oleh karena itu, metode yang lebih interaktif dan aplikatif sangat dibutuhkan untuk meningkatkan pemahaman mereka tentang etika berinteraksi dalam Islam (Suyadi. Salah satu metode yang dapat digunakan untuk meningkatkan pemahaman siswa adalah metode role Role play memungkinkan siswa untuk berperan langsung dalam situasi-situasi yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari, seperti berbicara dengan sopan, meminta izin, atau menghormati orang Dengan berperan langsung dalam berbagai peran, siswa dapat lebih mudah memahami dan menghayati nilai-nilai etika berinteraksi dalam Islam (Syaiful, 2. Metode role play juga membantu siswa untuk melatih keterampilan sosial mereka. Dalam kegiatan ini, siswa tidak hanya memahami teori tentang etika berinteraksi, tetapi juga dapat mempraktikkan langsung bagaimana cara berinteraksi dengan baik sesuai dengan ajaran Islam. Melalui latihan ini, siswa akan lebih mampu mengaplikasikan etika berinteraksi dalam kehidupan sehari-hari mereka, baik di rumah, sekolah, maupun masyarakat (Suyanto, 2. Selain itu, metode role play juga membantu siswa mengembangkan empati dan kepekaan sosial. Ketika siswa berperan sebagai orang lain dalam sebuah situasi, mereka dapat merasakan apa yang dirasakan oleh orang tersebut. Hal ini dapat meningkatkan kesadaran mereka terhadap pentingnya sikap saling menghargai dan menghormati dalam interaksi sosial (Gardner, 2. Oleh karena itu, role play menjadi metode yang sangat relevan untuk mengajarkan etika berinteraksi dalam Islam. Metode role play juga memiliki kelebihan dalam hal keterlibatan siswa. Karena siswa berperan langsung dalam situasi yang ada, mereka menjadi lebih aktif dan bersemangat. Pembelajaran menjadi lebih menyenangkan, dan siswa tidak merasa terpaksa untuk menghafal materi secara teori. Keterlibatan yang tinggi ini akan membuat siswa lebih mudah mengingat dan memahami materi yang diajarkan (Yuliani, 2. Namun, meskipun metode role play memiliki banyak kelebihan, penerapannya dalam pembelajaran PAI di sekolah dasar masih terbilang jarang. Banyak guru yang belum familiar dengan metode ini atau merasa kesulitan dalam merancang kegiatan role play yang relevan dengan materi yang diajarkan. Padahal, metode ini memiliki potensi besar untuk meningkatkan pemahaman siswa terhadap konsepkonsep agama yang memerlukan penghayatan dan praktik langsung (Arsyad, 2. Dalam konteks Kurikulum Merdeka, yang menekankan pembelajaran berbasis aktivitas dan berpusat pada siswa, metode role play sangat sesuai untuk diterapkan. Pembelajaran yang berbasis pengalaman nyata ini memberikan ruang bagi siswa untuk menggali makna dari ajaran agama, termasuk dalam hal etika berinteraksi. Dengan demikian, penerapan metode role play dalam pembelajaran PAI dapat sejalan dengan filosofi Kurikulum Merdeka yang mendorong pembelajaran aktif dan kontekstual (Kemendikbud, 2. Penerapan metode role play dalam pembelajaran etika berinteraksi dalam Islam juga dapat membantu siswa untuk lebih memahami pentingnya etika dalam berbagai aspek kehidupan mereka. Siswa diajarkan untuk menghormati orang lain, berbicara dengan baik, dan menjaga adab dalam berinteraksi. Hal ini tidak hanya bermanfaat dalam konteks pendidikan agama, tetapi juga membentuk karakter siswa yang lebih baik dalam kehidupan sosial (Syaiful, 2. Berdasarkan latar belakang ini, penelitian ini bertujuan untuk menguji efektivitas penerapan metode role play dalam meningkatkan pemahaman siswa tentang etika berinteraksi dalam Islam pada kelas V MIS Al Ifadah. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan bukti empiris mengenai keberhasilan metode ini dalam membantu siswa memahami dan mengaplikasikan etika berinteraksi dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, penelitian ini juga bertujuan untuk mendeskripsikan bagaimana kegiatan role play dapat meningkatkan motivasi dan keterlibatan siswa dalam pembelajaran PAI (Fitria, 2. Penelitian ini juga akan melibatkan refleksi dan evaluasi dari siswa setelah mengikuti kegiatan role play untuk menilai perubahan sikap mereka terhadap etika berinteraksi. Dalam setiap siklus, siswa akan diminta untuk menggambarkan pengalamannya setelah berpartisipasi dalam kegiatan role play, serta memberikan umpan balik terhadap metode yang digunakan. Dengan demikian, penelitian ini tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan pemahaman akademik siswa, tetapi juga untuk memperbaiki sikap sosial dan spiritual mereka (Suyanto, 2. Melalui dua siklus penelitian, diharapkan dapat diperoleh data yang menunjukkan peningkatan yang signifikan dalam pemahaman dan pengamalan etika berinteraksi dalam Islam. Pembelajaran dengan Nurlaela Fitria. Nurul Aini, etc . Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. 2 Maret 2025 metode role play diharapkan tidak hanya membuat siswa lebih paham, tetapi juga lebih terlibat secara emosional dan sosial dalam setiap interaksi yang mereka lakukan. RESEARCH METHODS Penelitian ini menggunakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan model Kemmis dan McTaggart, yang terdiri dari empat tahap utama: perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus di kelas V MIS Al Ifadah, dengan jumlah subjek sebanyak 17 siswa. Pada setiap siklus, siswa diberikan kesempatan untuk berpartisipasi dalam kegiatan role play yang menggambarkan situasi sosial yang berkaitan dengan etika berinteraksi dalam Islam. Setiap siklus diakhiri dengan evaluasi untuk melihat peningkatan pemahaman siswa dan keterlibatan mereka dalam menerapkan etika berinteraksi dalam kehidupan sehari-hari. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan tes formatif. Observasi digunakan untuk menilai keterlibatan siswa selama kegiatan role play dan perubahan sikap mereka dalam Wawancara dilakukan untuk menggali persepsi siswa terhadap penerapan metode role Tes formatif berupa pretest dan posttest digunakan untuk mengukur peningkatan pemahaman siswa tentang etika berinteraksi dalam Islam sebelum dan setelah mengikuti kegiatan role play. Data yang terkumpul dianalisis secara deskriptif kualitatif dan kuantitatif untuk mengevaluasi dampak metode role play terhadap pemahaman dan pengamalan etika berinteraksi dalam Islam. RESULTS AND DISCUSSION Pelaksanaan siklus pertama menunjukkan adanya peningkatan minat siswa terhadap materi etika berinteraksi dalam Islam setelah menggunakan metode role play. Saat berperan dalam skenario yang melibatkan salam, berbicara sopan, dan menghormati orang tua, siswa terlihat lebih antusias dan Namun, hasil tes formatif menunjukkan bahwa 9 dari 17 siswa . %) masih kesulitan mengingat aturan-aturan mendetail dan hanya dapat menjelaskan secara umum mengenai etika Hal ini menunjukkan bahwa meskipun siswa aktif dalam kegiatan role play, pemahaman mereka belum maksimal (Fitria, 2. Pada siklus kedua, siswa diberikan kesempatan untuk berperan dalam lebih banyak skenario, termasuk situasi yang lebih kompleks, seperti berbicara dengan guru dan meminta maaf. Hal ini berkontribusi pada peningkatan pemahaman siswa. Tes formatif menunjukkan bahwa 15 dari 17 siswa . %) dapat menjelaskan etika berinteraksi dalam Islam dengan lebih baik dan mampu memberikan contoh nyata. Siswa lebih mampu mengaitkan nilai-nilai tersebut dengan kehidupan sehari-hari (Syaiful, 2. Pengamatan terhadap interaksi siswa selama kegiatan role play menunjukkan adanya peningkatan dalam perilaku sosial mereka. Siswa yang sebelumnya cenderung tidak menyapa atau berbicara dengan sopan kepada teman dan guru, mulai menunjukkan perilaku yang lebih sesuai dengan ajaran Islam. Mereka lebih sering mengucapkan salam dan berbicara dengan menggunakan bahasa yang lebih baik, yang menunjukkan perubahan positif dalam etika berinteraksi mereka (Suyanto, 2. Selain itu, diskusi kelompok yang dilakukan setelah kegiatan role play juga berkontribusi pada pemahaman siswa. Mereka diberikan kesempatan untuk mendiskusikan bagaimana mereka merasa saat berperan dalam situasi yang ada dan apa yang bisa dipelajari dari pengalaman tersebut. Diskusi ini memberikan ruang bagi siswa untuk saling berbagi pengalaman dan memperdalam pemahaman mereka tentang pentingnya etika berinteraksi (Gardner, 2. Hasil wawancara dengan beberapa siswa menunjukkan bahwa mereka merasa metode role play lebih menyenangkan dan lebih mudah dipahami dibandingkan metode pembelajaran lainnya. Salah seorang siswa mengatakan bahwa dia merasa lebih percaya diri setelah mempraktikkan cara berbicara dengan sopan dalam situasi yang dia alami setiap hari. Ini menunjukkan bahwa metode ini memberikan dampak langsung pada kepercayaan diri dan kemampuan sosial siswa (Syaiful, 2. Guru juga melaporkan bahwa metode role play membantu menciptakan suasana kelas yang lebih hidup dan aktif. Siswa yang biasanya pasif dan jarang bertanya, mulai lebih banyak bertanya dan mengungkapkan pendapat mereka. Guru merasa lebih mudah mengarahkan diskusi dan memberikan umpan balik yang lebih tepat, karena siswa sudah memahami konteks yang lebih jelas dari skenario yang dimainkan (Arsyad, 2. Peningkatan pemahaman siswa juga terlihat dari nilai rata-rata tes formatif yang meningkat dari 70 pada siklus pertama menjadi 85 pada siklus kedua. Meskipun masih ada beberapa siswa yang belum Nurlaela Fitria. Nurul Aini, etc . Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. 2 Maret 2025 sepenuhnya memahami konsep etika berinteraksi dalam Islam, hasil ini menunjukkan bahwa metode role play memberikan dampak positif terhadap pemahaman mereka (Yuliani, 2. Siswa juga menunjukkan peningkatan dalam sikap empati dan rasa hormat terhadap teman dan guru. Mereka lebih menghargai pendapat teman-teman mereka dalam diskusi dan memberikan ruang untuk Ini menunjukkan bahwa role play tidak hanya meningkatkan pemahaman tentang etika berinteraksi, tetapi juga membentuk karakter sosial yang positif pada siswa (Suyanto, 2. Walaupun metode role play terbukti efektif, beberapa siswa masih mengalami kesulitan dalam menghafal atau mengingat aturan-aturan yang lebih rumit dalam etika berinteraksi. Oleh karena itu, guru perlu memberikan penekanan lebih lanjut pada pengulangan dan aplikasi nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Keberlanjutan latihan role play dengan berbagai situasi yang lebih beragam dapat membantu siswa memperkuat pemahaman mereka (Fitria, 2. Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa metode role play sangat efektif dalam meningkatkan pemahaman siswa tentang etika berinteraksi dalam Islam. Pembelajaran yang melibatkan siswa secara aktif ini membuat mereka lebih mudah memahami dan mengaplikasikan nilai-nilai etika dalam kehidupan sosial mereka. Dengan menggabungkan metode ini dalam pembelajaran PAI, siswa tidak hanya mengerti teori, tetapi juga menghayati pentingnya etika berinteraksi dalam Islam. CONCLUSION Penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan metode role play efektif dalam meningkatkan pemahaman siswa tentang etika berinteraksi dalam Islam. Melalui metode ini, siswa tidak hanya memperoleh pengetahuan teori tentang etika berinteraksi, tetapi juga dapat mempraktikkannya secara langsung dalam kegiatan pembelajaran. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan pemahaman yang signifikan pada siswa dari siklus pertama ke siklus kedua, yang tercermin dari tes formatif yang lebih baik dan peningkatan sikap sosial siswa. Metode role play berhasil menciptakan suasana kelas yang lebih aktif dan menyenangkan, meningkatkan motivasi siswa untuk lebih terlibat dalam Siswa juga menunjukkan peningkatan dalam keterampilan sosial dan empati terhadap teman serta guru. Oleh karena itu, metode role play dapat menjadi alternatif yang efektif untuk meningkatkan pemahaman siswa terhadap etika berinteraksi dalam Islam. Untuk hasil yang lebih optimal, kegiatan role play perlu dilanjutkan dengan variasi skenario yang lebih beragam serta pengulangan untuk memperkuat pemahaman siswa terhadap etika yang diajarkan. Dengan demikian, metode ini dapat diimplementasikan lebih luas dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam di sekolah REFERENCES