STABILITAS LERENG TAMBANG TERBUKA MENGGUNAKAN METODE LIMIT EQUILIBRIUM DAN ANALISIS RISIKO UNTUK MENUNJANG PERENCANAAN INFRASTRUKTUR TAMBANG STABILITY OF OPEN MINE SLOPE USING THE LIMIT EQUILIBRIUM METHOD AND RISK ANALYSIS TO SUPPORT MINING INFRASTRUCTURE PLANNING Irianto1*. Mapuay Menasye Theo Afasedanya2 Magister Rekayasa Sipil. Universitas Yapis Papua. Jl. Dr. Sam Ratulangi No. 11 Dok. V atas. Indonesia Teknik Pertambangan Politeknik Amamapare Timika. Jl. C Heatubun. Kwamki Baru. Indonesia *Penulis korespondensi: irian. anto@gmail. AR TI C LE I N F O AB STRACT Article history: Received 1th July 2025 Received in revised from 7th August 2025 Accepted 12th September 2025 Available online November 2025 Keywords: Risk Analysis Limestone Mine Drainage Factor of Safety (FoS) Slope Stability Slope stability is a critical aspect in open-pit mining operations, particularly in limestone (C Group Minin. quarries that are widely developed in the Polimak area. Jayapura City. This study aims to evaluate slope stability under various slope geometries and hydrogeological conditions, as well as to establish a relevant risk map to support the design of safe and sustainable slopes. The methodology involved field surveys to collect slope geometry data and soil-rock samples, followed by laboratory testing to determine key geotechnical parameters . ohesion, internal friction angle, unit weight, and UCS). Slope stability analysis was performed using the Limit Equilibrium approach with Slide2 software, considering different combinations of slope heights . Ae20 . , angles . AAe65A), and drainage conditions . ry vs. The results indicate that increasing slope height and angle significantly reduces the Factor of Safety (FoS), while rising groundwater levels due to rainfall can further decrease FoS by up to 20%. For instance, a 20 m high slope at 65A under saturated conditions yielded an FoS of only 0. 73, far below the minimum safety threshold (FoS Ou1. Based on the risk matrix, such conditions fall into the high to extreme risk categories. This study recommends implementing multi-bench slopes with a maximum angle of 45A, complemented by proper drainage systems to maintain stability. The findings are expected to serve as practical guidance for managing limestone quarry operations in Polimak to ensure safe and efficient mining activities. AB STRAK Kata Kunci: Analisis risiko Batugamping Drainase tambang Faktor keamanan (FoS) Stabilitas lereng Stabilitas lereng merupakan aspek kritis dalam kegiatan tambang terbuka, terutama pada tambang batugamping (Golongan C) yang marak di wilayah Polimak. Kota Jayapura. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi stabilitas lereng berdasarkan variasi geometri lereng, kondisi hidrogeologi, serta menyusun peta risiko yang relevan guna mendukung perencanaan desain lereng yang aman dan Metode penelitian meliputi survei lapangan untuk AB STRAK memperoleh geometri lereng dan sampel tanah serta batuan, dilanjutkan dengan uji laboratorium untuk menentukan parameter geoteknik utama . ohesi, sudut geser dalam, berat jenis, dan UCS). Analisis stabilitas dilakukan menggunakan pendekatan Limit Equilibrium dengan perangkat lunak Slide2 pada berbagai kombinasi tinggi lereng . Ae20 . , sudut . AAe65A), dan kondisi drainase . ering vs jenu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kenaikan tinggi dan sudut lereng signifikan menurunkan Faktor Keamanan (FoS), sementara kenaikan muka air tanah akibat curah hujan dapat menurunkan FoS hingga 20%. Pada lereng 20 m dengan sudut 65A, kondisi jenuh menghasilkan FoS hanya 0. 73, jauh di bawah ambang aman (FoS Ou1. Berdasarkan matriks risiko, kondisi tersebut termasuk kategori risiko tinggi hingga ekstrem. Penelitian ini merekomendasikan penerapan lereng bertingkat dengan sudut maksimal 45A disertai sistem drainase untuk menjaga stabilitas. Hasil ini diharapkan menjadi acuan praktis dalam pengelolaan tambang batugamping di Polimak agar operasi berjalan aman dan efisien. How to Cite This Article: Irianto. Stabilitas Lereng Tambang Terbuka Menggunakan Metode Limit Equilibrium dan Analisis Risiko untuk Menunjang Perencanaan Infrastruktur Tambang: Jurnal Penelitian Tambang, 8. , 35Ae41. https://doi. org/10. 56139/intan. heterogen, variasi parameter mekanik tanah dan batuan, serta dinamika air tanah yang mempengaruhi tekanan pori. Pada banyak kasus tambang, keterbatasan data geoteknik baik dari jumlah titik bor menyebabkan tingginya ketidakpastian dalam menentukan parameter desain. Ditambah lagi, penggunaan faktor keamanan tunggal sebagai acuan seringkali tidak cukup untuk menggambarkan probabilitas kegagalan secara komprehensif, sehingga pendekatan analisis risiko mulai banyak dikembangkan dan diintegrasikan dalam evaluasi stabilitas lereng tambang moderen. PENDAHULUAN Pertambangan terbuka . pen pit minin. merupakan salah satu metode penambangan yang paling umum diterapkan pada berbagai komoditas, termasuk mineral berharga seperti emas, tembaga, nikel, batubara, hingga intan. Dalam konteks tambang intan maupun tambang lain yang memiliki nilai ekonomis tinggi, penerapan tambang terbuka memberikan keunggulan dalam hal efisiensi penambangan, kapasitas produksi besar, serta kontrol terhadap mutu material yang ditambang. Namun demikian, metode ini juga membawa konsekuensi penting berupa perubahan bentang alam secara drastis, pembukaan lereng-lereng tinggi dengan kemiringan curam, serta potensi instabilitas geoteknik yang dapat berakibat fatal bagi keselamatan operasional tambang maupun infrastruktur penunjangnya. Dalam studi tambang batu kapur di Indonesia, faktor keamanan lereng sangat dipengaruhi oleh keberadaan air tanah yang dapat meningkatkan tekanan pori sehingga menurunkan stabilitas lereng secara Oleh karena itu, penerapan analisis probabilistik menjadi penting untuk memperkirakan peluang kegagalan yang tidak dapat diungkap hanya dengan metode deterministik . Stabilitas lereng pada tambang terbuka merupakan aspek krusial dalam keseluruhan perencanaan dan operasional tambang. Lereng yang tidak stabil tidak hanya berpotensi menyebabkan kerugian material akibat longsoran tanah atau batuan . lope failur. , tetapi juga mengancam keselamatan pekerja, mengganggu kontinuitas operasi tambang, merusak fasilitas penting seperti jalan angkut . auling roa. , kolam pengendapan, serta dapat berdampak luas pada lingkungan sekitar. Kegagalan lereng pada sektor pertambangan telah banyak tercatat dalam studi maupun laporan historis kecelakaan tambang global yang menunjukkan potensi risiko apabila desain lereng tidak dilakukan secara cermat dengan memperhitungkan kompleksitas geoteknik setempat. Kompleksitas stabilitas lereng ini dapat meningkat ketika mempertimbangkan kondisi geologi yang Salah satu metode konvensional yang masih dominan digunakan untuk evaluasi stabilitas lereng adalah metode Limit Equilibrium (LEM) . , seperti metode Bishop Simplified. Janbu. Morgenstern-Price, dan Spencer. Metode-metode ini mempermudah estimasi faktor keamanan (FoS) lereng terhadap keseimbangan gaya dan momen pada potensi bidang geser kritis. Meskipun metode ini secara deterministik memberikan nilai FoS, pendekatan lebih lanjut melalui analisis probabilistik dan risk assessment diperlukan untuk mengakomodasi variabilitas parameter dan potensi kegagalan yang mungkin masih tersembunyi. pendekatan terpadu antara metode limit equilibrium dan elemen hingga dapat memberikan hasil evaluasi stabilitas yang lebih komprehensif, khususnya pada area tambang terbuka dengan kondisi geoteknik yang heterogen . Analisis probabilistik banyak digunakan untuk memperkuat hasil deterministik metode limit variabilitas parameter geoteknik yang tinggi pada tambang terbuka . mengevaluasi stabilitas lereng dan memetakan risiko. Beberapa studi juga menggabungkan pendekatan LEM dengan metode elemen hingga untuk memperoleh hasil evaluasi stabilitas yang lebih robust . Lokasi Penelitian Penelitian dilakukan pada area tambang terbuka batugamping . Golongan C yang berada di Kelurahan Polimak. Distrik Jayapura Selatan. Kota Jayapura. Provinsi Papua. Lokasi ini dipilih berdasarkan intensitas aktivitas penambangan lokal untuk kebutuhan material konstruksi yang tinggi, serta topografi berbukit dengan potensi terbentuknya lereng curam akibat proses ekskavasi. Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini diarahkan untuk melakukan evaluasi stabilitas lereng pada area tambang terbuka dengan pendekatan Penelitian akan mengintegrasikan metode Limit Equilibrium untuk memperoleh faktor keamanan lereng pada berbagai kondisi desain, serta melakukan analisis risiko dengan memetakan probabilitas dan dampak kegagalan lereng terhadap infrastruktur tambang. Dengan demikian, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan rekomendasi teknis yang kredibel, tidak hanya dalam bentuk nilai FoS, tetapi juga dalam bentuk relevansi strategi mitigasi risiko, guna menjamin keberlanjutan operasi tambang serta keselamatan seluruh aktivitas yang bergantung pada stabilitas lereng tersebut. Pengumpulan Data Data Primer Survei Lapangan: C Pengamatan morfologi lereng, dokumentasi visual retakan, tanda-tanda creep, rembesan air, dan tanda deformasi lainnya. C Pengukuran geometri lereng . inggi, sudut kemiringan, panjang kaki leren. menggunakan alat ukur total station atau theodolite sederhana. Secara lebih spesifik, penelitian ini bertujuan untuk: Mengidentifikasi kondisi geologi, geoteknik, dan hidrogeologi yang mempengaruhi stabilitas lereng pada area studi. Melakukan menggunakan metode Limit Equilibrium untuk menentukan faktor keamanan lereng pada berbagai variasi geometri dan kondisi air tanah. Melakukan analisis risiko untuk memetakan probabilitas kegagalan dan konsekuensinya terhadap operasional tambang serta infrastruktur Menyusun rekomendasi teknis berupa batasan desain geometri lereng yang optimal dan tindakan mitigasi risiko yang diperlukan agar stabilitas lereng dapat terjamin sepanjang umur tambang. Pengujian Geoteknik: Pengambilan sampel tanah/batuan pada beberapa titik bor dangkal . and auger/cor. untuk analisis sifat fisik . adar air, berat jeni. Pengujian laboratorium: C Uji kuat geser langsung . irect shear tes. untuk mendapatkan kohesi . dan sudut geser dalam (I). C Uji UCS (Unconfined Compressive Strengt. pada batugamping. Data Sekunder Selain sebagai sumber informasi pendukung, data sekunder dalam penelitian ini digunakan secara terintegrasi untuk memberikan konteks yang lebih kuat terhadap kondisi hidrogeologi dan geoteknik di lokasi studi. C Data Curah Hujan Badan Meteorologi. Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Jayapura dianalisis untuk mengidentifikasi pola musiman dan potensi kejadian hujan ekstrem. Data ini digunakan untuk memperkirakan tingkat kejenuhan lereng serta menentukan skenario kondisi jenuh . ully saturate. pada simulasi FoS. Misalnya, periode puncak hujan pada DesemberAe Maret dikorelasikan dengan potensi kenaikan muka air tanah hingga 50% tinggi lereng, sebagaimana dimodelkan pada analisis stabilitas. C Peta Geologi Lembar Jayapura skala 1:50. digunakan tidak hanya untuk mengenali formasi batuan, tetapi juga untuk memetakan sebaran litologi batugamping dan tanah residu pelapukan Dengan capaian tersebut, penelitian ini diharapkan dapat berkontribusi dalam meningkatkan keandalan desain lereng tambang terbuka, meminimalisir potensi kerugian ekonomi dan lingkungan, serta memperkuat aspek keselamatan kerja pada industri pertambangan di Indonesia, khususnya pada sektor vital seperti penambangan intan maupun mineral bernilai tinggi lainnya. METODE PENELITIAN Pendekatan Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan studi kasus pada area tambang batugamping di Polimak. Kota Jayapura. Penelitian ini bersifat deskriptif-analitis, di mana data geoteknik dikumpulkan dan dianalisis secara kuantitatif untuk . Data ini dikombinasikan dengan hasil pengamatan lapangan sebagai validasi ketebalan lapisan pelapukan dan arah bidang diskontinuitas batuan . C Data Izin Usaha Pertambangan (IUP OP) diinterpretasikan untuk menentukan batas operasi tambang dan area kerja yang dianalisis. Data ini membantu mengidentifikasi zona yang dekat dengan infrastruktur penunjang tambang . auling road, fasilitas pengolaha. , sehingga hasil analisis risiko dapat difokuskan pada area yang memiliki implikasi operasional terbesar. perbaikan sistem drainase, serta pemasangan pemantauan sederhana . rack meter manua. Validasi dan Penyusunan Rekomendasi Hasil analisis stabilitas dan risiko: C Divalidasi dengan pemadanan terhadap kejadian longsoran historis . ika ada data lokal atau wawancara warga setempa. C Menyusun rekomendasi desain akhir lereng yang stabil dengan mempertimbangkan keekonomian Analisis Stabilitas Lereng HASIL DAN PEMBAHASAN Pemodelan Geometri Membuat penampang melintang lereng berdasarkan data lapangan, memuat geometri eksisting . inggi, sudu. dan asumsi kondisi lapisan batuan penutup/tanah residual di atas batugamping. Profil Geologi dan Hidrogeologi Daerah Penelitian Hasil interpretasi peta geologi menunjukkan bahwa lokasi penelitian berada pada satuan batugamping Miosen AkhirAePliosen yang relatif masif, dengan sisipan tipis tanah residu setebal 0,5Ae2 m. Temuan ini sejalan dengan pengamatan lapangan yang mendeteksi adanya retakan vertikal dengan jarak bidang antar-retakan 0,3Ae0,5 m. Analisis Menggunakan Metode Limit Equilibrium Menggunakan software analisis stabilitas lereng . isalnya SLOPE/W atau Slide. dengan metode Bishop Simplified dan Janbu untuk menghitung Faktor Keamanan (FoS) . , . Analisis data curah hujan BMKG Jayapura selama 10 tahun terakhir memperlihatkan curah hujan tahunan rata-rata 3. 200Ae3. 800 mm, dengan puncak curah hujan bulanan >400 mm pada DesemberAeFebruari. Hal ini mengindikasikan tingginya potensi kejenuhan lereng pada musim hujan. Korelasi ini mendukung temuan analisis stabilitas lereng, di mana skenario kondisi jenuh menunjukkan penurunan FoS hingga 20% dibanding kondisi kering. Analisis dilakukan untuk beberapa skenario: C Kondisi kering . ry conditio. tanpa pengaruh air C Kondisi . ully memodelkan kondisi hujan ekstrim atau sistem drainase yang kurang baik. Nilai FoS yang diperoleh dibandingkan dengan standar umum pertambangan (FoS minimum 1. untuk kondisi operasi norma. Data izin tambang (IUP OP) menunjukkan bahwa beberapa lereng aktif berada dalam jarak <50 m dari jalan angkut utama. Ketika hasil analisis risiko diplotkan terhadap peta izin tambang, lereng-lereng dengan FoS <1,2 pada kondisi jenuh berada tepat pada jalur hauling yang vital, sehingga implikasi risiko terhadap kelancaran operasi tambang menjadi Analisis Sensitivitas Dilakukan variasi parameter kohesi dan sudut geser dalam A20% dari nilai rata-rata hasil uji laboratorium untuk melihat pengaruhnya terhadap stabilitas lereng. Analisis Resiko Dengan demikian, integrasi data sekunder dan data primer memperjelas bahwa risiko kelongsoran tidak hanya dipengaruhi oleh geometri dan sifat mekanik lereng, tetapi juga oleh faktor eksternal seperti pola curah hujan tahunan, sebaran litologi, dan lokasi infrastruktur penting dalam area izin tambang. Sebagai semi-kuantitatif memetakan tingkat bahaya: C Identifikasi potensi bahaya: seperti longsor kecil yang dapat menimbun akses hauling, hingga potensi keruntuhan skala besar yang dapat mempengaruhi bangunan atau jalan lingkungan sekitar Polimak. C Estimasi probabilitas dan dampak: menggunakan pendekatan matriks risiko . robability vs consequence matri. untuk mengklasifikasikan risiko menjadi rendah, sedang, atau tinggi. C Rencana mitigasi: jika ditemukan risiko sedang hingga tinggi, disusun rekomendasi seperti penyesuaian geometri lereng . eduksi sudu. Parameter Geoteknik Lereng Parameter geoteknik diperoleh dari hasil uji laboratorium pada sampel tanah penutup dan core batugamping, serta pengamatan lapangan. Parameter Tanah Penutup Parameter tanah penutup dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1. Parameter tanah penutup Parameter Nilai Rata-rata Nilai Rata-rata Kering Jenuh Densitas curah (_bul. Berat jenis (G. Kadar air . Kohesi . Sudut geser dalam (I) 88 ton/mA 05 ton/mA 20 kPa Ae 18 kPa H . (A) Kondisi Kering Jenuh Kering Jenuh Faktor Keamanan (FoS) Berdasarkan tabel 3 digambarkan grafik FoS yang disajikan pada Gambar 1. Parameter Batugamping Parameter batugamping disajikan pada Tabel 2. Tabel 2. Parameter batugamping Parameter Densitas curah (_bul. Berat jenis (G. Kekuatan tekan bebas (UCS) Kohesi . Sudut geser dalam (I) Nilai Ratarata Kering Nilai Ratarata Jenuh ton/mA Ae 52 MPa Ae 320 kPa 300 kPa 55 ton/mA Gambar 1. Grafis FoS kondisi kering dan jenuh Interpretasi Hasil Pengaruh geometri: Nilai FoS menurun signifikan dengan bertambahnya tinggi lereng dan sudut lereng yang semakin curam. Pada tinggi lereng 10 m, kombinasi sudut hingga 65A masih dapat bertahan dengan FoS 1. 28 pada kondisi kering, tetapi menjadi marginal (FoS 1. saat Analisis Stabilitas Lereng Analisis stabilitas lereng dilakukan menggunakan metode Limit Equilibrium dengan software Slide2, pada beberapa variasi geometri lereng, yaitu: C Tinggi lereng (H): 10 m, 15 m, dan 20 m C Sudut lereng (): 45A, 55A, dan 65A C Kondisi drainase: kering dan jenuh . ater table naik hingga setengah tinggi leren. Pengaruh drainase: Kenaikan muka air tanah hingga setengah tinggi lereng mengakibatkan penurunan FoS rata-rata 15Ae 20%, yang menurunkan beberapa kondisi di bawah batas aman (FoS <1. Analisis bertujuan untuk mendapatkan nilai FoS dan menentukan geometri aman sesuai rekomendasi umum (FoS Ou 1. 3 untuk kondisi operas. Rekomendasi awal: Untuk menjamin stabilitas operasi tambang, geometri optimal yang direkomendasikan adalah: C Maksimum H = 15 m dengan = 45A pada kondisi drainase baik (FoS 1. C Jika diperlukan H = 20 m, maka sudut lereng perlu dikurangi O 45A dengan prioritas pengendalian air permukaan dan subpermukaan. Hasil analisis stabilitas lereng yang menunjukkan nilai FoS dapat dilihat pada Tabel 3. Tabel 3. Hasil analisis stabilitas lereng H . (A) Kondisi Kering Kering Kering Jenuh Kering Kering Jenuh Kering Jenuh Kering Faktor Keamanan (FoS) Penampang lereng dengan zona potensi kelongsoran dapat dilihat pada Gambar 2. Polimak. Pendekatan ini penting karena perhitungan FoS pada dasarnya bersifat statik dan deterministik, sehingga belum dapat sepenuhnya merepresentasikan variabilitas alami sifat geoteknik, dinamika air tanah, maupun ketidakpastian kondisi lapangan lainnya. Oleh sebab itu, analisis risiko diterapkan sebagai instrumen bantu untuk menilai tingkat probabilitas terjadinya kegagalan lereng dan besar dampak yang dapat ditimbulkan terhadap operasi tambang maupun infrastruktur penunjang. Dalam konteks ini, dua komponen utama diperhatikan, yaitu: Probabilitas kegagalan . yang menggambarkan seberapa sering kondisi kritis atau marginal dapat terjadi. Penilaiannya didasarkan pada hasil analisis sensitivitas parameter geoteknik, kondisi muka air tanah, serta riwayat kejadian longsoran lokal. Dampak . menunjukkan seberapa besar konsekuensi operasional, ekonomi, dan keselamatan kerja jika kelongsoran benar-benar terjadi. Dampak dibedakan antara longsor kecil . ekedar menutup kaki leren. , longsor sedang . engganggu jalur haulin. , hingga longsor besar . engancam pekerja, alat berat, atau fasilitas pentin. Gambar 2. Zona potensi longsor Implikasi Desain dan Operasional Berdasarkan hasil ini, rekomendasi awal dapat C Untuk H = 15 m, direkomendasikan sudut maksimal O 45A, terutama jika sistem drainase belum optimal, agar diperoleh FoS Ou 1. C Jika diperlukan sudut lebih curam . isalnya untuk alasan stripping ratio tamban. , harus didukung sistem drainase yang efektif . arit permukaan dan subdrai. untuk menjaga kondisi C Pada lereng dengan H = 20 m, sebaiknya dilakukan penurunan sudut menjadi O 45A atau dibuat bertingkat . agar distribusi tegangan menjadi lebih aman. Kedua komponen tersebut kemudian dipetakan ke dalam matriks risiko, yang mengklasifikasikan tingkat risiko menjadi rendah . , sedang . , tinggi . , dan sangat tinggi . Dengan demikian, matriks ini menjadi dasar untuk menentukan prioritas tindakan pengendalian dan mitigasi pada area tambang. Gambar 4 menampilkan visualisasi matriks risiko stabilitas lereng untuk tambang batugamping Golongan C di Polimak, yang telah disesuaikan dengan karakteristik lokal dan hasil analisis stabilitas sebelumnya. Skema rekomendasi desain lereng tambang disajikan pada Gambar 3. Gambar 4. Matrik resiko Gambar 3. Desain lereng rekomendasi KESIMPULAN Untuk melengkapi analisis deterministik melalui perhitungan faktor keamanan (FoS), penelitian ini juga menyusun pemetaan risiko . isk mappin. terhadap potensi kelongsoran lereng tambang di Penelitian ini telah melakukan evaluasi stabilitas lereng pada tambang batugamping Golongan C di Polimak. Kota Jayapura, dengan pendekatan analisis geoteknik menggunakan metode Limit Equilibrium yang didukung perangkat lunak Slide2/SLOPE/W. Analisis dilakukan pada berbagai skenario tinggi lereng . m, 15 m, dan 20 . , variasi sudut lereng . A, 55A, dan 65A), dan dua kondisi hidrogeologi . ering dan jenu. Hasil penelitian menunjukkan Stabilitas lereng sangat sensitif terhadap perubahan geometri dan kondisi muka air tanah. Pada kondisi kering, lereng dengan tinggi 10 m dan sudut 45A memiliki Faktor Keamanan (FoS) 10 yang tergolong sangat stabil, sedangkan lereng 20 m dengan sudut 65A hanya memiliki FoS sekitar 0. dan turun 73 saat jenuh, jauh di bawah standar minimum tambang (FoS Ou1. Kondisi drainase memegang peranan penting. Kenaikan muka air tanah akibat curah hujan meningkatkan tekanan air pori yang secara signifikan menurunkan stabilitas. Lereng dengan FoS semula aman (>1. dapat turun menjadi marginal atau tidak aman (<1. ketika jenuh. Analisis risiko mengklasifikasikan sebagian besar kombinasi geometri tinggi dan sudut curam pada kondisi jenuh ke dalam kategori risiko tinggi hingga sangat tinggi, memerlukan tindakan mitigasi aktif seperti penurunan sudut lereng, penerapan sistem drainase, dan pengaturan geometri bertingkat . Berdasarkan hasil ini, direkomendasikan penerapan desain lereng bertingkat untuk tinggi total lebih dari 15 m, dengan sudut per bench maksimal 45A, disertai sistem drainase di kaki lereng untuk menjaga stabilitas air tanah, sehingga nilai FoS dapat dijaga di atas standar aman sepanjang umur tambang. UCAPAN TERIMA KASIH Penulis menyampaikan terima kasih kepada Universitas Yapis Papua, atas dukungan fasilitas penelitian dan kesempatan yang diberikan untuk melakukan penelitian ini. Penghargaan tertinggi diberikan kepada Laboratorium Teknik Sipil, yang telah menyediakan sarana dan prasarana pengujian, serta kepada para teknisi laboratorium yang membantu selama proses penelitian berlangsung. Dalam kesempatan ini, penulis juga menyampaikan terima kasih kepada rekan-rekan sejawat, mahasiswa, dan mitra kerja sama yang telah membantu dalam pengumpulan data, diskusi, dan memberikan masukan berharga sehingga penelitian ini dapat terselesaikan dengan baik. DAFTAR PUSTAKA