ISSN: 2720-9792 KOMUNIKASI DALAM PENANGGULANGAN BENCANA OLEH BADAN NASIONAL PENAGGULANGAN BENCANA (BNPB) MELALUI PENDEKATAN BUDAYA (Studi Kasus pada Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dalam Meningkatkan Pemahaman Tentang Penanggulangan Bencana melalui Pertunjukan Wayang Kulit di Kabupaten Purworej. Oleh: Murliana 4992@gmail. Nurul Fauziah. Sos. Kom astrid@gmail. Mia Meilina. IP. Comm meilina@dsn. ABSTRAK Komunikasi dalam Penanggulangan Bencana oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melalui Pendekatan Budaya (Studi Kasus pada Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dalam Meningkatkan Pemahaman Tentang Penanggulangan Bencana melalui Pertunjukan Wayang Kulit di Kabupaten Purworej. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perlunya pertunjukan wayang kulit sebagai pendekatan budaya yang dilakukan oleh BNPB dan untuk mengetahui strategi penyampaian pesan penanggulangan bencana oleh BNPB melalui pertunjukan wayang kulit dalam meningkatkan pemahaman tentang penanggulangan bencana kepada masyarakat di Kabupaten Purworejo. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi Teknik pengumpulan data diperoleh dengan wawancara mendalam, observasi, dan Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertunjukan wayang kulit sebagai pendekatan budaya perlu dilakukan dalam komunikasi penanggulangan bencana karena pendekatan budaya dapat diterima dengan baik dan dapat meningkatkan pemahaman masyarakat tentang penanggulangan bencana di Kabupaten Puworejo. Hal tersebut dipengaruhi karena adanya persepsi kepercayaan, nilai, dan sikap yang dianut oleh masyarakat di Kabupaten Purworejo terhadap wayang kulit yang dianggap sebagai gambaran kehidupan manusia. Dalam meningkatkan pemahaman tentang penanggulangan bencana. BNPB menggunakan strategi komunikasi melalui pertunjukan wayang kulit berdasarkan lima unsur komunikasi di antaranya yaitu: komunikator yang memiliki kredibilitas di Kabupaten Purworejo, pesan yang disampaikan dibuat jelas, ringkas, menarik dan meyakinkan, saluran yang digunakan adalah wayang kulit, komunikan yang dituju adalah semua kalangan, dan efektivitas yang ditimbulkan dari pendekatan budaya yaitu adanya pengertian, kesenangan, dan tindakan. Kata Kunci: Pendekatan Budaya. Komunikasi. Penanggulangan Bencana. BNPB . Jurnal Daring Mahasiswa Komunikasi Komunikasi dalam Penanggulangan . Murliana Diterima: 15 Agustus 2019. Direvisi: 10 September 2019. Diterbitkan: 30 Juli 2019 ABSTRACT The purpose of this research is to know the need of shadow puppets performances as cultural approach which is done by BNPB and to know the strategy of delivering the message of disaster management by BNPB through shadow puppets show in improving understanding about disaster management to community in Purworejo District. This research uses qualitative approach with case The techniques of collecting data were obtained by in-depth interviews, observation, and The results showed that wayang kulit performances as a cultural approach needed to be carried out in disaster management communication because cultural approaches could be well received and could improve community understanding of disaster management in Puworejo District. This is influenced by perceptions of beliefs, values, and attitudes adopted by the people in Purworejo District towards shadow puppets which is considered as an illustration of human life. In improving understanding of disaster management. BNPB uses a communication strategy through shadow puppet shows based on five elements of communication, namely: communicators who have credibility in Purworejo District, the message delivered is clear, concise, interesting and convincing, the channel used is shadow puppets, the intended communicant is all circles, and the effectiveness arising from the cultural approach is the understanding, pleasure, and action. Keywords: cultural approach, communication, disaster management. BNPB PENDAHULUAN Badan Nasional Penanggulangan Bencana atau disingkat BNPB adalah instansi pemerintah yang bertanggungjawab dalam penanggulangan bencana di Indonesia. Salah satu tugas BNPB adalah melakukan kegiatan penyebaran informasi bencana sebagai upaya memberikan pemahaman dan kesadaran kepada masyarakat agar terhindar dari ancaman bencana yang dapat terjadi kapan saja. Untuk memberikan pemahaman kepada masyaraka. BNPB melakukan pendekatan yang disesuaikan dengan situasi budaya suatu daerah tertentu. Pendekatan budaya dilakukan agar informasi bencana dapat diterima baik oleh masyarakat yang disesuaikan dengan kebiasaan, ketertarikan, norma-norma, dan kepercayaan yang mereka yakini. Tujuannya agar pemahaman dan kesadaran bencana menjadi budaya dalam kehidupan sehari-hari, sehingga dapat menekan risiko dan dampak bencana yang ditimbulkan seperti hilangnya nyawa, kerusakan sarana dan prasarana, serta kerugian harta Karena bersifat budaya, maka saluran yang dipilih yaitu menggunakan media komunikasi tradisional. Menurut Rachmadi dalam (Istiyanto, 2013, h . , media komunikasi tradisional yang sering disederhanakan dengan istilah media rakyat adalah komunikasi antar manusia yang dilakukan dengan menggunakan lambang-lambang seperti bunyi-bunyian, gerak isyarat, seni visual dan pertunjukan rakyat. Menurut Oepen media rakyat digambarkan sebagai media yang murah, mudah, bersifat sederajat, dialogis, sesuai dan sah dari segi budaya, bersifat setempat, lentur, bersifat menghibur dan sekaligus memasyarakat, dan sangat dipercaya oleh kalangan masyarakat pedesaan yang masih tradisional kehidupannya (Istiyanto, 2013, h . Pertunjukan wayang merupakan salah satu media komunikasi tradisional yang digunakan BNPB dalam pendekatan budaya kepada masyarakat. Pertunjukan wayang merupakan media penyampaian informasi yang telah digunakan sejak masa kerajaan Demak sebagai sarana hiburan dan sarana dakwah penyebaran agama Islam. Cerita wayang yang sarat inti ajaran aliran kepercayaan tersebut menonjol pada pertunjukan wayang sampai . Jurnal Daring Mahasiswa Komunikasi Komunikasi dalam Penanggulangan . Murliana dengan tahun 1970-an. Setelah tahun itu cerita wayang lebih banyak dipergunakan sebagai corong pesan penanggap atau sebagai corong berbagai pesan pembangunan oleh pemerintah (Nurgiyantoro, 2011, h . Selain letak geografisnya yang berada pada wilayah rawan bencana, alasan BNPB melakukan pendekatan budaya di Kabupaten Purworejo yaitu karena daerah tersebut berpenduduk mayoritas suku Jawa yang dikenal mampu mempertahankan tradisi dan Banyak sekali tradisi-tradisi yang berawal dari leluhur Jawa yang masih dilestarikan dan dilakukan sampai saat ini. Beberapa kesenian daerah yang masih dilestarikan oleh masyarakat di Kabupaten Purworejo salah satunya yaitu pertunjukan wayang kulit. Wayang kulit adalah seni tradisional Indonesia, yang terutama berkembang di Jawa dan di sebelah timur semenanjung Malaysia seperti di Kelantan dan Terengganu. Wayang kulit dimainkan oleh dalang yang juga menjadi narator dialog-dialog tokoh-tokoh wayang, dengan diiringi oleh musik gamelan yang dimainkan sekelompok niyaga, dan tembang yang dinyanyikan oleh para pesinden (RaAouf, 2010, h . Sebelumnya. BNPB telah melakukan pendekatan secara modern kepada masyarakat di antaranya melalui penggunaan televisi, billboard, koran, radio, media sosial, dan website, serta melalui pendekatan pendidikan seperti pameran, mengajar di sekolah-sekolah dasar, diorama kebencanaan, dan lomba kreativitas di bidang kebencanaan. Namun dari pendekatan tersebut ada yang belum menjadi perhatian atau berpengaruh bagi mereka. Berdasarkan evaluasi dan kebijakan dari pemangku kepentingan, pemasangan billboard yang digunakan BNPB akhirnya dihentikan karena pemasangannya dianggap kurang strategis dan hanya dipasang di wilayah perkotaan. Sedangkan masyarakat rentan terhadap bencana berada pada wilayah pelosok atau pesisir laut yang masih sulit mengakses informasi bencana. Berdasarkan uraian di atas, penulis ingin melakukan penelitian pada pertunjukan wayang kulit yang telah dilaksanakan oleh BNPB pada tanggal 14 Oktober 2017 sebagai pendekatan budaya dalam meningkatkan pemahaman tentang penanggulangan bencana di Kabupaten Purworejo. Dengan demikian, penulis melakukan penelitian yang berjudul AuKomunikasi dalam Penanggulangan Bencana oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melalui Pendekatan Budaya (Studi Kasus pada Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dalam Meningkatkan Pemahaman Penanggulangan Bencana melalui Pertunjukan Wayang Kulit di Kabupaten Purworej. Ay. Adapun rumusan msalah dalam penelitian ini yakni . Mengapa pertunjukan wayang kulit sebagai pendekatan budaya perlu dilakukan oleh BNPB dalam meningkatkan pemahaman tentang penanggulangan bencana kepada masyarakat di Kabupaten Purworejo?. Bagaimana strategi komunikasi dalam penanggulangan bencana yang dilakukan oleh BNPB melalui pertunjukan wayang kulit dalam meningkatkan pemahaman tentang penanggulangan bencana kepada masyarakat di Kabupaten Purworejo?. TINJAUAN PUSTAKA Komunikasi Menurut Effendy, komunikasi adalah proses penyimpanan pikiran atau perasaan oleh komunikator kepada komunikan (Suryanto, 2015, h . Stuart juga mendefinisikan komunikasi sebagai kata benda . , communication, berarti: . pertukaran simbol, pesan, dan informasi. proses pertukaran antar individu melalui simbol yang sama. seni untuk mengekspresikan gagasan. ilmu pengetahuan tentang pengiriman informasi (Suryanto, 2015, h . Jurnal Daring Mahasiswa Komunikasi Komunikasi dalam Penanggulangan . Murliana Sedangkan menurut Liliweri, komunikasi adalah tindakan manusia atau aktivitas manusia untuk menyampaikan sesuatu. Komunikasi juga merupakan suatu diskusi, perlakuan, diskursus, pementasan drama, dramatisasi, seni drama, teater, mail, layanan surat melalui pos, kantor pos, saluran, garis penghubung, koneksi antara komunikasi dan kegiatan transmisi pesan (Suryanto, 2015, h . Strategi Komunikasi Teori strategi komunikasi yang memadai dikemukakan oleh Harold D. Laswell, yaitu cara terbaik untuk menerangkan kegiatan komunikasi adalah menjawab pertanyaan. AuWho Says What in Which Channel to Whom with What Effect?Ay (Tatang, 2016, h . Berikut adalah penjelasan mengenai formula yang dikemukakan oleh Lasswell: Who (Komunikato. Komunikator adalah orang yang mengirimkan dan menjadi sumber informasi dalam segala situasi secara sengaja maupun tidak sengaja. Says What (Pesa. Pesan adalah sesuatu yang dikirimkan atau yang disampaikan, secara langsung ataupun tidak langsung dan dapat bersifat verbal ataupun nonverbal. In Which Channel (Media yang Digunaka. Media adalah sarana yang digunakan untuk menyalurkan pesan-pesan yang disampaikan oleh komunikator kepada To Whom (Komunika. Komunikan adalah individu atau kelompok tertentu yang merupakan sasaran pengiriman seseorang yang dalam proses komunikasi ini sebagai penerima pesan. With What Effect (Efe. Efek adalah respons, tanggapan atau reaksi komunikasi ketika menerima pesan dari komunikator sehingga efek dapat dikatakan sebagai akibat dari proses komunikasi. Kebudayaan Menurut Koentjaraningrat . 5, h . kata AukebudayaanAy berasal dari bahasa Sanskerta buddhayah, yaitu bentuk jamak dari buddhi yang berarti AubudiAy atau AuakalAy. Dengan demikian ke-budaya-an dapat diartikan: Auhal-hal yang bersangkutan dengan akalAy. Menurut ilmu antropologi dalam Koentjaraningrat . 5, h . AukebudayaanAy adalah: keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar. Menurut Edward B. Taylor dalam (Pujileksono, 2015, h . mendefinisikan kebudayaan sebagai Aukeseluruhan yang kompleks meliputi pengetahuan, kepercayaan, kesenian, hukum, moral, adat dan berbagai kemampuan serta kebiasaan yang diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat. Ay Konsep Persepsi dan Budaya Faktor-faktor internal bukan saja mempengaruhi atensi sebagai salah satu faktor aspek persepsi, tetapi juga mempengaruhi persepsi kita secara keseluruhan, terutama penafsiran atas suatu rangsangan. Agama, ideologi, tingkat intelektualitas, tingkat ekonomi, pekerjaan, dan cita rasa sebagai faktor-faktor internal jelas mempengaruhi persepsi seseorang terhadap realitas. Dengan demikian, persepsi itu terikat oleh budaya . ulture-boun. Menurut Larry A. Samovar dan Richard E. Porter dalam (Mulyana, 2015, . mengemukakan ada enam unsur budaya yang mempengaruhi persepsi kita ketika berkomunikasi dengan orang dari budaya lain, yakni: . Kepercayaan . , nilai . , dan sikap . Kepercayaan adalah anggapan subjektif bahwa suatu objek atau . Jurnal Daring Mahasiswa Komunikasi Komunikasi dalam Penanggulangan . Murliana peristiwa punya ciri atau nilai tertentu, dengan atau tanpa bukti. Nilai adalah komponen evaluatif dari kepercayaan kita, mencakup: kegunaan, kebaikan, estetika, dan kepuasan. Pandangan dunia . Pandangan dunia adalah orientasi budaya terhadap Tuhan, kehidupan, kematian, alam semesta, kebenaran, materi . , dan isu-isu filosofis lainnya yang berkaitan dengan kehidupan. Organisasi sosial . ocial organizatio. Tabiat manusia . uman natur. Orientasi kegiatan . ctivity orientatio. Persepsi tentang diri dan orang lain . erception of self and other. Penanggulangan Bencana Penanggulangan bencana adalah serangkaian kegiatan baik sebelum, saat dan sesudah terjadi bencana yang dilakukan untuk mencegah, mengurangi, menghindari dan memulihkan diri dari dampak bencana. Secara umum kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam penanggulangan bencana adalah sebagai berikut: pencegahan, pengurangan dampak bahaya, kesiapsiagaan, tanggap darurat, pemulihan . ehabilitasi dan rekonstruks. , dan pembangunan berkelanjutan yang mengurangi risiko bencana (Yayasan IDEP, 2007, h . Indikator Pemahaman Masyarakat Terhadap Penanggulangan Bencana Menurut Dodon dalam jurnal yang ditulis oleh Devi Erlia dkk menjelaskan beberapa indikator pemahaman masyarakat terhadap penanggulangan bencana yang dikemukakan oleh ISDR. Sutton dan Tierney, dan Perry dan Lindell, umumnya mencakup beberapa hal yang sama yaitu: pengetahuan dan sikap terhadap bencana, rencana tanggap darurat, sistem peringatan dini, sumber daya mendukung dan modal sosial. METODOLOGI PENELITIAN Paradigma yang penulis gunakan pada penelitian ini adalah paradigma Postpositivisme memandang kenyataan itu ada, tetapi dengan keterbatasan manusia, maka kenyataan itu tidak dapat dimengerti dengan sempurna. Untuk aksioma kelompok postpositivisme sudah mulai reaktif, pengamat di sini berperan sebagai mediator antara sikap ilmiah dan objek penelitian, di sini nilai, etika dan pilihan moral berada dalam arus diskusi (Guba & Lincoln, 1994, h . Dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Dalam penelitian ini instrumen yang digunakan yaitu observasi, wawancara, dan Penulis melakukan pengamatan observasi non-partisipan dalam pengumpulan data dan informasi ini tanpa melibatkan diri, atau tidak menjadi bagian dari lingkungan sosial/organisasi yang diamati. Jenis wawancara yang penulis gunakan pada penelitian ini adalah wawancara mendalam . epth intervie. Dokumentasi yang penulis butuhkan dalam penelitian ini berupa gambar-gambar dalam kegiatan pertunjukan wayang kulit. Proses analisis data didasarkan pada penyederhanaan dan interpretasi data yang dilaksanakan sebelum, selama dan sesudah proses pengumpulan data. Proses ini terdiri dari tiga sub proses yang saling berkaitan yaitu data reduction, data display, dan conclusion drawing/verification. Penulis menggunakan uji validitas data dengan teknik triangulasi data, yaitu dengan membandingkan data hasil pengamatan dengan hasil wawancara kemudian membandingkan hasil wawancara dengan isi suatu dokumen yang berkaitan. Setelah itu penulis menggunakan pendapat ahli yang berkaitan untuk memperkuat keabsahan data dalam penelitian ini. Penulis menggunakan dua ahli yaitu dari ahli komunikasi dan ahli bencana sebagai berikut: . Dr. Ahmad Mulyana sebagai ahli komunikasi dari Universitas Mercu Buana dan . Lilik Kurniawan sebagai ahli bencana dari Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI). Jurnal Daring Mahasiswa Komunikasi Komunikasi dalam Penanggulangan . Murliana HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertunjukan wayang kulit sebagai pendekatan budaya perlu dilakukan dalam komunikasi penanggulangan bencana karena pendekatan budaya dapat diterima dengan baik dan dapat meningkatkan pemahaman masyarakat tentang penanggulangan bencana di Kabupaten Puworejo. Budaya dan komunikasi memiliki hubungan yang saling mempengaruhi satu sama lain. Menurut Osgood, interpretasi suatu pesan akan terbentuk dari pola pikir seseorang melalui kebiasaannya, sehingga semakin sama latar belakang budaya antara komunikator dan komunikan, komunikasi semakin efektif (Suryanto, 2015, h . Melalui pendekatan budaya yang sama. BNPB melakukan komunikasi dengan masyarakat di Kabupaten Purworejo dalam meningkatkan pemahaman tentang penanggulangan bencana. Pemahaman masyarakat tentang penanggulangan bencana di Kabupaten Purworejo dinilai oleh BNPB masih sangat kurang. Meski sebenarnya sudah ada pemahaman, namun jika tidak ditingkatkan dengan keikutsertaannya dalam kegiatan sosialisasi maka pemahaman yang ada tidak akan menjadi budaya sadar bencana pada diri masyarakat. Untuk meningkatkan pemahaman tentang penanggulangan bencana di Kabupaten Purworejo. BNPB kemudian menggunakan pendekatan budaya sebagai strategi komunikasinya. Budaya yang dipilih tentu disesuaikan dengan minat dan kebutuhan masyarakat di Kabupaten Purworejo, salah satunya yaitu pertunjukan wayang kulit. Pertunjukan wayang kulit diselenggarakan di Alun-Alun Kutoarjo. Kabupaten Purworejo pada tanggal 14 Oktober 2017. Pertunjukan wayang kulit diselenggarakan selama semalam suntuk mulai dari pukul 21. 00 hingga dini Dihadiri oleh ribuan masyarakat dan beberapa pejabat daerah, pertunjukan wayang kulit tersebut sukses diselenggarakan berkat kehadiran dalang Ki Warseno Slank sebagai pengisi Minat masyarakat di Kabupaten Purworejo terhadap wayang kulit dinilai masih cukup tinggi. Meskipun banyak kebudayaan lain yang bisa dijadikan media komunikasi, namun keberadaan wayang kulit begitu banyak diminati oleh masyarakat di sekitar pulau Jawa. Terbukti dengan begitu banyaknya masyarakat yang hadir memadati Alun-Alun Kutoarjo meski masyarakat harus menyaksikan pertunjukan wayang kulit selama semalam Menurut Larry A. Samovar dan Richard E. Porter, ada unsur budaya yang mempengaruhi persepsi kita ketika berkomunikasi dengan orang dari budaya lain, yakni kepercayaan, nilai, dan sikap (Mulyana, 2015, h . Masyarakat Jawa cenderung menggunakan wayang kulit sebagai pedoman hidup mereka, sehingga keberadaan wayang kulit begitu berperan penting dalam pembentukan karakter masyarakat Jawa. Setelah pertunjukan wayang kulit selesai dilaksanakan, terdapat perbandingan angka korban bencana sebelum dan setelah dilaksanakan pendekatan budaya. Berikut tabel perbandingannya: Tabel 4. Perbandingan Jumlah Korban Bencana di Kabupaten Purworejo Tahun 2016 dan 2017 Korban . Rumah (Uni. Jumlah Meninggal Menderita Rusak Rusak Rusak No Waktu Kejadian & Hilang Berat Sedang Ringan Mengungsi Jumlah Sumber: http://bnpb. cloud/dibi/tabel3 diakses 14 Januari 2018 pukul 9. 00 WIB Jurnal Daring Mahasiswa Komunikasi Komunikasi dalam Penanggulangan . Murliana Apabila penulis merujuk pada data di atas, maka penulis menyimpulkan bahwa pertunjukan wayang kulit yang digunakan oleh BNPB sebagai media pendekatan budaya dapat diterima dengan baik oleh masyarakat di Kabupaten Purworejo. Adanya penurunan pada angka korban jiwa dan kerusakan sarana dan prasarana secara signifikan membuat pendekatan budaya sebagai upaya penanggulangan bencana yang dilakukan oleh BNPB bisa dikatakan berhasil. Keberhasilan pendekatan budaya yang dilakukan oleh BNPB tentu berdasarkan bagaimana penyusunan strategi komunikasi yang dilakukan oleh BNPB dalam melakukan pendekatan budaya. Penulis kemudian menggunakan model teori Lasswell. Lasswell menyatakan bahwa cara terbaik untuk menerangkan kegiatan komunikasi adalah menjawab pertanyaan. AuWho Says What in Which Channel to Whom with What Effect?Ay (Tatang, 2016, h . Salah satu hal yang mempengaruhi efektivitas komunikasi yang dilakukan BNPB dengan masyarakat adalah bagaimana kemampuan komunikasi yang dimiliki oleh Dalam pembahasan ini, berdasarkan hasil pengumpulan data melalui wawancara mendalam dengan para informan penelitian, dalang Ki Warseno Slank berperan sebagai komunikator dalam menyampaikan pesan-pesan penanggulangan bencana kepada masyarakat di Kabupaten Purworejo. Dalang Ki Warseno Slank melakukan interaksi dengan masyarakat melalui candaan-candaan dan menyapa masyarakat saat mereka hadir di lokasi Dalang Ki Warseno Slank juga memiliki kesamaan minat dan budaya dengan masyarakat di Kabupaten Purworejo, yaitu sama-sama memiliki minat terhadap wayang Selain itu, kredibilitas dalang Ki Warseno Slank yang dikenal luas oleh masyarakat di Kabupaten Purworejo menjadikan penyampaian pesan-pesan penanggulangan bencana lebih mudah diterima oleh masyarakat. Pesan atau informasi dalam ilmu komunikasi adalah isi atau maksud yang akan disampaikan oleh satu pihak kepada pihak lain. Komunikasi menjadi efektif apabila isi pesan mengandung sesuatu yang berarti dan penting untuk diketahui oleh komunikan. Masyarakat Kabupaten Purworejo merupakan sasaran komunikan yang tinggal di kawasan rawan bencana alam, sehingga pesan yang harus disampaikan oleh BNPB berisi tentang upaya-upaya penanggulangan bencana yang harus dilakukan agar masyarakat terhindar dari Sesuai dengan hasil yang penulis dapatkan di lapangan, dalang Ki Warseno Slank menyampaikan pesan-pesan penanggulangan bencana dengan mengemasnya dalam bentuk candaan sehingga terkesan santai namun tetap serius. Sebagai komunikator, dalang menyampaikan pesan penanggulangan bencana kepada komunikan secara jelas, ringkas, menarik, dan meyakinkan. Hal ini terlihat dari penuturan para informan yang mengetahui isi pesan yang disampaikan oleh komunikator berupa informasi dan himbauan yang disampaikan dengan jelas, ringkas, dan menarik karena disisipkan dengan lawakan-lawakan sehingga penonton bisa lebih santai dan mudah menerima pesan. Jika dilihat dari jenisnya, pertunjukan wayang kulit termasuk ke dalam media berjenis audio visual. Menurut Moh. Ali Aziz media audio visual merupakan gabungan antara media audio dan media visual. Media ini dapat dilihat dan didengar sekaligus oleh penonton dan tingkat efektivitasnya juga jauh lebih tinggi dari media audio dan media visual (Tatang, 2016, . Jurnal Daring Mahasiswa Komunikasi Komunikasi dalam Penanggulangan . Murliana Penggunaan media komunikasi wayang kulit sangat membantu masyarakat di Kabupaten Purworejo dalam memahami pesan-pesan penanggulangan bencana. Pertunjukan wayang kulit juga dapat digunakan untuk memberikan pemahaman bencana kepada orang-orang tua yang masih sulit menerima informasi dari pemerintah. Mereka cenderung menggunakan titen . anda-tanda ala. dalam mengenali gejala-gejala alam apabila akan terjadi bencana. Komunikasi akan berhasil baik jika pesan yang disampaikan sesuai dengan pengetahuan dan lingkup pengalaman komunikan. Meski tingkat pendidikan di Kabupaten Purworejo didominasi oleh lulusan SMP yaitu 59,83% (BPS Provinsi Jawa Tengah, 2. dari jumlah penduduknya, jika penulis merujuk pada konsep yang dikemukakan oleh Suryanto bahwa faktor penyebab keberhasilan komunikasi harus memperhatikan kecakapan berkomunikasi, terutama pada kecakapan membaca dan mendengar . 5, h . , maka penulis berkesimpulan bahwa pada tingkat pendidikan tersebut masyarakat tentu sudah memiliki kecakapan untuk membaca dan mendengar terhadap pesan yang disampaikan oleh orang lain. Terutama jika pesan yang disampaikan dikemas dalam bentuk yang sederhana, ringkas, dan menarik, maka pesan yang disampaikan akan lebih mudah diterima oleh masyarakat di Kabupaten Purworejo. Pendekatan budaya melalui pertunjukan wayang kulit menghasilkan tanda-tanda komunikasi efektif yang dirasakan oleh masyarakat di Kabupaten Purworejo, di antaranya yaitu adalah adanya pengertian, kesenangan, dan tindakan. Pertunjukan wayang kulit menimbulkan rasa pengertian yaitu masyarakat mengetahui informasi atau pesan-pesan yang disampaikan oleh dalang, terutama pesan mengenai penanggulangan bencana. Selanjutnya adalah tanda-tanda adanya kesenangan yaitu masyarakat di Kabupaten Purworejo merasa senang bisa menyaksikan pertunjukan wayang kulit karena dalam acara tersebut terdapat acara limbukan yang diisi dengan lawakan, nyanyian, dan masyarakat bisa menitipkan salam kepada kerabat dan teman-teman yang juga hadir menyaksikan. Selain itu, tanda-tanda yang timbul dari komunikasi yang efektif adalah adanya tindakan. Menimbulkan tindakan nyata memang indikator efektivitas yang paling penting. Untuk menimbulkan tindakan, terlebih dahulu harus berhasil menanamkan pengertian, membentuk, dan mengubah sikap, atau menumbuhkan hubungan yang baik. Setelah adanya pengertian dan kesenangan, masyarakat di Kabupaten Purworejo ingin menerapkan pesanpesan yang diterimanya melalui pertunjukan wayang kulit dalam bentuk tindakan. Seperti ingin menerapkan upaya penanggulangan bencana dalam kehidupan sehari-hari dengan keluarga dan teman-teman sekitar. KESIMPULAN Kesimpulan yang dapat ditarik dalam penelitian ini antara lain: Pertunjukan wayang kulit sebagai pendekatan budaya perlu dilakukan dalam komunikasi penanggulangan bencana karena pendekatan budaya dapat diterima dengan baik dan dapat meningkatkan pemahaman masyarakat tentang penanggulangan bencana di Kabupaten Puworejo. Hal tersebut dipengaruhi karena adanya persepsi kepercayaan, nilai, dan sikap yang dianut oleh masyarakat di Kabupaten Purworejo terhadap wayang kulit yang dianggap sebagai gambaran kehidupan manusia. Jurnal Daring Mahasiswa Komunikasi Komunikasi dalam Penanggulangan . Murliana Strategi komunikasi yang dilakukan oleh BNPB dalam meningkatkan pemahaman tentang penanggulangan bencana melalui pertunjukan wayang kulit berdasarkan lima unsur komunikasi yaitu: Komunikator yang memiliki kredibilitas di Kabupaten Purworejo. Pesan yang disampaikan dibuat jelas, ringkas, menarik dan meyakinkan. Saluran yang digunakan adalah wayang kulit. Komunikan yang dituju adalah semua kalangan. Efektivitas yang ditimbulkan dari pertunjukan wayang kulit yaitu adanya pengertian, kesenangan, dan tindakan. DAFTAR PUSTAKA